Saya dan Asa

Rana Ida Sugatri
Karya Rana Ida Sugatri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Juni 2017
Saya dan Asa

"Tulislah rencanamu dengan pensil, lalu berikan penghapusnya kepada Allah. Biarkan Ia menghapus bagian-bagian yang salah dan menggantikannya dengan skenarioNya yang jauh lebih indah," Dewi Nur Aisyah

Saat menganalisis tulisan saya, seorang grafolog mengatakan bahwa saya adalah seorang good planner, namun sedikit malas dan tidak jarang lupa. Ya, ya... Saya akui kelemahan saya itu. Namun benarkah saya seorang good planner?

Sejak SMP, memang saya sudah terbiasa mengatur jadwal saya secara rinci, menulis tugas sekolah yang harus diselesaikan, mengikuti jadwal ekstrakulikuler, dan tentu mensugesti cita-cita saya (belum secara tertulis). Bangku SMA, masih dengan kebiasaan yang sama namun ditambah dengan menuliskan 100 cita-cita (hasil mengikuti pelatihan remaja pada saat itu). Ya, ritme kegiatan masih sama tapi mentalnya yang berbeda. 

Disaat saya telah menuliskan cita-cita itu, perasaan tidak percaya diri datang dan pada akhirnya hingga tiga jam yang lalu perasaan minder itu terus memiliki saya.

Kenapa?

Saya belum siap menghadapi kegagalan. Ya, itu jawabannya. Saya belum bahagia, karena patokan kesuksesan saya masih mengacu pada orang lain.

Beberapa hari yang lalu, setelah Karya Dewi Nur Aisyah berada tepat di tangan saya, pada saat itulah saya mulai me-recovery hidup dan cita-cita. 

Saya beranikan diri untuk kembali menulis cita-cita dan menyerahkannya pada Allah. Saya yakin bahwa manusia berhak merencanakan dan wajib menerima apapun yang menjadi keputusan Allah. 

Kenapa?

Karena Allah Maha Baik kepada makhluknya.

Jika saya boleh menuliskan kegagalan demi kegagalan yang pernah saya lewati hingga titik dimana saya merasa bukan siapa-siapa :

Saat SMP, akademik saya terus meningkat dari peringat tujuh, enam, tiga besar, hingga bertengger di juara umum ketiga untuk tiga semester berturut-turut. Mengikuti kompetisi hingga memperoleh juara satu tingkat kota dan menjadi siswa SMA di sekolah impian saya.

Saat SMA, tahun pertama asik dengan peringat pertama dan juara umum pertama di kelas dan sekolah. Mengikuti organisasi dan diamanahkan menjadi salah satu petinggi di sana. Namun masuk tahun kedua dan ketiga, peringkat turun namun tetap dalam tiga atau lima besar. Sayangnya saya tidak berhasil menjadi mahasiswa S1 di kampus impian. Itulah catatan kegagalan saya yang sulit saya hadapi.

Masa-masa kuliah, tingkat pertama IPS 3.7 sd 4.0 masih mampu diraih. Setelah itu, tantangan perkuliahan semakin besar ditambah jam kerja di luar aktivitas kampus. Alhasil, 3.0 saja sudah alhamdulillah. Pernah mendapatkan nilai E untuk mata kuliah Penentuan Struktur Senyawa Kimia dan memaksa saya mengambil jam asisten laboratorium untuk mengikuti ujian khusus (untuk membayar biaya ujian khusus yang nilainya dua kali lipat per-sks).

Hingga beberapa detik yang lalu, saya terus berusaha untuk mengingat-ingat nikmat apa yang Allah berikan disamping 'kegagalan' menurut saya.

...

Setiap takdir Allah itu baik. Mulai detik ini saya akan beranikan diri menulis cita-cita, menghadapi kegagalan lalu bangkit, dan menyerahkan segala sesuatunya pada Allah. Saya percaya bahwa Allah Maha Baik.

Cimahi, 23 Ramadhan 1438 H/ 18 Juni 2017

  • view 77