Makna Menantimu

Rana Ida Sugatri
Karya Rana Ida Sugatri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Juni 2017
Makna Menantimu

Lama aku menunggu, kunjunganmu yang tak kunjung datang. Terdengar suara yang sesekali lambat laun dan keras, aku menoleh ke pintu dan terkesiap. Tergeletak sesuatu yang sepertinya nampak tak asing. Ini yang selalu orang-orang lakukan. Mengundang teman-temannya dihari bahagianya. Dan sekarang adalah giliranku untuk diundang olehnya.

Dan barulah sekarang aku sadar, cinta bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Menunggu bukanlah hanya sekedar menunggu tanpa ikhtiar yang jelas. Aku lupa, saat itu aku tidak berteman dengan doa, aku pun tidak berteman dengan rasa sabar, terlebih… dengan rasa ikhlas. Ikhlas untuk menerima setiap takdir dari-Nya.

Kini, aku telah siap.Panji Ramdana

Pernahkah kamu merasakan perasaan ini? Saat kau sadar bahwa setiap untaian doa yang kau layangkan padaNya berakhir pada ketentuan bahwa dia hadir bukan untukmu. Sebuah perasaan yang mulai tumbuh subur bertahun-tahun lamanya, namun beberapa bulan ini baru kau sadar bahwa dia hadir hanya sebagai tamu.

Benteng yang telah kau persiapkan sejak pertama kali kau memutuskan untuk mendoakannya, katakanlah hampir genap tujuh tahun, tiba-tiba runtuh atas ketidakberdayaanmu menerima takdir ini. Percuma, bahkan kau tidak kuat.

Namun pada saat yang sama kau pun berucap terima kasih karena kau memilih untuk mendoakan orang yang baik, sangat baik, bahkan karena tidak tahu jenis keburukan apa yang dia miliki, kau segera memutuskan untuk menyukainya, meski kini kau sadar bahwa keputusan itu tidak tepat.

Kau jatuh hampir ke dasar jurang. Namun di saat yang sama, kau merasa terbang melayang, bebas, tanpa beban. Kenapa? Kau sadar bahwa tindakanmu selama ini salah? Tidak, kau tidak salah, meski tidak secara presisi benar. Tidak ada salahnya mendoakan dia. Tak perlu menyesal, karena doa yang baik akan berbalik pada hati yang baik.

Perasaan ingin menangis, berteriak, terus berkecamuk di alam pikiranmu. Aku tahu, kau tak mampu jika harus terus begitu. Maka bangkitlah. Meski tak sama seperti kamu yang dulu, tapi aku yakin bahwa kamu bahkan lebih baik.

 Cimahi, 7 Ramadhan 1438 H/ 1 Juni 2017

(Sumber gambar dalam tulisan: https://m.facebook.com/illust.aeppol/)

  • view 63