NONA

Rana Ida Sugatri
Karya Rana Ida Sugatri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 April 2016
NONA

Aku kira dia tidak akan pernah datang. Aku kira dia tidak pernah tahu. Aku kira dia hanya kenangan dimasa lalu.
 
Pagi itu seperti pagi biasanya. Hujan rintik datang beberapa menit sekali. Menurutku hujan musim ini sangat ramah pada para pengguna jalan. Setiap orang bisa menikmati hujan dipagi hari. Lima menit ia turun di kotaku, tidak terlalu deras namun tidak bisa dikatakan cukup ringan. Lima menit ia reda. Memberikan kami kesempatan untuk menikmati pesona rintik hujan sebelum melanjutkan perjalanan.
 
Pagi itu, aku menatap hujan di bawah atap halte bus. Sepeda mungil merah, ku biarkan ia di bawah hujan berintensitas sedang itu. Sudah satu pekan belum aku bersihkan. Dengan hujan, sedikit saja ku poles bagian badannya, bersih sudah si todai kesayanganku. Lalulalang orang sibuk dengan aktivitasnya. Ada yang ikut berteduh di bawah atap halte bus. Ada pula yang berani menembus hujan.
 
Aku kira dia tidak akan pernah datang. Aku kira dia tidak akan pernah tahu. Aku kira dia hanya kenangan dimasa lalu.
 
Hujan sudah kembali reda untuk yang kedua kalinya di pagi itu. Aku melanjutkan perjalanan menuju sekolah bersama si todai kesayanganku. Lagi-lagi dia hadir dengan sepeda hitam BMXnya. Sudah ku kira, dia akan melewati jalan tikus menuju sekolahku (dan sekolahnya). Senangnya hatiku, sudah satu pekan aku selalu menguntit di belakangnya. Bisa melihat bagian punggung, jaket cokelat pudar, dan tas hitam polosnya saja sudah membuatku bahagia sepanjang hari. Aku tahu, saat di sekolah nanti aku tidak akan bisa diam-diam memandangnya. Jarak kelasku dan kelasnya berjauhan. Tidak ada alasan pula menengok ke arah kelasnya. Nanti, bisa jadi teman-temanku curiga. Aku simpan perasaan ini bersama todai, sepeda kesayanganku.
 
Aku kira dia tidak akan pernah datang. Aku kira dia tidak akan pernah tahu. Aku kira dia hanya kenangan dimasa lalu.
 
Dua pekan rasanya sangat cepat sekali. Si todai menjadi alasan aku selalu bersamanya, meski hanya mampu memandangnya dari belakang.
 
Hari sabtu saat Ayah pulang dari kota tempat ia bekerja, aku merengek meminta sepeda berwarna merah. Aku merengek meminta Pak Udin ?sopir kepercayaan Ayah untuk tidak mengantarkanku lagi ke sekolah. Aku pun merengek pada Ibu untuk percaya padaku bahwa aku bisa menjadi siswi SMA yang mandiri. Demi bisa memandangnya.
 
Tapi mulai hari ini, aku tidak akan pernah bisa lagi melihatnya. Baru saja kemarin kelulusan kelas 3 diumumkan. Kabarnya dia lulus dan diterima di salah satu universitas terbaik di kotaku. Mungkin, aku tidak akan pernah bisa memandangnya lagi ?meski hanya bagian punggung, jaket cokelat pudar, dan tas hitam polosnya.
 
Aku kira dia tidak akan pernah datang. Aku kira dia tidak akan pernah tahu. Aku kira dia hanya kenangan dimasa lalu.
 
Benar saja dugaanku. Aku tidak pernah melihatnya lagi hingga kelulusanku tiba dua tahun kemudian. Selama itu pula, punggung, jaket cokelat pudar, dan tas hitam polos tidak pernah aku lihat. Dia tidak pernah aktif di dunia maya. Selama itu pula aku tidak pernah mengetahui kabarnya.
 
Tahun ini, aku diterima di salah satu universitas negeri di kota lain. Jauh dari kotanya. Kesibukan kuliah dan berorganisasi membuatku sedikit lupa padanya, bisa jadi itu salah satu caraku menghapuskan semua ingatan tentangnya. Tapi, saat tubuh ini rehat sejenak, bayangan si punggung dengan jaket cokelat itu pun datang kembali. Bagaimana kabarnya?
 
Aku kira dia tidak akan pernah datang. Aku kira dia tidak akan pernah tahu. Aku kira dia hanya kenangan dimasa lalu.
 
Pagi ini disaat hujan tidak lagi datang menyapa kota tempatku menuntut ilmu, tahun ketiga pendidikanku, bersama si todai kesayangan, aku mengayuh sepeda dengan kecepatan sedang. Cukup lengang jalan menuju universitas. Meski kota, namun suasana di sini seperti desa tempat nenek dan kakekku tinggal. Rimbun pohon masih lebat di setiap tepian jalan. Kendaraan hanya satu dua melintas. Rombongan sepeda yang diayuh mengiringi riang tawa anak-anak berangkat ke sekolah. Aku pun bisa mengayuh sepeda dan memainkannya sesekali sampai aku tiba di universitas.
 
Pagi itu aku kaget. Napasku seperti tertekan seketika. Aku seperti melihat seseorang yang aku kenal? "Jaket itu, tas itu?" Spontan aku berlari-lari kecil menghampiri seseorang yang sedang berdiri di sebelah tiang lobi tengah.
 
"Maaf,"
 
Dengan napas lega namun kaki berat sekali untuk melangkah, aku tahu kalau dia bukan dia. Sudah aku bayangkan sebelumnya, ketika pertama kali melihat jaket itu dan tas itu. Aku bertemu dengannya namun ternyata tidak.
 
Aku kira dia tidak akan pernah datang. Aku kira dia tidak akan pernah tahu. Aku kira dia hanya kenangan dimasa lalu.
 
"Kamu kenapa, Non? Lemas sekali, gak seperti biasanya. Ada masalah?"
 
Saat itu aku belum menyadari kalau Seon, sahabat dekat saat aku pindah ke kota ini, menghampiriku.
 
"Nona!"
 
Aku tersadar, "Aeon, apa-apaan sih, bisa kalem aja gak sih, gak usah pake teriak? Kmu melamun ya? Tumben. Tadi aku udah tanya selembut mungkin, kamunya aja yang gak sadar", Seon jawab ketus.
 
Aku kira dia tidak akan pernah datang. Aku kira dia tidak akan pernah tahu. Aku kira dia hanya kenangan dimasa lalu.
 
Setiap aku berangkat sekolah dengan todai, aku selalu mengingat kenangan-kenangan itu. Meski kesibukanku berhasil membuat aku sedikit melupakannya, namun saat tubuh ini rehat atau sedang bersama si todai ingatanku kembali mengulang memori tentangnya.
 
Dia laki-laki yang sangat baik. Setiap pagi, ia selalu membawa satu kantong hitam besar berisi 10 bungkus nasi uduk. Di setiap perempat jalan di gang kecil itu, ia berhenti dan memberikan satu atau dua bungkus nasi pada anak-anak yang selalu menyapanya dengan sebutan kakak." Sebenarnya itu adalah hal yang selalu merepotkanku. Bagaimana tidak, aku harus selalu membeli satu ada dua permen di warung yang letaknya dua sampai tiga rumah sebelum perempatan jalan, atau aku harus berhenti di halaman rumah orang agar dia tidak melihatku. Dua pekan lamanya aku melakukan hal yang sama, sampai ibu warung sangat mengenalku. Gila!
 
Dia laki-laki yang sangat baik. Selalu bersikap sopan dan santun kepada siapapun yang usianya lebih tua darinya. Tidak mengenal profesi. Saat di gerbang sekolah dulu, ia selalu rajin bersalaman dengan satpam sekolah. Seperti murid yang menyalami gurunya. Tidak pernah pandang bulu.
 
Pembina ekstrakurikulerku dulu, selalu bercerita tentang kecerdasan dan kebaikan akhlaknya. Tidak pernah absen saat bertemu denganku. Bagaimana tidak siswi polos sepertiku tidak mengagumi laki-laki seperti dia?
 
Sebelumnya aku pikir ini cinta monyet. Rasa suka yang cepat datang dan mudah pergi. Tapi apakah lima tahun tidak cukup menbuktikan bahwa ini bukan cinta monyet?
 
Aku kira dia tidak akan pernah datang. Aku kira dia tidak akan pernah tahu. Aku kira dia hanya kenangan dimasa lalu.
 
Sejak kejadian di lobi tengah itu, Seon selalu bertanya, "Kenapa kamu murung? Ini bukan Nona yang aku kenal".
 
Ya, butuh dua pekan untukku melupakan kejadian salah alamat itu.
 
Setiap pagi saat aku mengayuh sepeda menuju universitas, aku selalu bercerita pada todai tentang kerinduanku pada laki-laki pemilik tas hitam polos itu. Genap dan tidak pernah absen selama lima tahun terakhir, lebih tepat saat pengumuman kelulusannya. Todai sudah seperti sahabatku. Tidak ada satupun teman SMA atau universitas yang tahu kalau aku mengaguminya. Tidak satupun, hingga Seon akhirnya bertanya tentang dia.
 
Diam-diam dia menguntitku saat aku mulai terlihat murung di kelas dan asrama. Diam-diam dia melihatku menangis saat aku menembus hujan bersama todai. Diam-diam dan diam-diam.
 
Aku kira dia tidak akan pernah datang. Aku kira dia tidak akan pernah tahu. Aku kira dia hanya kenangan dimasa lalu.
 
Menangis hingga terisak aku mencurahkan semua perasaanku tentang kerinduan dan usaha melepaskannya pada Seon. Ternyata bercerita pada makhluk hidup lebih lepas dibandingkan hanya bercerita pada sepeda merahku itu. Seon memberikan aku solusi. Dia seperti bidadari yang turun dari surga. Tiba-tiba setiap kalimat yang diucapkan bak salju yang turun ke wilayah tropis. ya, hampir semustahil itu.
 
"Nona-ku sayang. Aku yakin, kalau jodoh itu gak akan kemana. Mau hujan dan halilintar hari ini datang, tapi kalau sudah waktunya dia datang mengkhitbahmu, pasti dia akan datang. Nona percaya pada Tuhankan?
 
Nona ingat gak sih, sinetron favorit kita? Katanya, kalau cinta itu jangan digenggam terlalu erat. Ibarat pasir, semakin erat digenggam maka ia akan lepas juga dari tangan. Genggam secukupnya saja. Atau, Nona ingat novelis favorit kita? Lepaskanlah ia, toh kalau dia jodoh pasti dengan sendirinya ia akan datang.
 
Tuhan kita juga bilang, kalau laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Begitupun sebaliknya. Cintailah segala sesuatu dengan wajar, jangan berlebihan. Kalau berlebihan, gak baikloh, Non.
 
Aku rindu Nona yang selalu ceria."
 
Aku kira dia tidak akan pernah datang. Aku kira dia tidak akan pernah tahu. Aku kira dia hanya kenangan dimasa lalu.
 
Setelah Seon mengatakan kalimat ajaib itu, aku bertekad untuk kembali ceria ?demi sahabat terbaikku. Mengenggam cinta secukupnya. Merindukan dia secukupnya. Hidup seperti air mengalir menghadapi perasaan ini.
 
Usaha untuk menerima dan mengakui perasaan, mengantarkanku untuk melepaskan dia yang selalu aku rindukan.
 
Aku kira dia tidak akan pernah datang. Aku kira dia tidak akan pernah tahu. Aku kira dia hanya kenangan dimasa lalu.
 
"Non, kenapa kamu suka dia?"

"Aku gak tahu kekurangan dia, Seon. Mungkin kalau aku tahu, aku akan illfeel. Sama seperti episode laki-laki yang sempat aku suka namun mudah sekali mereka pergi." (Atau aku akan menerima kekurangan dia dengan sepenuh hati).

Pagi itu, hari kelulusanku. Tahun keempat pendidikanku di universitas dan tahun keenam aku tidak pernah melihatnya, tidak mengetahui kabarnya. Ayah dan Ibuku datang, sekaligus menjemputku untuk pulang ke kota tempat kami tinggal. Sebelum Ayah menyuruhku untuk segera masuk ke dalam mobil, Seon berbisik padaku, "Jodoh gak akan kemana, Non. Mungkin nanti kamu ketemu di sana".
 
" Seon! Aku sudah melupakannya,"
 
"Kamu bohong, Non. Bye!"
 
Belum sempat membalas godaan Seon, mobil Ayah sudah melaju di jalanan kota.
 
Aku kira dia tidak akan pernah datang. Aku kira dia tidak akan pernah tahu. Aku kira dia hanya kenangan dimasa lalu.
 
Sesampainya di rumah, aku langsung meminta izin pada Ibu untuk sekadar berjalan-jalan sore dengan todai sepeda kesayanganku.
 
"Kamu gak capek, Nak. Istirahat dulu sana di kamarmu,"
 
"Aku gak capek, Bu. Kangen jalan-jalan di sini," modus.
 
Aku menyusuri jalan tikus menuju sekolahku (dan sekolahnya) dulu. Tak kuasa air mata yang coba aku tahan sejak sepuluh menit yang lalu, jatuh membuat kaca mataku berembun.
 
"Cengeng. Lebay!" desakku dalam hati.
 
Ku hentikan sepedaku untuk sekadar mengusap air mata yang jatuh.
 
Gubrak!
 
"Maaf. Kamu baik-baik saja? Aku tidak sadar kamu berhenti mendadak,"
 
Suara itu, aku tidak yakin kalau dia adalah dia. Masih berusaha mengeringkan pipi yang basah dengan ujung lengan bajuku, sebelum memastikan orang itu adalah dia. Aku tidak begitu mengenal suaranya, tapi jaket cokelat pudar itu?
 
Jantungku terasa berdegub lebih kencang. Ku rasa suhu tubuhku meningkat drastis. Ada sesuatu yang tidak bisa aku ungkapkan seiring perasaan ini.
 
"Baik," jawabku singkat.
 
Aku tidak sanggup menoleh ke belakang, memastikan dia adalah dia. Aku takut kecewa untuk yang kedua kalinya. Butuh dua pekan untuk mengobati perasaan yang tak kunjung redup ini. Aku bangun dan langsung membangkitkan sepedaku. Menaiki dan segera mengayuhnya secepat yang aku mampu.
 
Aku kira dia tidak akan pernah datang. Aku kira dia tidak akan pernah tahu. Aku kira dia hanya kenangan dimasa lalu.
 
Setibanya di sekolah dan melihat-lihat sejenak ruang kelas, taman, dan lapangan olahraga, aku bergegas kembali ke tempat parkir sepeda.
 
Dari kejauhan, ?Dia. Lengan jaket cokelat pudar itu?? Tersadar setelah melihat wajahnya, "Ternyata bukan dia,"
 
Aku kira dia tidak akan pernah datang. Aku kira dia tidak akan pernah tahu. Aku kira dia hanya kenangan dimasa lalu.
 
Rasanya ingin menjerit dan berteriak ?Aaaaaa!? Hati setengah PD bahwa laki-laki itu benar-benar dia, seperti drama-drama korea yang tidak berani menatap namun ternyata bidadara itu adalah dia. Ternyata tidak.
 
"Hello, Nona! Ini bukan drama korea Lee Min Ho atau Song Ilkook. Ini dunia nyata, Non," kesalku dalam hati.
 
Laki-laki itu bukan dia. Meski jaket cokelat pudarnya persis seperti dia, tapi coba deh bayangin, enam tahun lamanya, pasti jaketnya sudah tidak berwarna seperti dulu lagi. Atau mungkin jaketnya sudah dibenamkan di dalam lemari dan segera beralih fungsi menjadi mini tas atau pot berbahan kain, menjadi barang yang lebih berguna.
 
"Bangun, Nona!" sambil menggeleng-gelengkan kepala.
 
Aku kira dia tidak akan pernah datang. Aku kira dia tidak akan pernah tahu. Aku kira dia hanya kenangan dimasa lalu.
 
Untuk kedua kalinya aku kembali dengan langkah gontai. Terapi sugesti dari kalimat ajaib Seon selama dua tahun belakangan ini, ternyata tidak cukup ampuh untuk jangka waktu panjang. Rasanya ingin menangis dalam hati, tapi tidak bisa. Perasaan ini masih utuh. Aku masih merindukannya. Aku masih mengharapkannya. Dia, si pemilik sepeda BMX dengan tas hitam polos di punggungnya dan jaket cokelat pudar.
 
Setiap tempat yang aku susuri kembali sepulang dari sekolahku (dan sekolahnya), seolah mengenang semua memori secara utuh. Aku tidak bisa membohongi diri kalau sebenarnya aku menyukai dia. Perasaan ini masih tetap sama.
 
"Aku gak tahu kekurangan dia, todai. Mungkin kalau aku tahu, aku akan ilfeel ?sama seperti episode laki-laki yang sempat aku suka namun mudah sekali mereka pergi." (Atau aku akan menerima kekurangan dia dengan sepenuh hati).
 
Aku kira dia tidak akan pernah datang. Aku kira dia tidak akan pernah tahu. Aku kira dia hanya kenangan dimasa lalu.
 
"Kamu udah pulang, Nak. Kok wajahnya berubah murung gitu sih? Cerita sama Ibu dong", rayu Ibu mendekatiku di halaman tempat aku memarkirkan sepeda merah.
 
Aku hanya sanggup menggeleng tanpa berkata-kata. Air mata yang sudah sejak sepuluh menit lalu aku tahan untuk tidak (lagi-lagi) jatuh, lepas sudah dipelukan Ibu. Aku hanya mampu mengucapkan ?Ibu, Ibu, Ibu? berulang kali. Aku tidak sanggup menceritakan semua perasaan ini pada Ibuku sendiri.
 
"Cerita, Nak."
 
Aku hanya mampu menggeleng dan mengucapkan kata yang sama. Sungguh, aku tidak sanggup mengungkapkan perasaan ini. Tiba-tiba Ayah datang dan ikut memeluk Ibu dan aku yang saat itu sedang berpelukan.
 
"Anak Ayah sudah besar. Ayah rindu peluk Nona. Sudah lama sekali sejak kamu sekolah di universitas, Ayah tidak pernah memeluk Nona. Anak Ayah yang satu ini sudah besar sekali ternyata,"
 
Seketika tangisanku berhenti, lalu memeluk Ayah dan Ibu dengan erat. Erat sekali. Sampai sampai Ayah dan Ibu sulit bernapas ?katanya.
 
Saat makan malam pertama bersama Ayah dan Ibu, "Kamu sudah siap menikah belum, Non? Ayah sudah kangen ingin punya menantu. Biar bisa shalat berjamaah bareng di masjid. Biar bisa nonton bola bareng. Biar bisa mancing ikan bareng di kolamnya Kong Ucuh."
 
Aku hanya mampu tersenyum mendengar pertanyaan dan harapan Ayah itu.
 
Aku kira dia tidak akan pernah datang. Aku kira dia tidak akan pernah tahu. Aku kira dia hanya kenangan dimasa lalu.
 
Sambil memandang atap kamar pinkku, aku berpikir mungkin dia memang hanya masa lalu. Cinta monyet yang monyetnya terus bergelantung di atas pohon bertahun-tahun. Tidak mau turun.
 
Pintu kamarku diketuk oleh Ibu. Tiba-tiba Ibu berkata,"Nak, Ibu ingin kamu menikah dengan laki-laki baik hati yang sering menolong Ibu. Selama kamu tinggal di luar kota, selama itu juga dia rajin sekali berkunjung ke rumah. Dia sering shalat berjamaah bareng Ayah, mancing bareng, nonton bola bareng. Mungkin dia yang dimaksud Ayah saat makan malam tadi".
 
Apa?
 
Mungkin benar, monyet itu masih bergelantungan di atas pohon. Harusnya dia turun dan lihat kenyataan yang ada. Mimpi makan pisang terus, sih! Lupa deh sama daratan.
 
Monyet sudah turun dari pohon. Bangun dari tidurnya.

Aku shalat istikhoroh setiap hari. Meminta kepada Allah kebaikan atas urusan dunia dan akhirat. Hari ini, proses khitbah itu berlangsung. Ini adalah jawaban dariNya. Laki-laki dengan sepeda BMX, berjaket cokelat pudar, dan bertas polos berganti dengan laki-laki berbaju merah marun, warna kesukaanku. Dia bukan dia. Seperti perkiraanku: "Aku kira dia tidak akan pernah datang. Aku kira dia tidak akan pernah tahu. Aku kira dia hanya kenangan dimasa lalu."
 
Dia memang tidak pernah datang. Dia tidak tahu bahwa aku telah menyukainya sejak lama. Dia hanya kenangan di masa lalu. Dia yang mendewasakan aku tentang cinta, penerimaan, dan melepaskan. Dia tidak hadir sebagai pendampingku.
 
Suamiku saat ini adalah takdir dari Allah. Suamiku saat ini telah mengajarkan aku tentang bahagianya menerima kenyataan dibandingkan sakit dalam angan-angan. Aku bisa melupakan dia dengan mudah karena aku yakin laki-laki yang saat ini bersamaku adalah takdir dariNya.
 
Mungkin ini cara Allah memberitahukan hambaNya bahwa dia bukanlah jodohku. Pertemuan terakhir adalah masa-masa SMA. Cukup sampai di sana. Cara yang lembut, amat lembut.
 
Menjadi istri dan ibu yang baik bagi suami dan anak-anakku adalah hal terindah dalam hidupku. Terus membenahi diri dan menyayangi mereka sepenuh hati adalah caraku saat ini.
 
"Terima kasih, masa lalu."