Orang Ketiga : "Jangan Jatuh Cinta Denganku"

Ramadhani Syah Fitri
Karya Ramadhani Syah Fitri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Februari 2016
Orang Ketiga :

?

Penampilan Pertamaku Bersamanya?


Aula malam itu sudah ramai dengan riuh penonton yang akan melihat penampilan kami bertiga bersama teman-teman satu angkatan kami yang lain. Jam ditanganku sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam, acara akan dimulai sebentar lagi. Aku mulai resah karena Gio dan Bara belum datang juga. Sementara kami belum sempat latihan terakhir untuk penampilan kami bertiga nanti. Tidak lama berselang, Gio mengabariku kalau dia akan datang terlambat karena dia harus menjemput temannya dulu. Dan tidak lama setelah itu, chat Bara membuat handphoneku berbunyi.


?Nay, kamu dimana??
?Aku udah didalem, nunggu kalian berdua.?
?Di dalem udah rame banget??
? Banget, ramenya.?
?Kamu bisa keluar Nay? Samperin mobilku didepan, aku tunggu.?

Aku yang daritadi panik, seketika keluar aula, dan menebak-nebak mana mobil yang Bara maksud. Entah karena Bara melihatku, satu chat masuk di line ku. Benar saja, Bara mengirimkan nomor plat mobilnya kepadaku. Aku menemukannya. Lalu aku mengetuk pintu mobil itu sambil memanggil namanya, memastikan. Dan ?klik? pintu mobil terbuka. Aku masuk kedalamnya dan ?klik? pintu itu tertutup kembali.


Sepersekian detik aku merasa seperti diculik, dilempar pada ?saat? itu. Disaat Aku dan Bara sama-sama terdiam menikmati hening. Namun tentu saja saat ini berbeda, kami berdua sudah begitu sering bicara. Dan entah, terkadang aku dan dia membicarakan hal-hal diluar yang pernah ku fikirkan sebelumnya.

**
Bara menyalakan lampu mobilnya.
?Kita latihan disini aja ya Nay, diluar berisik.? katanya dengan tenang.
Aku hampir lupa, Bara lebih suka hening itu, sunyi itu. Bukan hingar bingar, bukan riuh dan sorai itu. Gio menelfon, memberi tahu kalau dia mempercayakan latihan akhir kepadaku. Karena dia tidak bisa ikut latihan ini, dia akan datang 15 menit sebelum kami naik ke atas panggung.


Bara mulai memetik dawai gitarnya kala itu, dan aku mulai melantunkan lagu yang sudah kami tentukan sebelumnya. Latihan selesai, aku ingin segera kembali ke aula dan tentu saja kembali kesana dengan Bara.
?Nay, mau kemana? Sini aja.? Bara menahanku.
Bara terus memetik gitarnya, seperti gerakan reflek ketika mata berkedip, aku menyautinya dengan suaraku, menyanyikan lagu yang Bara maksudkan.

"Kasih maaf bila aku jatuh cinta
Maaf bila saja ku suka
Saat kau ada yang punya?"


Ternyata ada banyak hal yang belum ku tahu tentang Bara. Dan malam itu, Bara memberi tahuku sedikit.
?Nay, jangan jadi orang ketiga ya nanti-nanti.?
Aku terdiam. Lebih tepatnya aku tidak mengerti maksudnya.
?Jadi orang ketiga itu nggak enak. Nggak enak buat hubungan kamu kedepannya.?
Aku masih terdiam. Menatapnya penuh tanya.
?Aku pernah jadi orang ketiga, dulu. Dan aku nggak mau ngulangin itu lagi. Kamu jangan sampai, Nay.? lanjutnya.
Aku perlahan mencoba memahami, mungkin Bara sedang mencoba menceritakan kisah pribadinya kepadaku, sebagai seorang ?teman dekat? nya. Sebelum aku tahu?
?Malam ini, sayang banget pacarku nggak bisa dateng lihat aku perform.? ucap Bara lesu.


Apalagi ini? Apa ini yang kisah yang sering diselipkannya diantara dialog-dialog kami bertiga? Tentang dia yang kadang resah, hanya karena ?dia?nya lama membalas chat nya. Bara mulai menangkap mataku yang sedang merangkai-rangkai puzzle ingatanku sebisa yang ku mampu.
?Aku baru jadian dua hari lalu, Nay.? Dia menjelaskan sambil mencoba mengembalikan fokusku.
?Ayo Nay, kita masuk ke aula.?


**


Malam itu aku sempat berfikir bahwa mungkin orang itu adalah Bara. Orang yang sejak pertama kali aku bersama dengannya, aku merasa sudah lama mengenalnya. Orang yang tak begitu banyak memiliki persamaan denganku, namun seperti membentuk sebuah garis linier, apa yang disukanya berhubungan dengan apa yang ku suka.


Satu hal yang sama-sama kami sukai, suara dawai gitarnya. Bara pernah mengutarakan hal itu, dan akupun mengakuinya. Kami tertawa bersama. Karena ternyata kami sama-sama menyukai benda mati. Benda mati yang suaranya hidup, menghidupkan.


Malam itupun aku berusaha menyembunyikan fikiran-fikiranku itu. Bara sudah memiliki kekasih, ternyata. Kecewa, sedikit. Tapi mendengar perkataan Bara tadi, sepertinya dia ingin menyampaikan sebuah hal. Terdengar seperti ?Jangan jatuh cinta denganku, Nay.? Mungkin hanya perasaanku saja, namun mungkin juga perkataan Bara ada benarnya.

"Namun tiba-tiba Kau ada yang punya
Hati ini terluka
Sungguh ku kecewa, ingin ku berkata

Kasih maaf bila aku jatuh cinta
Maaf bila saja ku suka
Saat kau ada yang punya?"

- Orang Ketiga, Hivi.

?

?


<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https://api.soundcloud.com/tracks/193489918&color=ff5500&auto_play=false&hide_related=false&show_comments=true&show_user=true&show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe>

  • view 284