Lekas Pulang : "Cemburu Bara"

Ramadhani Syah Fitri
Karya Ramadhani Syah Fitri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Januari 2016
Lekas Pulang :

?

Malam itu Bara datang dengan muka kusut, tidak seperti biasanya. Masuk studio musik lalu hanya duduk saja di sofa. Biasanya dia langsung melepas rindu dengan kekasih keduanya, gitar akustik kesayangannya, lalu memetik-metik dawainya. Kamu kenapa Bara?

?Bar, kamu habis diputusin? Ditekuk amat mukanya.? Sapa Gio yang bersiap akan pergi meninggalkan studio. Bara tidak begitu mendengarnya sepertinya. Gio berlalu.

Sekarang tinggal Aku dan Bara, di studio ini, dan satu lagi yang ada diantara kami, hening. Aku sedang asik bermain piano tadinya, tapi melihat yang seperti ini lagi-lagi aku ingin mengiringi hening yang dibawa Bara kesini.

Posisiku agak jauh dari sofa abu-abu yang diduduki Bara. Studio ini agak luas, bisa menampung lima belas orang dalam sekali latihan. Dan malam ini, terasa lebih luas karena hanya dihuni dua orang dan sama-sama menikmati diam.

Lima belas menit berlalu. Aku memang sengaja tidak menanyainya apapun. Bara mungkin butuh waktu untuk sendiri atau mungkin dia butuh sepi agar kembali seperti sedianya. Aku sekarang menyibukkan diri dengan membaca buku yang baru saja Aku beli. Sejujurnya Aku ingin meninggalkannya, ini sudah jam setengah sembilan malam dan tidak ada jadwal latihan hari ini. Tapi seperti berat melangkah dan merasa ingin menemaninya. Menemaninya dalam keheningannya.

?Nay, udah malem loh. Kamu nggak pulang?? Bara akhirnya bersuara.

?Bar, udah malem loh. Kamu nggak pulang?? Aku menyahut begitu saja.

?Nay?? suara Bara sedikit meninggi kali ini, iya hanya sedikit. Tapi cukup menjelaskan bahwa dia sedang tidak ingin bercanda. Bara sedang tidak baik-baik saja.

?What?s wrong with you, Bar?? seperti reflek mulutku yang begitu saja mengucapkannya, padahal berusaha keras kutahan dari tadi.

Bara diam saja, seakan berusaha menahan alasannya agar tidak ketahuan. Aku mengkhawatirkannya, tapi Aku tahu porsiku. Namun juga cukup tahu diri karena Aku hanyalah teman baginya. Aku mengemasi bukuku dan memutuskan untuk pulang saja. Mungkin lebih baik dia benar-benar sendirian.

?Nay, mau kemana?? ucapannya seakan menahanku.

?Pulang, Bar.? jawabku singkat.

?Aku mungkin sedang cemburu, Nay.? Bara membuka ceritanya.

Pagi tadi Bara mempunyai janji mengantar kekasihnya, Dila, ke sebuah kompetisi marching band, diluar kota. Tapi semua telfon dan chat Bara ke Dila pagi tadi tidak direspon oleh Dila. Karena mungkin merasa bangun terlambat, Bara akhirnya terburu-buru datang kerumah Dila. Sesampainya disana, ternyata Dila sudah pergi. Bersama dengan temannya, yang kata Bara adalah pengagum Dila. Dila adalah seorang mayoret di marching band itu, kebanggaan kampus, kebanggaan keluarganya, kebanggaan Bara karena mendapatkannya. Bara hendak menyusul ke luar kota demi melihat kekasihnya saat menjadi mayoret. Namun saat di perjalanan hendak menyusul, handphone Bara berbunyi. Telfon dari Dila.

?Halo, Dil..?

?Bar, aku sekarang udah dijalan. Aku kemarin kan udah bilang, terlambat semenit aja, bakal aku tinggal. Lima belas menit nunggu kamu, bisa bikin aku terlambat datang dan semuanya bisa jadi kacau. Aku nggak tau harus minta maaf ke kamu atau enggak karena nggak jadi kamu anterin. Tapi kamu daritadi nggak berusaha minta maaf ke aku karena salahmu itu. Ini salahmu, Bar. Kamu juga nggak perlu repot-repot dateng kesini, pengen ngeliat aku, atau pengen jemput aku. Aku udah sama teman-temanku disini. Aku bisa pulang diantar mereka. Mereka lebih ngerti Aku, Bar.?

?Dila..? belum sempat Bara menjelaskan, Dila terlanjur menutup telfonnya.

**

Aku masih mendengarnya, berusaha mendengarnya. Meskipun Aku sebenar-benarnya tidak ingin.

?Nggak seharusnya Dila kayak gitu kan Nay? Harusnya dia dengerin aku dulu.?

?Mungkin Dila memang terburu-buru, Bar.?

?Dan ada satu lagi Nay, tadi aku lihat postingan instagram Brian, fans Dila yang lebai itu. Dia posting fotonya lagi nyetir dan disebelah kursi kemudinya, ada Dila. Wajahnya tuh happy Nay, nggak keliatan keburu-buru kayak katamu.? Bara seperti meledak-ledak.

Aku menahan tawa kecilku. Dalam hati, ?begini ya, kalau Bara sedang cemburu.? Meskipun keadaan nyatanya Bara tidak sedang mencemburuiku, tapi Dila.

?Nay, kok malah ketawa sih? Harusnya Aku nggak ceritain ini ke kamu.? Bara terlihat agak kesal melihat responku.

?Bar, coba positif thinking aja deh. Kamu itu cuma lagi jealous aja. Calm, Bar. Pulang. Tidur. Besok semua bakalan baik-baik aja.?

Bara menarik nafas lalu menghelanya.

?Meskipun kamu tetep belain Dila, but thanks Nay udah denger ceritaku.? Bara tersenyum kecil.

?Anytime, Bara.? kataku dalam hati.

?--

?

?Perlahan sang hujan berganti pelangi

Setiap kesedihan tak ada yang abadi

Saat airmata menghujanimu

Ku akan disini menemanimu?

?

Lekaslah kau pulang,

Hari sudah malam..?

? Lekas Pulang, Nadya Fatira

?

<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https://api.soundcloud.com/tracks/193489918&color=ff5500&auto_play=false&hide_related=false&show_comments=true&show_user=true&show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe>

  • view 265