Jatuh Hati : "Kamu dan Kita"

Ramadhani Syah Fitri
Karya Ramadhani Syah Fitri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Januari 2016
Jatuh Hati :

?

Ini adalah kedua kalinya aku bertemu denganmu. Setelah pertemuan pertama kita di salah satu stasiun radio beberapa bulan yang lalu, malam ini kita bertemu lagi, dirumahmu. Entah apa yang membuat kita bertemu lagi, entah alur apa yang sedang kita jalani. Cerita ini menjadi tertulis semenjak ada hari ini, semenjak aku tahu bahwa kamu adalah orang yang begitu sepi.

Bisa dibilang aku cukup mempunyai banyak teman laki-laki, jangan berprasangka dulu, mereka adalah ?teman?, maksudku, hanyalah teman. Bagiku semua itu seperti tuntutan, untuk bisa berteman dengan siapapun, baik laki-laki maupun perempuan. Mengingat, aku cukup aktif di salah satu organisasi dalam bidang musik di kampus, organisasi yang membuat kita bisa bertemu.

Bermula dari pesan singkat Gio, teman kita berdua, yang membuatku menuju rumahmu. Gio bilang, bahwa kamu yang akan mengiringi penampilanku bersamanya di acara fakultas minggu depan. Lalu Gio mengirimkan alamat rumahmu lewat chat di line nya. Begitu saja, dan aku sampai didepan rumahmu.

Kamu yang mendengar suaraku membunyikan bel, membuka pintu dengan senyuman dan mempersilahkanku masuk. Cahaya rumahmu malam itu didominasi lampu berwarna oranye, dan terlihat bingkai-bingkai potretmu dengan ayah ibumu.

?Rumahmu sepi,? kataku sambil berjalan menuju sofa di ruang tengah rumah yang kau arahkan

Kamu mengangguk. Seperti tidak ada kata-kata yang ingin kau ucapkan.

?Kamu tinggal sama siapa aja?? aku berusaha mencairkan kebekuan ini.

?Aku tinggal dengan orang tuaku.? jawabmu singkat.

Memang rasanya sangat canggung sekali. Aku tiba-tiba datang kerumahmu tanpa mengenal dan berdialog denganmu sebelumnya selain mengenalkan nama kita masing-masing. Maaf jika aku lancang, namun hari itu aku sempat menganggapmu adalah seorang yang kesepian.

**

Saat itu satu-satunya suara yang bisa ku dengar adalah suara jangkrik, selebihnya adalah suara tegukan air yang ku minum dan itu membuatku merasa gugup.

Kita berdua duduk, aku diseberangmu, kamu diseberangku.

Kamu sibuk memetik gitarmu, aku sibuk mengatur nafasku yang hampir terdengar.

Aku ingin memecahkan bebatuan es di ruang ini,

Namun aku lebih memilih mendengar suara dawai gitarmu yang mengalun lembut,

Sama seperti yang selalu ku cari,

Suara yang menenangkan itu, suara yang meneduhkan itu,

Aku seperti sudah lama mengenalmu,

Lalu aku terdiam saja, mencoba mengiringi hening dan sepimu di ruang ini.

Kemudian Gio datang. Membuatku merasa sedikit lega, setidaknya bila kamu diam karena kita hanya berdua saja di ruang ini, maka Gio bisa membuatmu bicara, dan tentu saja Gio membuatku tenang. Lagipula, ini adalah penampilan kolaborasi kita yang pertama. Kita membutuhkan chemistry dengan partner bermusik kita. Aku dan Gio sudah seringkali menjadi pasangan duet dalam bernyanyi. Sekarang ditambah kamu. Sejujurnya, aku merasa senang. Karena ada pengiring tetapku bersama Gio, kamu melengkapi kami berdua.

Semenjak itu, kita jadi sering berkumpul bertiga. Dengan kamu yang mulai sering berdialog denganku. Kita semakin dekat, kurasa. Meski bahasan kita bertiga tidak jauh-jauh dari musik.

**

Dilain waktu kamu selalu menggodaku untuk bolos masuk kelas.

Katamu, ?Sehari nggak masuk itu, nggak akan bikin nilai mu jelek.?

?Aku juga memanfaatkan kuota ketidakhadiran untuk tidak hadir.? Gio menambahkan.

Kalian berdua tertawa. Aku tidak.

Aku termasuk mahasiswa yang rajin masuk kelas. Seingatku, aku nggak pernah nggak masuk kelas. Dan dua laki-laki didepanku ini sedang mencoba membuat jadwalku membolos. Dasar kalian. Tapi seru juga, kalau ngumpul bertiga gini. Aku bisa tertawa lepas, walaupun ketika kita sedang berdiskusi kita bisa berdebat hebat.

Setelah penampilan kita bertiga malam itu, kita membuat sebuah project yang lebih besar. Kolaborasi Musik pertama di kampus kita. Aku masih ingat betapa antusiasnya teman-teman ketika melihat hasil kolaborasi itu.

Namun tahukah kamu, bahwa aku antusias ketika memulainya. Ketika aku tahu, aku akan lebih sering bertemu denganmu, berdialog panjang, tertawa bersama, melihat senyummu lebih lama, mendengar suara petikan gitarmu yang terkadang membuatku enggan pulang, dan semua proses yang membuat kolaborasi itu luar biasa. Aku menikmati semuanya. Semua waktu kebersamaan kita. Dan tentu saja, tanpa kau tahu tentang yang kurasakan ini.

?Nay, mau kemana? Sini aja.?

?

--

?

?Ada ruang hatiku yang kau temukan

Sempat aku lupakan kini kau sentuh

Aku bukan jatuh cinta

Namun aku jatuh hati..

?

Ku tak harus memilikimu

Tapi bolehkah ku selalu, didekatmu??

? Jatuh Hati, Raisa.

?

<iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https://api.soundcloud.com/tracks/188905803&color=ff5500&auto_play=false&hide_related=false&show_comments=true&show_user=true&show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe>

  • view 292