Katanya "Sebuah Senja"

Raisa Maulani
Karya Raisa Maulani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Januari 2017
Katanya

Katanya, “Sebuah Senja”

***

Mentari semakin redup, menandakan sang penguasa langit dimalam hari mulai bersiap hadir. Pasak-pasak jingga kemerahan semakin terlihat. Indah, itu dia senja. Aya termenung di sebuah kursi taman di atas sebuah bukit menghadap langsung ke tempat yang akan menjadi persinggahan terakhir mentari hari ini. Dia pejamkan matanya, seolah menunggu senja hilang namun raut wajahnya menggambarkan kesedihan seolah menahan agar senja tak segera hilang.

***

“Ay!”, teriak Caca cempreng dengan suara khasnya. Pakaian tomboy yang menjadi gayanya, nyetrik dan kece. Di kakinya sepasang sepatu boots menambah keren penampilan Caca hari ini ditemani kunciran rambut yang tetap membuatnya terlihat manis.

“Kenapa?”.

Di sodorkan Caca sebuah amplop surat berwarna putih kepada Aya. Dengan tatapan heran, Aya menerima amplop surat berwarna putih itu.

“Dari siapa Ca dan untuk siapa surat ini?”, tanya Aya dengan nada bingung sembari membuka perlahan amplop surat itu.

“Untuk kamu Ay, itu kan ada tulisannya. Dika tadi yang ngasih ke Aku, katanya dari Reno”.

Bleppp………….. “Reno!”.

Hari itu tepatnya 12 Januari 2015 merupakan hari dimana Aya dan Reno merayakan hari persahabatan mereka. Teman masa kecil, teman curhat, teman berantem dan teman dalam suka duka. Aya dan Reno, sudah seperti saudara. Sulit dipisahkan.

Reno membelikan Aya sebuah jam tangan warna biru kesukaan Aya. Aya memberi Reno sebuah jam tangan berwarna hitam kesukaan Reno. Sebuah cake kecil menjadi pertanda hari istimewa mereka. Diatas bukit kecil dengan suasana senja yang menjadi saksi. Bernyanyi bersama, bercerita bersama, dengan senyuman beriring bersama.

**

“Ay, senja itu indah ya! Aku selalu suka”, Reno dengan tatapan penuh kagum menatap langit senja sore itu.

“Gara-gara kamu, aku jadi suka senja juga Ren. Virus mu menular!”.

Hahahaha………….

Toh kan, memang indah Ay. Coba kamu tatap langit itu, hayati dengan tenang dengan segala rasa. Pasti jatuh cinta deh kamu!”.

“Iya, iya sang pujangga, sang pencinta senja!”, Aya terkekeh. Sepasang bola matanya menatap lurus menghadap langit senja dengan mencoba penuh rasa.

Aya dan Reno memejamkan mata mereka masing-masing. Merasakan indahnya senja dengan sejuta kekuasaan Sang Pelukis Alam. Terdengar suara riah-riuh burung-burung berterbangan kembali ke sarangnya. Bergerombolan mereka, terkadang membentuk sebuah pola yang indah pula. Matahari pun menghilang perlahan digantikan sang penjaga malam. Langit Gelap datang menggulung langit siang.

“Reno itu sahabat kamu kan Ay, yang……..”, Caca membekap mulutnya di akhir kalimat. Kata-kata yang tak terkontrol membuat Caca salah tingkah merasa tak enak hati di hadapan Aya.

“Iya Ca”, seulas senyuman pedih tergambar di wajah Aya.

“Kamu ga mau baca surat itu Ay?”, Caca bertanya dengan polosnya sambil memainkan kakinya kesana-kemari.

“Nanti aku baca kok Ca, ga sekarang”, kembali Aya menjawab dengan memperlihatkan raut wajah mendung.

Aya dan Caca berjalan bersama menuju ruang kuliah dengan suasana canggung. Sedangkan amplop surat berwarna putih itu tak jadi di buka Aya. Dia menutupnya kembali. Enggan untuk membaca surat itu sekarang. Caca mencairkan suasana diantara dirinya dan Aya. Dia menghadirkan sebuah candaan yang membuat Aya tersenyum seketika, walaupun tidak selepas biasanya.

“Maaf Ay”, ujar Caca dengan nada menyesal. Tangannya meraih tangan Aya dengan menundukkan kepala penuh makna.

Ga pa pa kok Ca, aku udah biasa aja kok. Kamu ga salah apa apa”, Aya memegang tangan Caca erat dan menyunggingkan senyum tanpa beban.

“Aku aja yang terlalu sensitif Ca, maklum belum terbiasa dengan suasana “kita” sekarang”, Aya terkekeh pelan penuh rasa.  

**

Keesokan harinya. Kembali di waktu sore, dimana waktunya senja tak lama lagi akan hadir. Mereka, Aya dan Reno melangkahkan kaki silih berganti menanjak menuju atas bukit langganan persinggahan mereka. Peluh keringat sedikit demi sedikit menetes. Pakaian mereka pun nyatanya basah juga.

“Masih sanggup kamu Ay?”, ledek Reno sambil tertawa. Kedua tangannya mengelap peluh keringat di wajahnya. Kedua kakinya melangkah menuju kursi taman satu-satunya diatas bukit itu.

“Kamu lihat aja, aku kan sampai keatas bukit ini. Berarti aku masih sanggup Ren”, balas Aya dengan nada tak mau kalah.

“Hebaaaaaaat! Perempuan tangguh kamu Ay”, teriak Reno sambil tertawa lebar.

“Biasa aja!”, respon Aya dengan tatapan datar.

Huuuuuuuu………………..”.

***

Beribu kenangan dan memori bergerombol hadir secara tiba-tiba di pikiran dan di benak Aya. Jelas saja, raut kesedihan tergambar disana. Di wajahnya. Tubuhnya bergetar seketika. Pertanda. Iya sebuah pertanda akan hadirnya sebuah bukti yang menyayat hati. Air mata. Benar saja, ia mengalir perlahan demi perlahan kemudian semakin derasnya. Tak tertahan. Aya terisak disana sendiri. Dia merindukan sesuatu yang selalu mengingatnya, sesuatu yang tak akan mungkin pernah melupakannya. Namun, sekarang semua berbeda. Ceritanya mungkin tak akan lagi sama. Itu yang membuatnya tak mampu bertahan. Keindahan senja yang mulai membuatnya tertarik, malah menjadi saat yang harus dia hadapi dengan penuh kegetiran.

***

Hari berlalu. Mereka masih tetap begitu-begitu saja, Aya dan Reno. Suatu ketika tragedi yang mengusik persahabatan mereka dimulai, dimana saat Reno mengetahui suatu kebenaran mengenai Aya. Namun, Reno memilih untuk tetap diam dengan masih menjaga kebenaran itu. Akhirnya semakin menyimpan kebenaran itu, semakin membuat Reno tak tahan. Reno mencapai titik jenunya. Dia menyerah. Dia memutuskan untuk segera mengatakannya kepada Aya.

“Ay, kamu masih dekat sama “dia” ?”, tanya Reno penuh selidik.

“Dia” siapa Ren?”.

“Dia” itu yang sering kamu ceritain ke aku belakangan ini”.

“Oooh, iya masih dong Ren. Dia baik sama aku, dan aku nyambung ngobrol sama dia”.

“Tapi Ay, sebaiknya kamu jauhin dia ya!”, tatapan memohon Reno kepada Aya.

“Tapi kenapa Ren?”, membalas tatapan Reno penuh tanya dengan terselip sedikit nada marah di ujung kalimatnya.

“Dia itu anggota gangster Ay”, tegas Reno.

“Aku sudah tahu kalau soal itu Ren. Terus apa masalahnya? Toh dia sesuai aturan kok perilakunya”.

“Kamu masih belum tau semua tentang dia Ay. Aku tahu dia Ay. Aku pernah ngadain wawancara dengan anggota mereka untuk tugas kelompok. Dan kamu tahu apa? Dia itu ketuanya Ay, dan aku baru ingat itu sekarang setelah kamu ngajakin aku ketemu sama dia kemarin”.

Hemmmm….. Aya berdeham.

 “Sudah ya Ren. Jangan suka intimidasi orang dari latar belakangnya. Dia masih “lurus-lurus” aja kok jalannya”.

“Tapi Ay …………..!”, bantah Reno.

“Aku pergi duluan Ren. Capek dengerin kamu ngomongin itu”, Aya melengos pergi meninggalkan Reno mematung sendiri tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.

“Ay………………………..”, panggil Reno sedikit lantang dengan nada menahan.

Reno menghela nafas panjang. Pikirannya masih tentang Aya dan dia si ketua gangster. Aya tak percaya padanya dan itu membuatnya sedikit frustasi. Reno pun akhirnya menghalalkan segala cara untuk selalu mengingatkan Aya agar menjaga jarak dari ketua gangster itu, dengan selalu meng-sms atau men-chat Aya dalam kurun waktu sesuai yang dia inginkan.  Nyatanya hal itu membuat Aya jengkel dan semakin jengkel lama kelamaan. Kenapa tidak. Handphone nya semakin sering berdering dan itu merupakan pesan peringatan yang isinya selalu sama dari Reno.

Semakin hari semakin menjadi. Aya semakin jauh dari Reno. Dia lebih sering menghabiskan waktu luangnya bersama ketua gangster itu. Sms dan chat dari Reno pun jarang dia balas. Bahkan untuk melihat senja yang telah menjadi kebiasaan mereka setiap minggunya pun luput dilakukan. Aya seperti punya dunia baru bersama ketua gangster itu.

Suatu ketika……………….

“Ay, kamu sudah diluar batas sekarang. Kamu tidak ingat aku. Kamu selalu bersama ketua gangster itu. Tugas-tugasmu pun terbengkalai”, protes Reno dengan nada marah. Matanya menatap Aya tegas.

“Kamu kenapa Ren? Apa salah aku? Aku punya teman baru, dan aku merasa senang berteman dengan dia”, jawab Aya membantah dengan menantang tatapan Reno.

“Sudah aku bilang, dia itu ketua gangster. Aku takut kamu kenapa-napa kalau kamu dekat dengan dia. Tahunya memang terjadi kan. Kamu melupakan segala sesuatunya demi meluangkan waktumu bersama dia”.

“Aku selalu salah ya Ren di mata kamu. Begini salah, begitu salah. Apakah semua yang aku lakukan harus selalu atas persetujuan kamu? Kamu siapa aku Ren?”, bentak Aya. Emosinya membuncah seketika.

“Aku tidak mau kamu kenapa-napa Ay, aku sayang kamu Ay, makanya aku perduli denganmu. Kamu tanya siapa aku. Tega sekali Ay, aku sahabatmu. Kamu lupa itu!”, ujung kalimat Reno dengan nada kecewa.

“Nah, maka dari itu. Seharusnya kamu bahagia melihat aku bahagia. Jangan selalu protes!”.

“Ayaaaaa………………………..”, suara Reno dengan nada tinggi nan geram.

“Apa?”, tantang Aya.

“Kamu bukan Aya yang aku kenal!”.

“Terserah kamu!”.

Aya segera membalikkan badan dengan menghentakkan kakinya keras ke tanah. Raut wajahnya tak terkendali dengan penuh amarah. Reno hanya terdiam melihat Aya meninggalkannya lagi tanpa menoleh sedikitpun. Reno pun membalikkan badan pula. Melangkah meninggalkan tempat yang menjadi saksi pertengkaran hebat mereka.

**

Tiga hari berlalu tanpa komunikasi sedikitpun antara Aya dan Reno. Namun, sepertinya hal itu tidak berpengaruh terhadap Aya. Dia senang-senang saja setiap harinya. Selalu tersenyum dengan aktivitas yang sering dilakukannya dengan ketua gangster itu. Berbeda dengan Reno. Reno masih saja memikirkan Aya. Namun dia sedikit gengsi untuk menyapa Aya terlebih dahulu. Pikiran-pikiran mengenai sesuatu yang buruk akan menimpa Aya selalu berkecamuk didalam benaknya. Konsentrasinya pun saat perkuliahan sering kali buyar. Dan akhirnya, hal “itu” benar-benar terjadi.

Beep beep………….. beep beep…………. Suara nada dering handphone Reno berkali-kali terdengar. Tutt..…. Reno menekan tombol jawab. Dia tercengang sejenak. Aya.

“Iya halo? Kenapa?”, jawab Reno dingin seolah tak peduli.

“Tolong aku Ren, tolong aku!”, suara Aya dengan penuh ketakutan diselingin suara tangisannya.

“Kamu kenapa Ay? Kamu dimana?”, dengan nada khawatir Reno tak sabar mendengar jawaban dari Aya.

“Aku di basecamp mereka, kelompok gangster dia Ren. Tolong aku Ren! Aku takut”, tangisan Aya semakin menjadi sejadi-jadinya.

“Tenang Ay (Reno menghela nafas sejenak menenangkan diri), aku kesana sekarang. Jangan nangis, aku mohon. Aku cemas kalau kamu nangis!”.

I…i…iya Ren. Aku disini…………………………………………. Kamu cepat kesini Ren, sebelum mereka kembali. Aku nggak nangis lagi Ren”, suara Aya tersedu-sedu.

“Kamu tunggu aku Ay!” (sambungan telepon di putus).

Dengan tergesa-gesa, Reno mengemudikan mobilnya. Pedal gas di injaknya, dengan kecepatan penuh mobil melaju. Sampai di basecamp gangster itu. Selangkah setelah melewati pintu basecamp, Reno tersentak. Dia tersungkur. Dia di jegat anggota gangster itu ditambah dengan si ketua gangster yang menjadi teman baru Aya. Ternyata benar dugaan Reno selama ini. ketua gangster itu hanya ingin memeras dan memanfaatkan Aya. Reno kalah jumlah dan menyebabkan dia kalah telak. Penuh luka dan lebam tubuh Reno. tapi dia tetap bertahan. Perlahan Reno mencoba bangkit dengan ketidakmampuannya, dengan kepala yang sempoyongan. Namun, belum sempat berdiri tegak. Plaaaakkkkkkkkkkkkkkkkk………. Sebuah kayu besar menghantam kepala Reno. Tubuh Reno terhuyung dan akhirnya brukkkkkkkkkkkk…………… rebah diatas semen yang dingin dihadapan para gangster itu. Terdengar hakhahahakkkkkk…………… tawa para gangster menggema.

Ciyut……ciyut……..ciyuttttttttt………. Belum sempat tetawa lama atas kemenangan mereka dari Reno. Suara sirine yang tak asing lagi terdengar. Sirine mobil polisi. Ternyata Reno menghubungi polisi sebelum dia pergi sendiri menuju basecamp gangster itu. Berhamburan para gangster itu melarikan diri. Namun, sia-sia. Basecamp itu telah di kepung. Mereka semua tertangkap. Aya akhirnya bisa di bebaskan. Namun, dalam langkahnya menuju keluar basecamp. Tatapan matanya tertuju ke sosok yang terlentang diatas semen dingin itu dengan penuh luka dan darah yang mengalir. Reno. Iya, Reno yang terbaring disana. Aya langsung menghambur kearah Reno, menangis sejadi-jadinya. Memegang kepala Reno yang penuh darah.

“Renoooooooo………………………………!”.

**

Sudah tiga bulan berlalu. Reno sempat mengalami koma selama satu bulan lebih dan akhirnya bangun kembali. betapa bahagianya Aya akan hal itu. Melihat Reno bisa membuka matanya kembali dan tersadar dari istirahat lamanya. Namun, sesuatu yang mengejutkan dan tak disangka-sangka terjadi. Reno di diagnosa terkena amnesia (lupa ingatan) sementara karena bagian kepala belakangnya terkena pukulan yang begitu keras. Hal itu membuat Aya “jatuh” kembali.

“Ren, kamu ingat aku kan? Aku Aya, sahabat kamu dari kecil”, jelas Aya dengan tatapan penuh harap.

“Kamu siapa?”, jawab Reno dengan nada tidak tahu apa-apa.

Mendengar jawaban itu, Aya secara spontan berlari keluar ruang. Dia menangis kembali. Terisak-isak.

“Reno tak mengingat aku!”, sambil menangis.

Ternyata, Reno hanya tidak mengingat Aya. Semua keluarga dan teman-temannya yang lain dia masih mengingatnya. Menghadapi situasi itu, Aya kembali merasa tercekat. Hatinya sakit sekali. Entah kapan Reno akan bisa mengingatnya kembali, walaupun membutuhkan waktu lama dia akan menunggu. Namun Aya tidak akan kuat, jika Reno tidak akan bisa kembali mengingatnya. Dia hanya menakuti hal itu.

**

“Kenapa dia hanya tidak mengingatku Ca?”, tanya Aya sambil menitihkan air mata. Kedua tangannya erat memeluk amplop surat berwarna putih dan mendekapnya di dada.

“Itu karena dia terlalu memikirkan kamu Ay. Lihat saja dia bagaimana selalu mengingatkan kamu akan hal yang telah berlalu itu”, jawab Caca.

“Semua salah aku!”, Aya menangis penuh penyesalan.

Caca melihat hal itu segera saja memeluk erat Aya, menepuk-nepuk bahunya pelan menabahkan.

***

Sebelum senja berakhir dan berganti awan gelap malam, Aya memutuskan membuka amplop surat berwarna putih itu. Dibacanya perlahan surat yang ditulis Reno untuknya. Ternyata itu ditulis satu tahun yang lalu. Saat dimana pertengkaran hebat Aya dan Reno belum terjadi dan saat dimana kejadian yang menyakitkan itu juga belum terjadi. Kembali perlahan air mata mengalir di wajah Ayah. Tersisak-isak dia. Ada sebuah kalimat indah yang Reno tujukan untuk Aya  yang tertulis didalam surat itu.

“Katanya, sebuah senja”. Ia sebuah senja. Senja yang mengetahui cerita kita. Senja yang mengetahui rasa kita. Senja itu bisa menjadi indah, senja itu juga bisa menjadi pedih. Indah, ketika senja tak pernah hilang dan pedih, ketika senja memilih menghilang. Cukup senja yang tahu cerita kita, cukup senja yang mengerti bagaimana rasa kita. Dialah sebuah senja. Walaupun menghilang hari ini, tapi tetap akan kembali esok hari”.

Aya semakin larut dalam rasanya, sedih dan menyesal. Sekarang dia menjadi bagian yang menghilang dan terlupakan sejenak dari Reno.

***

 

 

  • view 184