Indonesia Menginspirasi, Indonesia Tanpa Diskriminasi

Raisa Maulani
Karya Raisa Maulani Kategori Agama
dipublikasikan 30 November 2016
Indonesia Menginspirasi, Indonesia Tanpa Diskriminasi

INDONESIA MENGINSPIRASI, INDONESIA TANPA DISKRIMINASI 

            Pagi ini kembali terdengar berita heboh di saluran televisi. Berita yang sempat berlalu dan hilang bak di telan angin sejenak, ternyata datang kembali. Pak Dadang yang sedang mengamati layar kaca melihat laporan berita itu, mengerutkan keningnya. Memperhatikan dengan saksama dengan seserius mungkin. Perbedaan yang seharusnya menyatukan malah sebaliknya menjadi problematika baru dikalangan masyarakat Indonesia. Diskriminasi yang seharusnya ditinggalkan, malah sebaliknya sering sekali terjadi sekarang ini. Terlebih mengenai masalah sebuah “KEYAKINAN”. Haruskah hal ini terus dibiarkan?!, ketika Indonesia tidak hanya berkemelut dengan hal-hal tersebut, ketika Indonesia masih berkutat dengan hal-hal yang lebih kompleks. Diluar sana, pastinya masih banyak Pak Dadang lain yang miris akan problematika baru yang menyerang masyarakat Indonesia karena sebuah perbedaan ini. Haruskah pula dibiarkan begitu saja oknum-oknum yang menjadi dalang dibalik terjadinya diskriminasi?!. Haruskah pula oknum-oknum tersebut tetap bebas tanpa adanya sebuah ketegasan dari pemerintah atas tindakannya yang memicu terjadinya “perpecahan”?!. Tidak, seharusnya tidak. Pemerintah seharusnya bisa memberikan “tindakan tegas” sebagai imbalan dari tindakan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut. Ingat, karena hal “sepele” bisa memungkinkan terjadinya sesuatu yang “lebih besar” bahkan “lebih rumit”!. Hal yang sepele, tidak selalu sepele.

            Lalu, Kenapa Diskriminasi bisa terjadi?

       Masyarakat Indonesia memang sangat beragam, tidak hanya suku, budaya dan ras, tetapi juga agama. Perbedaan yang beragam ini terkadang memunculkan sebuah problematika, dimana kurangnya toleransi dan rasa saling menghargai. Terlebih mengenai hal yang menyangkut sebuah keyakinan dan kepercayaan, bisa menjadi sesuatu yang besar bahkan rumit. Karena, Indonesia negara majemuk. Indonesia negara multicultural. Maka dari itu, seharusnya perbedaan-perbedaan yang ada terutama mengenai hal yang mendasar, sudah sepatutnya diperhatikan dengan baik. Oknum-oknum yang merasa kurang dihargai, mungkin saja didalam dirinya terbesit rasa jengkel sehingga memungkinkan bisa menyalakan sebuah api kecil yang nantinya akan membesar. Lalu, kenapa diskriminasi di Indonesia bisa terjadi?, ketika yang melakukan bukanlah sebuah kelompok ataupun komunitas melainkan secara personal.

         “Ketahuilah bahwasanya pada setiap tubuh ada segumpal daging. Jika daging itu baik, akan baiklah seluruh anggota tubuhnya. Namun apabila dia rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah bahwasanya segumpal daging itu adalah hati.”(HR. Bukhari dan Muslim)

         Personality seseorang terbentuk karena adanya sebuah pemahaman dan kebiasaan. Maka, ketika yang dilakukan dan menjadi kebiasaan adalah baik maka akan baiklah personality nya dan begitu pula sebaliknya. Begitu juga dengan pikiran dan prasangka, ketika seseorang sering berpikir positif dan berprasangka baik, maka akan menjadi kebiasannya untuk berpikir positif serta berprasangka baik dan begitu pula dengan sebaliknya. Namun, masyarakat sekarang seiring dengan berkembangnya media televisi dan media sosial dengan informasi yang terkadang kurang relevan, menjadi konsumen yang belum bisa memilah-milah atau menyaring mana tayangan dan informasi yang seharusnya diterima dan mana tayangan dan informasi yang seharusnya tidak diterima. Hal itulah yang juga menjadikan masyarakat sebagai oknum-oknum yang ikut terjerat kedalam pusaran informasi yang negatif yang kemudian terpancing melakukan tindakan-tindakan yang seharusnya tidak dilakukan.

          Jadi, bagaimana cara kita menghilangkan pikiran akan sebuah “perbedaan”?

             “Aku sesuai prasangka hamba-Ku pada-Ku dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku.” (HR.Muslim)

             Hal ini sesuai dengan yang terajdi. Salah satunya contoh dalam perjalanan hidupku. Ketika aku berprasangka baik kepada Allah, maka Allah akan menjadikan hal itu. Ini tepat ketika tahun pertama dan impian pertama ketika aku memasuki gerbang perkuliahan. Aku memiliki impian untuk bisa lolos Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang menjadi ajang nasional bergengsi tahunan mahasiswa seluruh Indonesia. Dengan segala upaya yang tentunya tidak mudah, tekad yang selalu kuat, dan pikiran yang selalu berprasangka baik kepadaNya. Alhamdulillah, Allah menjadikan hal itu, Allah mewujudkan impian pertama itu.

              Maka dari itu, dalam setiap situasi seharusnya kita bisa melihat setiap sisi baiknya. Mungkin saja ada suatu manfaat yang tidak disangka dalam situasi tersebut. Jika cara berpikir seperti ini terus diterapkan, maka akan menjadi sebuah kebiasaan yang memberikan pengaruh besar tehadap pola berpikir kita. Seperti hal nya dengan memikirkan sebuah perbedaa, jika kita melihat ada sisi baik diantara banyaknya perbedaan itu, maka pikiran untuk mendiskriminasi akan perlahan hilang. Sehingga manfaatnya, kita akan hidup berdampingan dengan nyaman, tanpa adanya isu-isu diskriminasi yang mencuat bahkan bisa mencerai-beraikan. Pola pikir dan sudut pandang seperti inilah yang harusnya ditanamkan di sekeliling kita. Dalam setiap perbedaan, pasti ada sisi positif yang ditemukan.

          Jika pikiran yang negatif selalu ditanamkan, maka kita akan terlalu difokuskan dengan suatu yang sudah terjadi atau belum terjadi. Pikiran kita akan menerawang bebas akan hal yang mungkin saja tidak akan terjadi tetapi pikiran kita membayangkan hal tersebut terjadi. Pikiran yang seperti inilah yang akan mengundang suatu tindakan yang tidak diinginkan. Terlebih ketika pikiran tersebut salah menanggapi akan hal “perbedaan”.

        Jadi, apa yang harus kita lakukan?

       “Bahwa segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan berhak atas perlindungan terhadap setiap bentuk diskriminasi ras dan etnis”. (UU RI No. 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi dan Etnis)

    “Bahwa adanya diskriminasi ras dan etnis dalam kehidupan bermasyarakat merupakan hambatan bagi hubungan kekeluargaan, persaudaraan, persahabatan, perdamaian, keserasian, keamanan, dan kehidupan bermata pencaharian diantara warga negara yang pada dasarnya selalu hidup berdampingan”. (UU RI No. 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi dan Etnis)

        Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” mengartikan bahwa berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Hal ini membuktikan bahwa, segala bentuk perbedaan yang ada di Indonesia baik itu agama, ras, suku, kebudayaan dan etnis tetap berada di bawah payung PANCASILA dimana segala bentuk perbedaan itu sama, sama di mata negara dan sama di mata hukum. Tidak ada satu perbedaan pun yang lebih dominan atau sebaliknya. Karena perbedaan itu hakikatnya untuk saling melengkapi dan menyatukan, sehingga kehidupan yang berdampingan pun bisa terwujud sesuai dan dengan semestinya.

          “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”. (QS. Al Kafirun : 6)

          “Ketuhanan Yang Maha Esa”. (Sila Pertama Pancasila)

       Rakyat Indonesia diberikan kebebasan memeluk agama dan kepercayaan masing-masing kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dimana tidak ada unsur keterpaksaan bagi rakyat Indonesia untuk memeluk keyakinan dan kepercayaannya, dengan segala toleransi yang dilakukan untuk saling menghormati dan menghargai antar umat beragama. Karena aku dengan agamaku, dan kamu dengan agamamu, dengan aneka rumah ibadah aneka agama, tetap bersama dibawah naungan NKRI.

          “Persatuan Indonesia”. (Sila Ketiga Pancasila)

       Rakyat Indonesia dengan segala bentuk keragamannya (agama, ras, etnis, budaya) tetap memiliki kedudukan yang sama dibawah Pancasila. Memiliki keinginan untuk mementingkan kepentingan negara dibandingkan dengan kepentingan pribadi, bersama saling merangkul menyatukan negara, dan berada dijalan yang sama untuk mencapai tujuan negara.

           Maka dari itu, sebuah “informasi” yang lebih relevan dan tidak mengundang asumsi-asumsi yang salah sangat dibutuhkan. Dengan begitu, masyarakat bisa memperoleh informasi yang seharusnya menginspirasi bukannya informasi yang mengundang terjadinya kesalah-pahaman dan menimbulkan pikiran yang negatif, terlebih mengenai segala informasi mengenai perbedaan yang sedang hangat-hangatnya beredar.

         Bagaimana cara informasi yang menginspirasi bisa di diperoleh masyarakat?

       Salah satu yang dilakukan yaitu dengan mengoptimalkan sebuah Media. Dimana salah satu media yang sedang sangat berkembang saat ini yaitu media elektronik berupa media televisi dan media sosial. Media-media tersebut, sudah menjadi fitur-fitur aplikasi didalam gadget-gadget yang saat ini sudah digunakan oleh hampir semua kalangan masyarakat. Jadi, informasi yang beredar baik itu relevan atau tidaknya, masyarakat secara keseluruhan pasti mengetahuinya.

        Dengan mengoptimalkan kinerja dari sebuah media, maka informasi yang tidak relevan bisa dihilangkan, informasi yang hanya mengundang kesalahpahaman bisa dihilangka dan informasi yang mengundnag asumsi-asumsi berlebihan juga bisa dihilangkan. Karena masyarakat sudah tidak tabu lagi dengan gadget dan setiap waktunya pasti dihabiskan dengan memegang gadget, maka informasi yang mengisnpirasi sangat diperlukan.

        Bagaimana aplikasi dari Media Inspirasi?

         Media inspirasi merupakan suatu metode mengubah pola berpikir yang digunakan untuk memberikan informasi-informasi yang menginspirasi, relevan dan tidak mengundang kesalah-pahaman. Media inspirasi nantinya baik di media televisi dan media sosial akan menghadirkan sebuah saluran yang memberikan tayangan dan informasi yang menjadikan pola pikir masyarakat untuk selalu menemukan sisi baik (positif) dari setiap situasi (informasi) yang ada. Sehingga, dengan seringnya menyaksikan dan menerima informasi-informasi yang memiliki sisi positif, maka pola pikir masyarakat perlahan akan berubah dan akan menjadi sebuah kebiasaan dimana disetiap hal pasti memiliki setidaknya satu sisi yang baik yang bisa diambil. Tidak hanya sisi negatif saja.

         Disamping itu, media televisi dan media sosial sudah sangat populer sekarang ini. Tidak perlu ke warnet (warung internet) hanya untuk membuka intenet dan tidak juga harus berdiam dirumah untuk menonton tayangan televisi, karena semua sudah tersedia didalam gadget-gadget yang telah menjangkau semua kalangan. Jadi, media inspirasi bisa di update kapan saja dan dimana saja. Media inspirasi juga sekaligus menjadikan kegunaan gadget menjadi lebih bermanfaat dengan memberikan informasi yang menginspirasi.

        Apa saja manfaat dari Media Inspirasi?

          Ada beberapa manfaat yang bisa kita peroleh dari media inspirasi jika bisa diterapkan di Indonesia:

  1. Memberikan informasi yang menginspirasi kepada masyarakat dengan meyakini bahaw disetiap informasi pasti memiliki suatu sisi baiknya
  2. Menjadikan masyarakat mengubah pola berpikirnya, sehingga bisa memilah dan memilih informasi yang harusnya diterima dan informasi yang harusnya tidak diterima
  3. Menyaring informasi yang benar-benar relevan dan memang harus ditayangkan
  4. Memilah informasi yang tidak relevan dan hanya akan menimbulkan asumsi-asumsi negatif dan menimbulkan kesalah-pahaman
  5. Menjadikan gandget-gadget memiliki kegunaan yang lebih bermanfaat, terlebih dalam waktu luang

           Bisa disimpulkan bahawa, media inspirasi memiliki keinginan untuk mengubah pola berpikir masyarakat untuk lebih kritis dan lebih pintar dalam memilah dan memilih informasi. Dikarenakan, jika masyarakat masih saja hanya menerima semua informasi tanpa disaring terlebih dahulu, maka tidak menutup kemungkinan masyarakat akan lebih mudah terpancing memberikan sebuah asumsi-asumsi yang hanya berdasarkan pandangannya saja dan melakukan tindakan yang merupakan ujung dari asumsi tersebut.

          Sehingga, dengan adanya media inspirasi diharapkan agar nantinya menjadi media yang akan menampilkan informasi yang “menginspirasi” dan “relevan”. Masyarakat juga akan memiliki pola berpikir yang “positif”, bisa melihat “sisi baik” disetiap persoalan ataupun informasi yang ditayangkan. Sehingga, pikiran akan sebuah “perbedaan” dan melakukan “pendeskriminasian” bisa benar-benar hilang dan masyarakat bisa lebih “bijaksana” dalam menyikapi perbedaan tersebut.

            -Media Inspirasi, Tanpa Diskriminasi-

 

 

 

 

 

 

 

  • view 229