Kutu Buku (enggak) Cupu!!!

Hazana Itriya
Karya Hazana Itriya Kategori Inspiratif
dipublikasikan 02 Agustus 2016
Kutu Buku (enggak) Cupu!!!

Apa sih serunya membaca?

Seorang teman pernah berulang kali menanyakan hal yang sama pada saya. Tiap kali saya dan dia bertemu saya memang selalu memegang dan membaca buku, pasalnya kemana pun saya pergi gak pernah tuh saya lupa buat nggak bawa buku. kalau gak bawa buku atau tas saya agak ringan karna gak bawa buku, rasa-rasanya kayak ada yang kurang aja. Jadi, tiap kali saya ketemu orang-orang yang tiba-tiba aja menatap saya dengan intensitas yang gak normal karena saya memegang buku, saya selalu menatap balik orang itu, dan kalau dia mulai nanya-nanya sok asik tapi nyebelin, saya bakalan cuma ngeliatin dia dan senyum sambil bilang "saya seneng baca, kalau anda mungkin senengnya ngeliatin orang yang lagi baca".

Dari kecil, saya memang diajarkan untuk membaca apapun yang orangtua saya sediakan. Bahkan, setiap tahunnya ayah saya selalu mengajak saya dan saudara-saudara saya untuk pergi ke pameran buku tahunan. Kebiasaan itulah yang membuat saya menyukai aktifitas membaca lebih dari orang lain yang mengaku hanya membaca jika perlu. Mungkin karena itu pula, ketika saya ditengah teman-teman saya yang tidak gemar membaca saya selalu saja mendominasi pembicaraan alias lebih bawel dan lebih cerewet.

Saya akui, membaca mendatangkan banyak ide-ide atau bahkan jawaban-jawaban dari setiap pertanyaan yang teman-teman saya curhatkan tentang pacarnya waktu sekolah dulu. Mungkin karena saya membaca novel percintaan, yang tak jarang buku-buku itu harusnya belum boleh saya baca. Tapi semakin rumit cerita yang disajikan semakin suka saya membacanya.  Membaca buku menurut saya bukan hanya jendela dunia, tapi juga pintu hati dan pikiran orang lain. Semakin banyak saya membaca semakin saya memahami dan mengerti situasi orang lain. Meski nantinya saya tidak bisa menghadapi diri saya sendiri karena kurang membaca buku tentang "kepribadian diri sendiri"

kondisi yang ada, seringkali membuat orang yang lebih tua sangat betah jika berbincang dengan saya, mungkin karena saya waktu kecil dulu, sesekali suka mengintip buku bacaan ayah saya yang psikolog itu, ah saya rasa bukan. Mungkin karena mereka merasa nyaman berbincang dengan saya yang kecil ini yang mereka kira tidak tau apa-apa, saya hanya mampu menjadi pendengar yang baik. Sampai ketika saya mulai memasuki jenjang SMA dan buku-buku asing yang diterjemahkan mulai banyak masuk ke Indonesia, semakin menambah heran teman-teman saya yang kebanyakan lebih suka belanja baju sedangkan saya lebih suka menghabiskan uang jajan saya dengan novel dan buku lainnya. Saya suka sekali melihat tumpukkan buku di kamar saya. saya dan keluarga biasanya memiliki sudut buku masing-masing. Hal tersebut membuat satu kebanggan tersendiri, lebih lagi jika tumpukan atau susunan buku milik saya lebih tinggi dari pada milik saudara saya yang lain.

Sampai kemudian, ketika saya kuliah saya baru merasakan besarnya manfaat membaca. Saya sangat mudah menemukan kata-kata yang logis untuk saya ungkapkan tiap kali saya mendapat giliran presentasi di depan kelas. Beberapa kali teman-teman saya selalu mengandalkan saya sebagai Juru bicara dalam kelompok, pun ketika mengerjakan tugas seringkali mereka menunjuk saya sebagai penulis isi materi. Karena apa? karena saya sudah terbiasa membaca dan mampu merangkum apa yang saya baca lewat tulisan maupun pembicaraan singkat di depan kelas dengan tepat.

Jadi, masihkah seorang kutu buku atau pecandu buku dikatakan sebagai seseorang yang kurang pergaulan? atau cupu? Buktikan saja sendiri manfaatnya olehmu. ^_^

  • view 373