Waspada Menyebar Hadis 'Hoax'

Rahmatullah al-Barawi
Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Agama
dipublikasikan 01 Juni 2018
Waspada Menyebar Hadis 'Hoax'

Kemajuan teknologi memang mempunyai dampak besar dalam perkembangan informasi di dunia maya. Satu berita dapat menyebar secara viral hanya hitungan menit bahkan detik. Jika berita tersebut positif tentu dapat memberikan dampak yang baik. Tetapi, seringkali berita yang viral justru berita yang palsu, tidak benar, alias ‘hoax’.

Fenomena tersebut berlaku juga dalam penyebaran dalil-dalil keagamaan seperti menukil hadis Nabi Muhammad Saw secara ‘serampangan’ tanpa upaya selektif terlebih dahulu. Perlu dicatat, tidak semua pesan yang mengatasnamakan Nabi Muhammad Saw lantas dapat dikatakan merupakan hadis nabi. Bahkan hal ini telah disadari oleh para ulama terdahulu yang pada akhirnya melahirkan ilmu hadis, ulum al-hadis al-riwayah dan al-dirayah dengan beragam cabang keilmuannya seperti ilmu tarikh al ruwah (sejarah/biografi perawi hadis), jarh wa al-ta’dil (kredibilitas perawi hadis), asbab al-wurud (sebab-sebab munculnya hadis), ma’anil hadis (metode memahami hadis) naqd al-sanad wa al-matan (analisis kritik sanad dan matan), dll. Semua cabang ilmu tersebut mempunyai peran diantaranya menyeleksi mana hadis Nabi Saw yang shahih, dha’if, atau bahkan palsu (maudhu’) dan bagaimana cara memahami hadis yang benar.

Pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw, terlebih setelah terjadi perpecahan di kalangan umat Islam yang berkaitan dengan perkembangan politik, ada Sunni, Syiah, Khawarij, dll. Maka lahirlah oknum-oknum yang mengatasnamakan Nabi Muhammad Saw untuk membela kelompoknya. Inilah cikal bakal perkembangan hadis maudhu’ (hoax) dan ulama telah mencoba menyeleksi hadis-hadis nabi yang berkembang, sehingga hadis yang shahih dapat dipahami sesuai konteksnya dan hadis yang dha’if terlebih maudhu’ dapat ditinggalkan.

Sayangnya geliat penyebaran hadis ‘hoax’ tersebut akhir-akhir ini marak kembali di tengah perkembangan sosial media. Padahal ancaman menyebarkan hadis ‘hoax’ adalah neraka jahannam. Hampir setiap hari ada saja pesan yang masuk di whatsapp grup yang berisi kutipan hadis nabi dan bagi seseorang yang membacanya dimohon atau bahkan diharuskan untuk menyebarkan ke yang lain. Jika pesan ini terus disebarkan, tentunya hal ini menjadi pembodohan publik atas nama dalil keagamaan.

Contoh redaksi pesannya: Sebentar lagi akan masuk malam Nuzulul Qur`an (momentum ini dapat diganti sesuai perayaan Hari Besar Islam lainnya seperti Maulid Nabi, Nishfu Sya’ban, Tahun Baru Hijriyah, dll, momentumnya berbeda tetapi substansi pesannya senada), Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang memberitahukan berita nuzulul quran kepada yang lain, maka haram api neraka baginya”. Tolong sebarkan pesan ini jangan putus di anda, tidak sampai satu menit untuk berdakwah.

Sebenarnya tidak sulit untuk melacak hadis tersebut shahih atau tidak jika seseorang sudah familiar dengan bahasa hadis Nabi Muhammad Saw.  Dr. Mahmud Thahhan dalam kitabnya, Taisir Mushtalah al-Hadis, hlm. 70 menjelaskan salah satu cara untuk mengetahui hadis palsu adalah dengan qarinah minal marwi, indikasi yang ada pada teks hadis tersebut, misalnya ada redaksi kata yang janggal atau substansi hadis yang bertentangan dengan akal atau dalil al-Qur`an (mukhalifan lil hassi aw sharih al-Qur`an).

Berdasarkan analisis teks (yang dikatakan sebagai) ‘hadis’ tersebut, ada beberapa tanda yang dapat diketahui yang mengindikasikan hadis palsu. Pertama, pesan tersebut tidak menyebutkan sumber kitab hadisnya secara langsung. Di antara kitab hadis yang mu’tabar adalah Bukhari, Muslim, al-Tirmidzi, al-Nasa’i, Ibn Majah, Abu Dawud, Imam Ahmad, Imam Malik, dll.

Kedua, bentuk tulisannya tidak beraturan secara EYD seperti ada huruf besar di tengah kalimat dan transliterasi Arabnya juga ‘amburadul’.  Ketiga, secara rasional mustahil Nabi Muhammad Saw menyampaikan hadis semacam itu. Sebab, perayaan Nuzulul Qur`an, Maulid Nabi, Tahun Baru Hijriyah, dll baru berlangsung pasca wafatnya beliau berdasarkan ijtihad dari para ulama. Keempat, indikasi hadis maudhu’ lainnya adalah menekankan ganjaran yang sangat besar, berlebih-lebihan, untuk perkara yang sepele. Akal sehat tentu bertanya, sangat mudah untuk tidak masuk neraka, cukup menyebarkan pesan singkat tersebut. Jika demikian, orang yang tak beragama pun bisa melakukannya. Keempat, indikasi berita hoax lainnya adalah pesan untuk menyebarkan sebanyak-banyaknya.

Sebenarnya niat dari penyebar pesan boleh jadi baik, untuk mengingatkan saudara-saudaranya, tetapi, niat yang baik saja tidak cukup jika tidak dilaksanakan dengan cara yang baik pula. Tentunya kita patut mengapresiasi semangat keberagamaan umat Islam saat ini. Tetapi, semangat keberagamaan yang tinggi dan tidak dibarengi dengan semangat belajar dan daya kritis dalam membaca suatu berita tentu berbahaya. Bukan hanya seputar hadis nabi saja, saat ini kita seringkali menyebarkan pesan-pesan yang belum dapat diklarifikasi kebenarannya.

Al-Qur`an mengajarkan jika ada berita yang belum jelas, segera klarifikasi (fa tabayyanu) kepada sumber atau ahlinya. Jika berita tersebut seputar kesehatan, maka bertanyalah kepada dokter. Jika berita seputar tindak kriminal, maka tanyakan kepada aparat yang berwenang. Jika pesannya seputar keagamaan, maka tanyakanlah langsung kepada ulama yang mumpuni di bidangnya. Inilah substansi dari firman Allah Swt, Fas’aluu ahladz dzikr in kuntum laa ta’lamuun (QS. al-Nahl [16]:43).

Oleh karena itu, bulan Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan minat baca dan daya kritis umat Islam. bukankah firman Allah yang turun pertama di bulan Ramadan adalah perintah membaca, Iqra`. Makna dari iqra` tidak sekadar membaca hampa perenungan. Iqra` memiliki substansi bacalah dengan penghayatan, perenungan, observasi, penelitian, sehingga melahirkan kesadaran dan kecerdasan dalam berpikir dan bertindak. Ingat, sebelum menyebarkan pesan, baca terlebih dahulu, jika meragukan tanyakan kepada ahlinya. Saring dulu, baru sharing. Jangan sampai jempol kita menyebabkan kita tidak selamat. Jika dulu ada pepatah Arab yang mengatakan salamatul insan fi hifdz al-lisan, maka pepatah itu sekarang dapat dikembangkan menjadi salamatul insan fi hifdz al-jempolan, keselamatan manusia terletak pada kecerdasannya menjaga jempolnya. Wallahu A’lam.   

  • view 99