Tahun Baru dan Kedewasaan Beragama

Rahmatullah al-Barawi
Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Renungan
dipublikasikan 31 Desember 2017
Tahun Baru dan Kedewasaan Beragama

(Mohon maaf, sebelum membaca, harap menyiapkan hati dan pikirannya terlebih dahulu. Membaca tulisan ini bisa membuat anda mempertanyak kembali keberislaman yang selama ini dianut. Tulisan ini cukup panjang dan berat meski aku berupaya tetap reflektif dengan bahasa yang ringan. So, jika merasa tidak sanggup berpikir berat, lebih baik tidak perlu dibaca. Salam.)
~~~
 
Tahun baru sudah di depan mata, beberapa saat ke depan 2017 tinggallah cerita. Ada banyak cara orang merayakannya, pergi ke gunung atau menepi ke pantai. Memilih jagung atau ayam bakar tuk disantap dengan orang tercinta. Semua itu masalah cara dan selera, berbeda, tapi tak perlu dicerca.
 
Begitupun aku yang memilih untuk tidak kemana-mana. Bukan sebatas malas gerak atau malas menghadapi kemacetan (meski aku pun mengamini, akhir-akhir ini Jogja rasa ibu kota). Beberapa tahun ke belakang, perayaan tahun baru sudah kulewati, mulai dari bebakaran, having fun di tempat keramaian, atau nge-camp di pinggir pantai bersama kawan seperjuangan.
 
Refleksiku saat ini, sudah terlampau sering aku berjalan kesana kemari, tapi, luput untuk berjalan ke dalam diri, inner journey. Flashback perjalanan hidupku dari masa ke masa, tentu bukan sekadar cerita tanpa makna.  
 
Membuka kenangan masa lalu mengingatkanku satu ayat perkataan Paulus dalam 1 Korintus 13:11.
 
“Pada masa kanak-kanakku, aku berbicara seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak, dan aku pun berpandangan seperti kanak-kanak. Tetapi, setelah aku dewasa, maka segala sifat kanak-kanak itu pun kutinggalkan..”
 
Ayat tersebut jika dibaca keseluruhan dalam pasal 13 berbicara tentang hukum Kasih. Tapi, bagian tersebut mengajarkanku bahwa pola pandang kita tentang kasih itu pun berproses. Di masa kanak-kanak, kita memahami bahwa kasih itu adalah memberi kepada orang yang kita cintai. Tetapi, ketika dewasa, kasih itu tak sekadar mengasihi yang dicintai, tetapi, mengasihi yang dibenci, bahkan mencinta tanpa syarat apa-apa (unconditional love).
 
Mungkin sebagian akan bertanya, studiku tentang Qur`an, tetapi mengapa aku mengutip Alkitab. Ini refleksi panjang, perenungan dan dialogku, bagaimana aku pada akhirnya bisa membaca dan menerima Alkitab sebagai satu kesatuan yang utuh dari firman Allah hingga sampai kepada Al-Qur`an. Toh, di dalam Al-Qur`an pun banyak disebutkan fungsi Al-Qur`an sebagai mushaddiq dan muhaimin dari kitab-kitab sebelumnya. Lantas, bagaimana kita bisa tahu mushaddiq dan muhaimin-nya Al-Qur`an jika kita tidak belajar kitab-kitab sebelumnya. Dulu, pandanganku tidak seperti ini. Aku anti dengan kitab-kitab yang lain selain Al-Qur`an. 
 
Itulah hidup, hidup itu berproses, tanpa proses, tidak ada kehidupan. Hidup itu dinamis, tanpa dinamisasi, tidak ada kehidupan. Hidup itu hijrah, tanpa hijrah, tidak ada kehidupan, (hidup itu move on, tanpa move on, jomblo seumur hidup lho mblo..hehe). Ini yang kurasakan selama 22 tahun menghirup udara kehidupan.
 
Dulu, sebagai seorang Muslim aku memahami bahwa kembali pada Al-Qur`an dan Sunnah itu adalah ketetapan yang tak dapat diganggu gugat. Apa kata Al-Qur`an, ikuti, apa kata Nabi, taati, tanpa kata tapi. Setiap Muslim yang tidak taat kepada Al-Qur`an dan Sunnah, maka dia adalah ‘musuh’, tidak patut didekati. Apalagi kepada non-Muslim yang jelas di dalam Al-Qur`an dikatakan ‘tidak akan ridha hingga umat Islam mengikuti agama mereka...’ (Pemahaman tekstual dari QS. Al-Baqarah [2]: 120).
 
Dulu, aku melihat dengan pola generalisasi dan simplifikasi, semua Yahudi dan Nasrani itu buruk dan jelek, tidak ada kebaikan di dalamnya. Hal-hal yang berbau Yahudi dan Nasrani serta merta tertolak. Dulu, aku melihat konflik Palestina-Israel murni semata konflik agama. Lagi-lagi, betapa bejatnya Wahyudi dan bala tentaranya menyerang umat Muslim di Palestina. Pada akhirnya, aku pun mengamini seruan boikot Amerika dan Israel karena alasan mereka Yahudi dan patut dijauhi.
 
Tapi itu dulu. Dulu ketika aku belum bersentuhan dengan khazanah keilmuan Islam yang begitu luas. Menelaah dan mengkaji berbagai pemikir Muslim, klasik dan kontemporer, Timur dan Barat. Aku pun masih merasakan bahwa pembacaanku masih sangat minim dan terbatas. Tetapi, di tengah proses ku saat ini, aku menyadari bahwa aku yang dulu berbeda dengan aku yang sekarang.
 
Ada proses, ada dinamisasi, ada hijrah yang ku jalani selama ini. Saat ini, aku pun tetap mengamini slogan al-Ruju’ ila al-Qur`an wa al-Sunnah. Tetapi, aku tidak lagi melihat Al-Qur`an dan Sunnah sebatas sebagai teks yang dipahami secara tekstual. Aku belajar dan memahami bahwa Al-Qur`an dan Sunnah juga merupakan konteks yang perlu dipahami secara kontekstual. Dengannya, kedua sumber utama Islam tersebut dapat shalih likulli zaman wa makan. 
 
Slogan kembali kepada Al-Qur`an dan Sunnah tidak sesederhana yang dulu ku pahami. Kembali kepada Al-Qur`an tanpa memahami tafsir itu sulit, untuk tidak mengatakan omong kosong, apalagi sebagai orang Indonesia yang tidak berbahasa Arab. Membaca terjemahan Al-Qur`an itu adalah selemah-lemahnya iman dalam memahami Al-Qur`an. Bahasa Al-Qur`an terlalu kaya untuk sekadar diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, banyak hal yang tereduksi. Setelah sampai di penafsiran, penafsiran mana yang mau digunakan, ada ribuan koleksi kitab tafsir yang menghiasi khazanah intelektual Islam. Aku justru khawatir, semboyan kembali kepada Al-Qur`an justru membuat kita lupa untuk menyentuh literatur tafsir yang beragam, cukup hanya dengan terjemah yang seragam.
 
Belum lagi semboyan kepada Sunnah, lebih kompleks lagi. Jika Al-Qur`an sudah disepakati kesahihannya, maka tidak halnya dengan Sunnah atau Hadis. Hadis masih perlu diteliti apakah hadisnya shahih, hasan, dha’if, atau maudhu’. Setelah mengetahui kualitas hadisnya, masih perlu memahami matan atau redaksi hadisnya. Ulama klasik, Ibnu Qutaibah menulis kitab berjudul ‘Ta’wil Mukhtalaf al-Hadis’, penjelasan seputar hadis-hadis yang kontradiktif. Bayangkan, hadis pun juga ada yang kontradiktif antara satu dengan yang lainnya, bahkan dengan Al-Qur`an. 
 
Kenapa hal tersebut dapat terjadi, karena Al-Qur`an dan Hadis punya konteks yang melatarbelakanginya. Sehingga memahami keduanya tidak dapat terlepas dari konteks tersebut. So, kembali kepada Qur`an dan Sunnah itu tidak sesimpel membaca buku Pintar Islam yang sekali duduk selesai.
 
Memahami esensi Al-Qur`an dan Sunnah itu adalah proses perjalanan hidup yang dinamis dengan segala kerumitannya. Inilah salah satu ciri kedewasaan beragama, tidak memandang sederhana teks kitab suci. 
 
Sekarang, aku melihat yang lain dengan tatapan kawan, bukan lagi sebagai lawan. Aku belajar bahwa kejahatan ada dalam semua agama. Orang Yahudi dan Nasrani yeng bejat memang ada, sebagaimana Islam yang hanya sekadar KTP. Tapi, orang Yahudi dan Nasrani yang berhati mulia, yang dalam Al-Qur`an pun dipuji sifatnya juga banyak.
 
Sekarang, aku melihat konflik Israel-Palestina tidak semata konflik agama, ada intrik keagamaan iya. Tapi, unsur politiknya terlalu besar untuk dinafikan. Banyak kepentingan yang bermain di dalamnya. Tidak semua orang Yahudi dan Nasrani pro dengan Israel, pun juga tidak semua orang Palestina itu Muslim, ada juga yang Kristen dan Yahudi. Disini aku pun mencoba belajar memilah antara Yahudi sebagai agama, Zionis, dan Amerika sebagai sebuah negara. Ketiganya adalah hal yang berbeda meski kadang berkaitan. So, sekarang aku tetap mendukung kemerdekaan masyarakat Palestina, bukan atas nama agama semata tetapi atas dasar kemanusiaan, itu yang utama. Mereka punya hak yang sama dengan yang lainnya untuk hidup aman dan nyaman di tanah kelahirannya sendiri.
 
Ini coretan dan refleksiku, ada dinamisasi, ada perubahan pola pikirku selama ini, dari yang melihat segalanya hitam dan putih, saat ini aku bisa melihat warna warni yang beragam. Tapi, satu hal yang terpenting, jangan berhenti berproses, jangan berhenti berdinamisasi, jangan berhenti hijrah, jangan berhenti move on, karena disaat kita berhenti, disitulah kematian kita sebelum menghadapi kematian yang sebenarnya. Wallahu A’lam bish Showwab.

  • view 236