Filosofi Hujan

Rahmatullah al-Barawi
Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 November 2017
Filosofi Hujan

Akhir-akhir ini siklus hujan memasuki masa puncaknya. Hampir setiap hari hujan menyapa menambah syahdu hari-hari sang perindu. Entah mengapa, sejenak hujan memberikan warna bagi generasi muda masa kini, menjadi puitis bak sastrawan yang menawan para gadis nan rupawan. Yah, memang setiap orang memiliki kisah “hujan’-nya masing-masing yang tak dapat dipaksakan. Setiap orang punya titik-titik kenangan hidup yang terekam dalam syahdunya rintik hujan.

Di sisi lain, adapula sekelompok orang yang mengeluhkan datangnya hujan yang tak berkesudahan. “Ya ampun, koq hujan lagi..!!”. Mereka menyesalkan hujan yang membuat mereka sulit bergerak dan beraktivitas. Alhasil, alasan mager (malas gerak) menjadi tranding topic manakala hujan bercengkerama tiada jeda. Mereka menganggap hujan menghambat pergerakan, memperlambat pencapaian hasil kerja. Apalagi bagi para pengguna transportasi roda dua, menambah satu keharusan, sedia jas (hujan), sebelum hujan.

Yah, begitulah hidup, ada lovers dan juga haters. Hujan, meski dipuja dan dinanti kehadirannya, tapi juga ‘dicaci’ dan ‘dimaki’ oleh kelompok lain. Dari hujan kita belajar, meski banyak yang ‘membenci’, tetapi ia tetap eksis memberikan kehidupan sebagai keniscayaan yang telah digariskan oleh Tuhan. Pernahkah terpikir oleh kita, manakala hujan ‘mager’, lantas mangkrak bertahun-tahun, tentulah kekeringan akan melanda yang membuat malapetaka.

Kisah lain dari hujan mengajarkan kita tentang adanya kepastian dalam kehidupan. Hujan adalah pasangan serasi dengan matahari yang memberikan pencerahan. Pencerahan yang diberikan oleh matahari tidaklah cukup menghasilkan kehidupan, tanpa kesejukan yang ditawarkan hujan.

Bersama hujan, kita belajar, meski di saat-saat tertentu kita akan melewati masa-masa kerinduan, penantian, ketenangan. Tapi setelah itu, kita akan berjumpa dengan kepastian, ketegasan, keberanian dari sinar mentari. Habis gelap terbitlah terang, habis rindu, terbitlah temu, habis hujan, terbitlah...(isi sendiri yaa..).

Berbicara tentang hujan, ingatanku mengenang salah satu drama korea yang berjudul “Love Rain” (bagi yang belum nonton, ini film recommended, hehe..). Dari judulnya sudah dapat diterka, betapa hujan memberikan andil dalam menumbuhkan benih-benih cinta di antara umat manusia.

Laksana hujan yang menjadi bentuk cinta langit kepada bumi. Langit mengirimkan surat cinta dalam bentuk rintik-rintik air yang menghidupi bumi dan seisinya. Dari langit dan bumi, kita belajar bahwa cinta bukan sekadar kata-kata, tapi cinta adalah aksi tindakan nyata (so sweet yaa..?? Nggak sih biasa aja..haha).

Sayangnya, di tengah derasnya cinta langit membasahi bumi, justru manusia semakin keras hatinya untuk mencinta. “Dengan hidup yang hanya sepanjang setengah tarikan napas, jangan tanam apapun kecuali cinta”. Kata-kata Rumi tersebut hanya sekadar slogan di tengah maraknya kebencian dan pertikaian yang ditanam terhadap sesama.

Miris memang, manusia yang seharusnya mencinta, justru merana dalam kebencian buta. Hujan memang sudah menjadi siklus hukum alam yang perputarannya tak dinafikan lagi. Tapi, sebagai manusia, punya akal dan hati sebagai potensi untuk introspeksi diri, sudahkah kita bertanya, apa sebenarnya filosofi hujan? Ojo mung baper tok karo hujan.

  • view 1.3 K