Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 10 Agustus 2017   08:06 WIB
Pertemuan(ku).

Kalian yang membaca tulisanku sebelumnya (klik disini) pasti tahu bahwa aku punya satu titik balik dimana aku memutuskan untuk join dalam satu komunitas.
 
Nah, sebelum itu, ada satu pertemuanku dengan 'kakak' senior di kampus yang menjadi pintu gerbangku mengenal komunitas tersebut.
 
Aku masih ingat, mata kuliahku saat itu Tafsir Ayat Ahkam, yang sayangnya, juga menyimpan memori kesedihan. Belum lama ini, dosen pengampunya meninggal dunia, Allahu yarham. Padahal masih terbayang di ingatanku nasihat dan senyuman beliau selama perkuliahan. 
 
Ringkasnya, di mata kuliah ini, aku ditugaskan satu kelompok dengan seniorku itu. Jujur, pertama kali bertemu dengannya, ada sedikit keraguanku melihat perawakannya. 
 
Rambut panjang, perawakan 'urak-urakan', memakai kaos, dan satu hal yang unik, logat makassarnya yang kental (satu poin ini yang menjadi poin plus, selain banyak minusnya, karena memang aku juga mempunyai darah bugis, satu suku yang bertemu di perantauan itu ada rasa kebanggan juga).

Namun, aku pun bertanya-tanya, kenapa orangnya harus yang 'seperti ini'. Jujur, di awal, aku agak takut dengan penampilannya, ini anak baik-baik nggak ya. Jangan-jangan nanti aku ikutan terpengaruh, bla-bla-bla. Pokoknya pertemuan pertamaku dengannya menyimpan banyak tanda tanya dan kecurigaan.
 
Singkat cerita, kami pun sering bertemu di kampus, perpus, untuk mengerjakan tugas makalah (ciye..ciye.. tapi sayang kakak seniorku ini cowok, bukan cewek, hahahaha). Disinilah kemudian aku mulai berinteraksi dan melihat bahwa porsi bacaan seniorku ini cukup banyak. Dia senang bercerita ngalor ngidul dan banyak mengutip dari referensi bacaannya. 
 
Beberapa bacaannya aku tahu, beberapa masih asing, sebagian lagi aku sekadar tahu nama penulisnya. Tetapi, tanpa disadari kekhawatiran dan ketakutanku berubah menjadi rasa respect dan hormat. Dalam hati kecil, aku bergumam untuk bisa berdiskusi lebih lanjut dengannya.
 
Jujur, dalam beberapa hal, aku menemukan ide-ide baru bahkan sedikit 'nakal' justru dari diskusi dengan seniorku ini dibanding perkuliahan di kampus (yang menurutku sedikit datar selama awal-awal kuliah). 
 
For your information, aku kuliah di jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir, dan sebelumnya juga mengenyam pendidikan di pesantren, bahkan Madrasah Aliyah (setingkat SMA) juga mengambil jurusan Keagamaan. So, dasar-dasar ulumul quran dan hadis (ilmu-ilmu yang membahas quran dan hadis) sudah banyak ku peroleh di jenjang pendidikan sebelumnya.
 
Awal perkuliahan, disuguhkan kembali dengan hal yang sama seperti di bangku pesantren membuatku agak jenuh dan bosan. Karenanya pertemuanku dengan seniorku ini sungguh mulai membuka mata hati dan pikiranku. Baru setelah semester 4 ke atas, aku mulai menemukan mata kuliah dan dosen-dosen kece yang semakin membuatku kritis dan berpikir logis.
 
So, dapat dikatakan pertemuanku dengan abang seniorku ini menjadi gebrakan awalku dalam pergumulan. Mulai mempertanyakan dan mengkritisi zona nyaman yang selama ini ku pertahankan. Hingga akhirnya, aku pun diajak untuk join dalam komunitas yang sebelumnya sudah diikutinya.
 
Satu hal yang ku pelajari, Tuhan tidak akan mempertemukan kita dengan orang yang salah. Semua pertemuan kita dengan orang baru, pasti mempunyai kesan tersendiri. Mungkin saat ini kita belum menyadarinya, tapi suatu saat, sepuluh atau bahkan dua puluh tahun lagi, kita akan menyadari dan bersyukur telah dipertemukan dengannya.

Dan akhirnya, adakah yang tahu orang yang ku maksud?. Bagi yang tahu, cukup sebatas tahu. Bagi yang tidak tahu, tak perlu mencari tahu. Hahahaha

Karya : Rahmatullah al-Barawi