Perpisahan(ku).

Rahmatullah al-Barawi
Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Agustus 2017
Perpisahan(ku).


Beberapa hari ini, aku melewatkan banyak moment bersama kawan, merajut kenangan yang sulit tuk dilupakan. 

Aku memang orang yang 'tak mudah' untuk berkomunikasi dengan orang baru. Tetapi, begitu aku merasa dekat, maka aku juga sulit untuk melupakan dan melepaskannya. 

Terkadang aku selalu bertanya-tanya, untuk apa Tuhan menciptakan pertemuan kalau toh pada akhirnya akan berpisah.

Aku ingin, kita bisa bertemu dan hanya bertemu, tak lagi berpisah. Sepertinya hidup ini lebih indah tanpa perpisahan.

Seorang teman berkata, berat rasanya untuk berpisah. Yapz, berpisah dengan orang yang dicinta, itu memang sakit. Tapi, kenapa Tuhan menciptakan perpisahan. Inikah keadilan yang dimaksudkan oleh-Nya?.

Pertanyaan itu selalu muncul, sehingga pada akhirnya aku memutuskan untuk menutup diri saja dengan orang lain. Aku bertemu dengan banyak orang dalam berbagai event, tapi cukup sebatas tahu. Aku tidak mau mengenal dan menjalin relasi lebih jauh lagi. Karena aku takut dengan satu kata: PERPISAHAN.

Sampai pada satu titik, aku mencoba membuka diri kembali, mengenal dan berinteraksi dengan orang baru. Hingga aku merasakan dan menemukan suasana kekeluargaan di tengah perantauan.

Aku sadar, membuka diri untuk berbagi, harus siap dengan konsekuensi. Aku senang bisa berkumpul dan bercengkerama dengan teman-teman baru. Meskipun aku harus merelakan untuk berpisah.

Berpisah dengan orang yang t'lah dekat memang menyimpan luka, tetapi Tuhan memberikan obat penawar rindu yaitu HARAPAN.

Hingga akhirnya, meski raga kita berpisah, tetapi, hati dan pikiran kita masih bisa bersatu.

Kini, aku tidak takut lagi untuk berpisah. Sebab, aku masih punya seribu harapan untuk berjumpa. Minimal bersua, dalam setiap doa yang terlantun, menyampaikan harapan kepada Tuhan Yang Maha Agung.

Kaliurang, 8 Agustus 2017.

  • view 40