Pergumulan(ku).

Rahmatullah al-Barawi
Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Agustus 2017
Pergumulan(ku).


Hidup itu unpredictable, hari ini kita bahagia, boleh jadi esok kita menangis tersedu. Hari ini kita bersama, lusa kita berpisah. Kita bebas berencana, tapi kepastian yang hakiki hanya Tuhan yang berkuasa.

Dulu, ketika kecil, aku sama sekali tak berpikir bisa melangkahkan kaki di pulau Jawa. Pulau Jawa menurutku bagaikan surga dan kenikmatan, di tengah keterbelakangan desaku di pelosok Kalimantan kala itu.

Dulu, aku cukup menikmati zona nyamanku, hidup bersama keluarga yang berkecukupan, dibesarkan dengan kasih sayang, dan tentunya penanaman nilai-nilai keagamaan.

Dulu, aku merasa terancam dengan kehadiran orang baru, apalagi yang berbeda. Karenanya aku cukup menutup diri dengan orang yang berbeda, beda suku, ras, agama, dll.

Tapi, itu dulu, seandainya ada kaset rekaman yang bisa memutar kondisiku dahulu, mungkin aku akan tertawa, tertegun, dan merenungkan aku yang dulu.

Saat ini, ternyata banyak hal yang berubah dari diriku. 10 tahun sudah aku berkelana di pulau Jawa. Aku juga mulai mempertanyakan dan ingin keluar dari 'zona nyaman'-ku selama ini.

Entah apa yang terjadi dalam diriku. Di satu sisi, ada suara yang mengatakan cukup, jangan keluar dari zona nyamanmu, bertahanlah disana. Di sisi lain, suara-suara kuat menggetarkan jiwaku dan mendorong untuk mulai berpikir lebih dalam lagi, mempertanyakan semua hal yang selama ini ku anggap tidak perlu dipertanyakan.

Pada akhirnya, aku tau kalau itu semua adalah pergumulanku. Awalnya, aku merasa pergumulan itu adalah suatu hal negatif. Aku harus berjuang dan melawan pergumulan itu.

Seiring dengan perjalanan waktu, aku pun mulai berpikir, bahwa tidak ada yang salah dengan pergumulan. Justru pergumulan itu adalah hal positif dan mendewasakan pikiran kita.

Sejenak, alam bawah sadarku kembali ke ratusan tahun yang lalu. Sosok Abraham muda yang bergumul mempertanyakan dirinya dan eksistensi Tuhan. Mencari kebenaran, mencari keyakinan, hingga akhirnya menemukan pencerahan dari perjalanan spiritual yang cukup panjang. 

Aku pun merenungkan kisah Ibrahim tersebut. Melalui pergumulannya, ia berhasil menjadi sosok yang dikenang sejarahnya sepanjang masa. Maka, kiranya melalui pergumulanlah, kita bisa belajar bahwa hidup itu tak seindah drama korea (meski tetap saja, banyak faedah menonton drama korea, hehehe).

Sampai saat ini pun, aku terus bergumul dengan diriku sendiri. Hanya bedanya, jika dulu aku merasa tersiksa dengan pergumulan itu, sekarang aku justru bersyukur. Sebab, aku yakin bahwa itulah cara Tuhan untuk mendidik dan mendewasakan hambanya.

Dan satu hal, aku bersyukur melalui pergumulan itu, aku bertemu dengan sahabat-sahabat baru yang selalu memotivasi dan menjadi teman curhat di kala suka dan dukaku. Kembali lagi, jika aku hidup di masa lalu, tak terpikirkan olehku akan berjumpa dengan kalian, teman-teman yang super dan luar biasa. 

Pada akhirnya, hidup tanpa ada rasa penasaran dan pertanyaan itu 'membosankan'. Sama membosankannya dengan hidup sehari tanpa melihat senyumanmu. Walaupun pada akhirnya aku pun mengerutu dengan pertemuan, karena dengannya aku merasakan pahitnya perpisahan. #eakk. 

Mojokerto, 07 Agustus 2017. 

  • view 66