Pengembangan Sosial Media Berbasis Maqasid

Rahmatullah al-Barawi
Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Agama
dipublikasikan 13 Juni 2017
Pengembangan Sosial Media Berbasis Maqasid

Belum lama ini, Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa etika ber-sosial media di era kontemporer. Pertanyaannya adalah, segenting itukah bersosial media hingga MUI harus mengeluarkan fatwa tersebut. 

Tulisan ini tidak sedang menyoroti fatwa MUI. Hanya saja, fatwa tidak akan muncul jika tidak ada masalah. Pun sama dengan pepatah tidak ada asap kalau tidak ada api.

Seringkas tulisan ini, mencoba membahas dan mengajak kita merenung tentang maksud dan tujuan (maqasid) dalam bersosial media. Sebenarnya konsep maqasid ini diadopsi dari filsafat hukum Islam. Tetapi, tulisan ini tidak banyak menggunakan istilah yang 'melangit' sehingga harapannya masih dapat 'membumi' dalam pemahaman masyarakat umum.

Mengapa maqasid ini penting? Karena seseorang yang tahu maksud dan tujuan, maka ia akan selalu berada dalam koridor yang tepat. Layaknya seseorang yang tahu tujuannya diangkat sebagai pejabat pasti tidak akan mau korupsi dan menyelewengkan otoritas yang dimilikinya.

Jika kita menelisik perkembangan teknologi, mengapa simbah Larry Page dan Sergey Brin membuat google, mas Mark Zuckerberg dengan facebooknya, mas Kevin Systrom dan Mike Krieger dengan instagramnya? Salah satu jawabannya adalah untuk memudahkan komunikasi dan penyebaran informasi umat manusia. 

Betapa tidak? Dahulu sebelum ada teknologi, seseorang harus bertemu dan bertatap muka untuk berkomunikasi. Saat ini, jarak dan waktu tak lagi menjadi masalah, informasi dapat tersebar dengan cepat, jejaring dan relasi semakin luas, silaturahim tetap terjaga, sehingga terciptanya kerukunan, persatuan, dan kesatuan di antara masyarakat. Semua ini merupakan maqasidul ammah (tujuan umum) dari adanya sosial media.

Nah, dalam rangka mencapai maqasid tersebut, ada dua hal yang harus dilakukan yaitu jalbul mashalih dan dar'ul mafasid.

Jalbul mashalih adalah upaya menggapai maslahah sebanyak-banyaknya melalui sarana yang ada. Ingat, sarana ini bisa berubah-ubah, tetapi, maqasid -nya tetap sama. 

Seseorang yang mau mengekspresikan pendapatnya sebanyak-banyaknya tanpa dibatasi space kata akan memilih menggunakan facebook.

Seseorang yang cenderung singkat dan lugas dalam berkata-kata lebih memilih twitter. Sedangkan orang yang menyampaikan pesan melalui visualisasi gambar akan memakai instagram.

Pun demikian, seseorang yang punya keahlian membuat film dan menyampaikan pesan lewat gambar bergerak (video), maka ia akan menggunakan youtube.

Bukan tanpa impian, ke depan akan muncul teknologi-teknologi baru yang lebih canggih seperti yang sudah terlihat dalam film-film scientific. Ingat, ini hanya sarana yang bermacam-macam. Kita bebas memilih sarana yang sesuai dengan keahlian kita.

Tetapi, yang harus dijaga adalah maqasid dalam bersosial media, yaitu menyampaikan informasi yang benar dan menambah relasi seluas-luasnya sehingga tercipta kerukunan, persatuan, dan kesatuan. Dengan menjaga maqasid ini, maka akan diperoleh kemaslahatan.

Selain itu, dalam bersosial media seseorang juga harus menegakkan prinsip dar'ul mafasid, yaitu mencegah indikasi terjadinya kerusakan dari mencapai maqasid. 

Dalam hal ini, maka seseorang tidak boleh menyebarkan berita palsu (hoax), fitnah, pesan yang mengadu domba, hujatan, cacian, dan lain-lain. Sebab, hal-hal tersebut dapat menciderai tercapainya maqasidul 'ammah dari sosial media.

Selain itu, dalam rangka mencegah kerusakan, maka seseorang tidak boleh langsung percaya dengan berita yang beredar, terlebih jika berita itu terkesan ada manipulasi atau di luar nalar manusia.

Maka untuk menjaga maqasidul ammah tersebut, perlu adanya klarifikasi atau tabayyun terlebih dahulu. Prinsip tabayyun ini menjadi salah satu prinsip yang harus ditegakkan demi tercapainya kemaslahatan dan menolak kemadharatan.

Dengan demikian, sudah saatnya citizen dan masyarakat Indonesia cerdas dalam bersosial media. Jangan hanya terpaku dengan sarana sehingga lupa dengan tujuan. Tetapi, jadikanlah sarana sebagai jalan untuk menggapai tujuan.

Bijaklah ber-sosial media dalam rangka menggapai kemaslahatan dan tujuan bersama. Bukan sebagai ajang penyebar fitnah, hujatan, dan cacian yang justru mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Wallahu A'lam bish Showwab.

  • view 89