Buka Bersama: Benih Eksklusivisme?

Rahmatullah al-Barawi
Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Juni 2017
Buka Bersama: Benih Eksklusivisme?

"Selama bulan Ramadan ini jadwalku padat banget.."

"Waw, koq bisa, banyak undangan buka bersama ya..?"

"Iya nih, buka bersama teman-teman SMA aja nyampe 4 kali, angkatan kelas X, angkatan kelas XI, angkatan kelas XII, dan seluruh angkatan.."

Begitu sekilas percakapanku dengan salah seorang teman ketika sedang menunggu waktu buka puasa. Seraya mengingatkanku pada satu nilai bahwa setiap orang memiliki identitas yang beragam. 

Identitas tersebut muncul dan terbentuk salah satunya disebabkan adanya satu kesamaan, misal kesamaan alumni sekolah, kesamaan jurusan, kesamaan asal daerah, kesamaan hobi, dll. 

Adanya kesamaan identitas yang membentuk kelompok-kelompok tersendiri menjadi benih-benih paham eksklusif. Secara umum, eksklusif berarti terpisah dari yang lain.

Sebenarnya tidak keliru jika kita bergaul dan berkelompok dengan seseorang yang memiliki identitas yang sama dengan kita. Permasalahan muncul jika kita menjadi kelompok yang tertutup, tidak mau bergaul dengan kelompok yang berbeda, apalagi jika dianggap sebagai lawan yang harus disingkirkan.

Maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kita tidak menjadi kelompok yang eksklusif.

Pertama, membentuk identitas dan mencari kesamaan itu adalah naluri setiap manusia. Tetapi, perlu dipahami bahwa ada identitas universal di atas identitas kelompok, yaitu identitas kemanusiaan. Kita semua adalah ciptaan Tuhan yang sama derajatnya. Maka hindari mencaci maki, mencemooh, menghina kelompok yang berbeda, sebab, mereka punya identitas yang sama dengan kita, yaitu sebagai seorang manusia.

Kedua, identitas pribadi seseorang tidaklah mewakili identitas kelompoknya. Dengan kata lain, jangan meng-generalisir seseorang ke dalam kelompoknya secara umum. Misal ada satu pemeluk agama A yang berbuat kesalahan, maka jangan menganggap bahwa semua pemeluk agama A itu salah. 

Ketiga, tempatkanlah seseorang sesuai dengan identitasnya. Misalnya seorang kepala negara, pada waktu yang bersamaan ia juga seorang ayah, anak, kepala keluarga, pengurus partai, pengurus ormas, dll. Maka tidak elok jika sikapnya sebagai seorang kepala keluarga direpresentasikan sebagai seorang kepala negara.

Dengan demikian, buka bersama menyadarkan kita bahwa manusia itu memiliki identitas yang beragam. Tetapi, keragaman identitas tersebut dipayungi dalam satu identitas universal yaitu identitas kemanusiaan. Maka sudah sepatutnya untuk memanusiakan manusia, bukan memanusiakan identitas atau kelompok tertentu saja.

Lantas, kapankah ada waktunya buka bersama kemanusiaan (lintas kelompok, suku, strata sosial, agama, dll)?

Lantas, dapatkah kita bersatu dalam naungan identitas kemanusiaan?

Sembari menanti buka puasa, aku merenung. Ah, sudahlah, memang urusan perut seringkali mengalahkan yang lainnya.

  • view 73