Tiga Hal Inkonsistensi dalam Berpuasa

Rahmatullah al-Barawi
Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Renungan
dipublikasikan 29 Mei 2017
Tiga Hal Inkonsistensi dalam Berpuasa

Ajaran puasa telah dikenal sejak lama dan hampir digunakan dalam setiap tradisi keagamaan di dunia, termasuk tiga agama samawi, Yahudi, Kristen, dan Islam. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab berpuasa terbukti memiliki beberapa manfaat.

Logika dasarnya memang menyatakan bahwa puasa memiliki sejumlah faedah. Tetapi, dalam kesehariannya, terdapat kesenjangan antara idealitas dan realitasnya. Berikut tiga hal inkonsistensi yang sering dilakukan oleh orang yang berpuasa.

Pertama, dengan berpuasa, pengeluaran belanja harian akan berkurang. Sebab, seseorang yang biasanya 3 kali makan, selama berpuasa menjadi hanya dua kali makan. Dengan demikian, seharusnya berpuasa dapat menghemat belanja bulanan.

Namun, faktanya selama satu bulan berpuasa justru biaya pengeluaran bertambah besar. Sikap konsumtif orang berpuasa ternyata meningkat, mulai dari belanja makanan yang berlebihan hingga belanja baju baru  dan persiapan pernak pernik lebaran. Sehingga gaji 13 atau THR pegawai berasa kurang. Padahal, jika sikap konsumtif dan berlebih-lebihan itu dapat dikendalikan melalui puasa, maka gaji 13 atau THR bisa menjadi tambahan investasi tabungan.

Kedua, bulan puasa diyakini menjadi bulan untuk beribadah dengan tenang. Sebab, setan dan iblis dibelenggu dan dipenjarakan di neraka selama bulan Ramadhan.

Tetapi faktanya kejahatan dan kemaksiatan masih merajalela meskipun bulan Ramadhan. Contoh sederhananya, sandal di masjid masih sering hilang.

Hal ini mengisyaratkan bahwa untuk berbuat jahat, itu bukan semata karena faktor luar (setan), tetapi juga setiap manusia telah memiliki potensi dalam jiwanya untuk melakukan kejahatan. Nah, dengan puasa kita dilatih untuk mengekang diri dari berbuat jahat.

Ketiga, puasa membentuk pribadi yang sehat. Namun, realitanya justru banyak orang yang berpuasa menjadi tidak produktif, bermalas-malasan, mudah mengantuk dan lemas badannya. 

Jika demikian, berarti ada yang salah atau kurang dari puasa yang selama ini dijalani. So, mari introspeksi diri masing-masing, sudah benarkah sikap dan perilaku kita selama berpuasa?. Seraya berharap, semoga ke depannya, puasa yang kita jalani benar-benar dapat memberikan dampak positif dan melahirkan generasi muttaqin. Wallahu A'lam bish Showwab.

 

  • view 117