Hadis Hoax Seputar Puasa

Rahmatullah al-Barawi
Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Agama
dipublikasikan 27 Mei 2017
Hadis Hoax Seputar Puasa

Menyambut bulan Ramadhan, salah satu trend tahunan yang menyita perhatian adalah meningkatnya spiritualitas umat Islam dalam beribadah. Indikasinya adalah meningkatnya jamaah masjid di awal Ramadhan dan maraknya siraman-siraman rohani di berbagai tempat dan kesempatan.

Betapa tidak? Masjid yang selama ini sepi, menjadi ramai bak mall yang baru launching. Instansi-instansi pemerintahan dan perusahaan pun berlomba-lomba mengadakan kegiatan keagamaan dan bakti sosial. Bahkan, tayangan TV yang selama ini penuh dengan melankolis drama percintaan berubah serasa lebih 'Islami'. Iklan-iklan dan diskon-diskon belanja bertaburan bak senang menyongsong bulan penuh berkah ini.

Kegembiraan tersebut bukan tanpa alasan, sejumlah ustadz kemudian menyitir (yang katanya) hadis Nabi Saw berbunyi: Man fariha bi dukhuli ramadhan harrama Allahu jasadahu 'ala al-niiraan. Siapa yang gembira dengan kedatangan bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka. 

Bagi orang awam yang mendengar hadis tersebut, tentu akan timbul kebahagiaan. Tetapi, bagi seseorang yang memiliki jiwa kritis, tentu akan bertanya, apakah benar ada hadis seperti itu?.

Mari kita cek bersama. Hadis tersebut sebenarnya masyhur di kalangan umat Islam, sebab sering diulang-ulang dalam ceramah agama. Tetapi, jika meneliti hadis tersebut, ternyata hadis tersebut tidak terlacak dalam kitab-kitab hadis mu'tabarah (yang menjadi rujukan) seperti kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Sehingga berat rasanya untuk bisa menyandarkan hadis tersebut kepada Nabi Muhammad Saw.

Terlebih, hadis tersebut justru ditemukan dalam kitab Durrah Nashihin yang oleh banyak ulama hadis disebut mengandung banyak hadis-hadis palsu (hoax) dan kisah-kisah fiktif. Demikian penjelasan pakar Hadis Indonesia, Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. -yang belum lama ini wafat- dalam karya beliau berjudul "Hadis-hadis Bermasalah" hlm. 180.

Selain itu, ada beberapa hadis bermasalah seputar puasa lainnya yang dipaparkan oleh beliau, di antaranya hadis Ramadhan diawali Rahmat, Ramadhan setahun penuh, tidurnya orang berpuasa itu ibadah, dll (Silahkan baca buku beliau untuk mengetahui penjelasan lebih mendalam).

Menyikapi fenomena tersebut, sebenarnya penyebaran berita hoax bukanlah hal baru. Sebab, sejak awal perkembangan Islam pun kabar-kabar hoax sudah mulai beredar. Untuk itu, ulama membuat ilmu jarh wa al-tadil dan tarikh al ruwah untuk memverifikasi suatu berita agar terhindar dari berita hoax.

Hal yang perlu digarisbawahi adalah kesahihan suatu berita itu harus dilihat dari dua aspek sekaligus, yaitu sumber yang valid dan substansi pesan yang benar. Atau dalam ilmu hadis dikenal aspek sanad dan matan. 

Dalam konteks modern saat ini, kita pun harus jeli dalam menyaring berita. Terlebih di tengah kemudahan informasi dan komunikasi, berita apapun dapat diakses dengan mudah. Namun, kemudahan yang ada jangan membuat kita menjadi enggan untuk bersikap kritis. Telitilah berita yang ada sebelum meyakini kebenarannya.

Kita belajar dari kehidupan ulama hadis terdahulu, bahkan perkataan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw pun tidak bebas dari nilai dan kritik. Apalagi perkataan yang disandarkan oleh manusia biasa. Marilah bersikap adil dan kritis sejak dalam pikiran. Wallahu A'lam bish Showwab.

  • view 300