Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 27 April 2017   23:08 WIB
Mengambil Hikmah dari Yunani

Ευρίσκω Σοφία, Eurisko Sophia. Dua kata dalam satu kalimat bahasa Yunani, Ku temukan hikmah. Begitu kira-kira terjemahan bebasnya. Eurisko, kata itu yang pertama kali diucapkan oleh Archimedes ketika menemukan ide yang nantinya melahirkan hukum Archimedes tentang berat massa dan berat jenis air.

Sedangkan sophia, menurut beberapa pendapat merupakan akar kata dari tasawuf/sufi dalam bahasa Arab, yang bermakna hikmah/wisdom.

Tulisan ini merupakan bentuk rasa syukurku, dapat belajar dan memahami bahasa Yunani. Aku menemukan satu pelajaran berharga dari pembelajaranku terhadap bahasa Yunani.

Sebenarnya, aku mulai berpikir lebih dalam setelah menonton film Kartini. Dalam salah satu percakapan Kartini dengan KH. Sholeh Darat (salah satu ulama Nusantara yang berhasil membumikan nilai dan pesan al-Quran ke dalam bahasa Arab pegon) ada hal yang membuatku tersentak.

Setelah Kartini mengusulkan untuk diadakannya penerjemahan al-Quran agar dapat dipahami oleh masyarakat luas, Kiai Sholeh menuturkan kekhawatirannya terhadap umat Islam masa itu yang merasa cukup belajar dan mampu membaca al-Quran sesuai dengan bahasa aslinya. 

Tentu hal tersebut baik, tetapi mencukupkan diri belajar pembacaan bahasa aslinya akan membatasi usaha untuk mampu memahami dan mengamalkan nilai-nilai al-Quran. Tentu umat Islam bisa dengan fasih membaca al-Quran, tetapi minus pemahaman dan penghayatan.

Hal ini mirip tetapi bertolakbelakang dengan realitas teman-teman Kristen. Selama berdialog dan berdiskusi dengan teman-teman Kristen dalam forum interfaith, aku belajar bahwa dalam tradisi Kristen pada umumnya, belajar Alkitab lebih menekankan pemahaman dalam bahasa kandungnya (Indonesia, Jawa, Bugis, Batak, dll).

Hal tersebut bukan tanpa alasan, sebab, pemahaman dan pemaknaan kitab dari bahasa aslinya sudah dipasrahkan secara khusus pada Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Mirip dengan Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran.

Hanya saja, keduanya memiliki problem dan tantangan. Sekadar belajar cara membaca bahasa asli, tanpa disertai penghayatan dan pemahaman akan berujung pada ritual formalitas tanpa makna. Meski, dalam titik ini sebagian Muslim akan berdalil, membacanya saja mendatangkan pahala. Logika ini bisa ditambahkan, jika membacanya saja berpahala, apalagi jika dibarengi dengan pemahaman dan pengamalan, tentu pahalanya lebih besar lagi.

Sebaliknya, memahami kitab suci berdasarkan terjemahan dan pemaknaan semata tanpa melirik dan menarik pemahaman dari bahasa aslinya akan mereduksi makna-makna yang terkandung dalam bahasa asli.

Misal, pemahaman kata αγάπη (agape) dan φίλε (phile). Keduanya berarti cinta atau kasih. Tetapi, sebenarnya dengan memahami bahasa aslinya, ternyata cinta agape itu merupakan cinta tingkatan tertinggi, bukan sekadar cinta phile. Cinta agape itu cinta yang totalitas, tanpa syarat. 

Dengan memahami hal tersebut saja, maka ketika membaca Alkitab, Yahya/Yohanes, 21:15-19, kita dapat melihat bahwa konteks perkataan Isa menggunakan cinta yang agape, sedangkan Simon menjawab dengan cinta yang phile.

Begitupula ketika membaca Lukas, 10:27, disitu teks aslinya menyebutkan Αγαπήσεις  κύριον  τον Θεόν (Agapeseis kurion ton theon), Kasihilah Allah, Tuhanmu. Ayat tersebut menggunakan kata agape, yang berarti mengasihi dengan totalitas.

Luar biasa, pemaknaan-pemaknaan itu ku temukan setelah belajar bahasa aslinya. Karenanya, seharusnya dan sejatinya, belajar bahasa asli dapat menjadi penyokong dan penguat untuk dapat memahami kitab suci secara mendalam.

Sembari itu, aku mulai berpikir betapa hebatnya ilmuwan-ilmuwan Muslim tempo dulu yang mencatatkan sejarah keemasan Islam. Mereka mampu menerjemahkan ribuan karya Yunani ke dalam bahasa Arab. 

Lha aku, belajar sedikit grammar Yunani Koine saja sudah menggerutu dan pusing. Karenanya, aku berkesimpulan bahwa kemajuan peradaban itu berawal dari kemauan untuk membuka wawasan dan berpikir secara luas.

Layaknya Kartini pernah berkata, raga boleh terpasung, tetapi, jiwa dan pikiran tetap harus terbang tinggi setinggi-tingginya. Dan belajar bahasa, menjadi salah satu sarana untuk membebaskan pikiran dari belenggu kejahilan dan fanatisme buta. Wallahu A'lam.

Karya : Rahmatullah al-Barawi