Isra’ Mi’raj: Perjalanan Merajut Perdamaian

Rahmatullah al-Barawi
Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Agama
dipublikasikan 24 April 2017
Isra’ Mi’raj: Perjalanan Merajut Perdamaian

Setiap tanggal 27 Rajab, umat Islam di seluruh dunia memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Isra’ bermakna perjalanan spiritual Nabi Muhammad Saw dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha. Sedangkan mi’raj berarti perjalanan spiritual Nabi Saw dari Masjid al-Aqsha naik ke atas langit menghadap Sang Rabb di Sidratul Muntaha.

            Dengan kata lain, perjalanan isra’ mi’raj merupakan simbol perjalanan vertikal sekaligus horizontal seorang hamba. Perjalanan isra’ Nabi Muhammad terekam dalam QS. Al-Isra` ayat 1, dan mi’raj Nabi diabadikan dalam QS. Al-Najm ayat 1-18. Perlu digarisbawahi terkait perjalanan isra’ mi’raj ini terjadi silang pendapat di antara ulama dan ahli kalam (teolog). Ada yang berpendapat perjalanannya secara fisik, ada juga yang berpendapat secara ruhaniah. Penjelasan terkait hal tersebut bisa dibaca lebih jauh dalam kitab-kitab sirah nabawiyah, atau buku-buku kontemporer seperti karya Karen Armstrong atau Muhammad Husain Haekal yang mengangkat biografi Muhammad.

            Selama ini, umat Islam selalu belajar dan berefleksi dari perjalanan isra’ mi’raj yaitu terkait perintah melaksanakan shalat lima waktu. Bayangkan, khusus untuk perintah mendirikan shalat lima waktu, Allah Swt secara langsung memanggil Nabi Muhammad Saw untuk menghadap-Nya. Oleh Karena itu, posisi dan peran shalat dalam keyakinan umat Islam sangat fundamental. Begitu kira-kira substansi ceramah peringatan isra’ mi’raj bagi umat Islam dari tahun ke tahun.

            Tetapi, sebenarnya ada narasi-narasi kisah dalam isra’ mi’raj yang menarik untuk dicermati kembali. Berawal dari perjalanan vertikal Nabi, minal masjidil haram ilal masjidil aqsha. Mengapa yang dipilih adalah Masjid al-Aqsha di Yerusalem?. Jika menelisik lebih jauh, sejarah mencatat, dua agama samawi sebelumnya, yaitu Yahudi dan Kristen lahir dan berkembang disana.

            Posisi Yerusalem, menurut hemat penulis menjadi titik temu bagi perdamaian agama-agama samawi. Ketiga agama, Yahudi, Kristen, dan Islam dapat hidup rukun dan damai di tanah suci, yang diberkahi. Sedari dulu, Yahudi beribadah di Tembok Ratapan, Orang-orang Kristiani mengunjungi Gereja Makam Kristus, dan orang-orang Islam beribadah di Masjid al-Aqsha.

Bukan tanpa alasan, jika dikaji lebih dalam, kata Yerusalem dalam bahasa Ibrani adalah Yerushalayim, terdiri dari dua kata, yerusha yang berarti warisan, dan shalom yang bermakna damai. Sehingga Yerusalem berarti warisan perdamaian. Meski demikian, sejarah pun mencatat konflik yang lahir dan terjadi di Yerusalem. Ketika ego manusia lebih tinggi dan merasa bahwa kota ini hanya milik komunitasnya semata, maka konflik yang berujung dengan kekerasan pun terjadi. Keberkahan dan kedamaian menjadi sirna ditelan keegoan dan kejahilan manusia.

            Setelah melakukan perjalanan vertikal, Nabi Saw dibimbing oleh Malaikat Jibril melakukan perjalanan horizontal, meniti langit demi langit hingga ke puncak tertinggi, sidratul muntaha, menghadap Sang Pencipta. Ada yang menarik dari proses kenaikan Nabi Muhammad Saw tersebut, yaitu dari setiap tingkatan langit, beliau selalu bertemu dengan Nabi-nabi terdahulu, Nabi Adam di langit pertama, Isa dan Yahya di langit kedua, Yusuf di langit ketiga, Nuh di langit keempat, Harun dan Musa di langit kelima, dan di langit ke enam, sebelum sidratul muntaha, yaitu Nabi Ibrahim.

            Perjalanan Nabi Saw tersebut sejatinya sekaligus mengukuhkan peran dan posisi Nabi Muhammad sebagai penerus risalah kenabian. Sebab, sebelum terjadi peristiwa isra’ mi’raj, terjadi banyak tekanan dan intimidasi dari orang-orang kafir Quraisy. Setelah sebelumnya Nabi Muhammad juga kehilangan dua sosok pelindung setia beliau, yaitu pamannya Abu Thalib, dan istrinya Khadijah binti Khuwailid. Karenanya, perjalanan mi’raj ini sekaligus menjadi penghibur dan penguatan kondisi psikologis bagi Nabi Muhammad Saw.

            Bagi umat Islam, peristiwa mi’raj tersebut seharusnya menjadi penguatan bahwa Islam dan agama-agama samawi sebelumnya adalah bersaudara dan memiliki rangkaian kesinambungan. Betapa tidak, dengan akrab dan ramah, melalui mi’raj Nabi Saw bertemu dan menyapa nabi-nabi terdahulu. Karenanya, sebagai seorang saudara, Yahudi, Kristen, dan Islam seharusnya dapat saling merangkul dan bekerjasama dalam menjalani kehidupan di muka bumi.

            Patut digarisbawahi bahwa pengalaman spiritual setiap orang tentu berbeda-beda dan unik. Dan boleh jadi pula, perjalanan spiritual seperti Nabi Muhammad Saw juga dikenal dalam tradisi agama-agama lain. Tetapi, poinnya adalah bahwa perjalanan spiritual tersebut dapat terjadi manakala seorang manusia dengan segala keterbatasannya, mampu melepaskan ketergantungannya pada dunia, mengalami penderitaan dan kesengsaraan sementara (fana`, dalam bahasa sufi), menuju kehidupan yang hakiki dan abadi di bawah naungan cahaya keilahian (baqa`).

            Berdasarkan perjalanan spiritual Nabi Muhammad Saw, kita juga dapat belajar bagaimana merajut perdamaian di tengah keragaman. Pertama, mau bergerak, move on, Nabi Muhammad mencontohkan melalui pergerakannya dari Mekkah ke Yerusalem. Pergerakan beliau tidak setengah jalan atau setengah hati, tetapi pergerakan yang totalitas dan menyeluruh. Mekkah ke Yerusalem pada masa dulu tentu ditempuh dengan waktu yang sangat lama. Belum lagi tradisi dan lingkungan kedua kota tersebut tentu berbeda. Karenanya, proses-proses untuk keluar dari zona nyaman (comfort zone) menjadi kunci pertama dalam merajut perdamaian.

            Kedua, mau terbuka terhadap realitas keberagaman. Perjalanan Nabi Saw bertemu dengan nabi-nabi terdahulu seharusnya menjadi jembatan bagi kita umat Islam, untuk juga belajar terhadap realitas Musa dan umatnya (Yahudi), serta Yesus dan jamaahnya (Kristen).

            Selama ini, kita sering mendengar bahwa kita bersaudara, kita beragam, kita bhinneka, tetapi, kita sejatinya tidak pernah mengetahui keberagaman itu sendiri. Sebab, kita tidak tahu perbedaan-perbedaan serta persamaan-persamaannya. Untuk menghargai keberagaman secara benar, maka kita harus belajar tentang realitas perbedaan dan persamaannya secara menyeluruh, sehingga kita benar-benar dapat menghargai dengan setulus hati, bukan sebatas isapan jari. Wallahu A’lam bish Showwab.

Kaliurang, 27 Rajab 1438 H/ 24 April 2017 M.

  • view 101