Belajar Bahasa dan Cinta

Belajar Bahasa dan Cinta Belajar Bahasa dan Cinta

Membaca judulnya, ada dua hal yang menarikku untuk membahasnya. Pertama, akhir-akhir ini aku sedang konsen belajar Bahasa Yunani. Patut diakui, belajar bahasa Yunani, awalnya saja yang mudah, semakin menyelami tata bahasanya, semakin rumit dan njlimet. Kedua, malam ini (katanya) malam minggu, meski ada yang menganggap 'mitos' malming dan hanya menerima sabtu malam dalam kamusnya.

Lantas, apa hubungannya belajar bahasa dan cinta? Ini sekadar refleksi pribadiku, boleh jadi (nggak) sepakat. Bahasa dan cinta, sama-sama diksi yang sulit dimengerti, tetapi bisa dirasakan dan diaktualisasikan. 

Pernah nggak bertanya mengapa agape (dalam bahasa Yunani) berarti cinta tanpa syarat. Kita tidak pernah memikirkannya dan tak mau tau, karena alasannya itu sudah arbitrase, ketetapan dari sananya. Sama seperti mengapa meja disebut meja, bukan kursi atau sepatu. Yah, pada akhirnya kita hanya bisa menggunakan kata-katanya tanpa tahu asal muasalnya. Begitulah kurang lebih cinta bermula. Kita tak pernah tau, kapan kita mulai mencintainya, tetapi, tiba-tiba sudah ada perasaan yang tak terpendam.

Bahasa dan cinta juga sama-sama hal yang perlu diulang-ulang terus menerus. Belajar bahasa bukan belajar mengetahui apalagi hanya hafalan semata. Dijamin belajar semacam itu tidak akan awet. Belajar bahasa yang jitu adalah mempraktekkannya dan membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari. Persis pepatah yang mengatakan ala bisa, karena biasa, tresno jalaran seko kulino. 

Hanya saja, bahasa dan cinta memiliki sedikit tantangan. Bahasa itu terbatas pada struktur kata-kata yang mengikat, tetapi, cinta itu adalah hal yang tak terbatas pada kata-kata. Meski bahasa mengatakan 'I Love You', tetapi, sejatinya cintaku melebihi dan tak bisa terangkum hanya sebatas dalam kata-kata. Dalam konteks ini, bahasa hanya sebagai simbol untuk mengungkapkan rasa cinta.

Karenanya, bahasa dan cinta itu sangat kompleks untuk digambarkan. Keduanya lebih tepat untuk dipahami dan direalisasikan. Tak sekadar mengunggulkan logika, tetapi, logika juga harus berdamai dengan hati. Sehingga bahasa dan cinta, sebenarnya bukan masalah teoritis semata, tetapi, bagaimana membumikan bahasa dan cinta ke dalam realita, itulah yang utama. Selamat ber-sabtu malam bagi yang menjalankannya. (RR)

Rahmatullah al-Barawi

Belajar Bahasa dan Cinta

Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Catatan Harian dipublikasikan 18 Maret 2017
Ringkasan
Mengapa ada bahasa untuk memahami cinta?
Dilihat 22 Kali