Ku Rindu Damai

Rahmatullah al-Barawi
Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Renungan
dipublikasikan 20 Januari 2017
Ku Rindu Damai

Belum usai permasalahan sidang Ahok, kini publik dihadapkan pada pelaporan sejumlah kasus dari Rizieq Shihab. Lapor-melapor, itulah trend yang terjadi saat ini. Benar kata Gus Mus, saat ini kita seringkali meng-hisab orang lain, jarang mengintrospeksi diri sendiri. Gus Dur pun mengatakan, kalau kita lebih sering mencari ‘kafir’-nya orang lain, dan lupa dengan ‘kafir’-nya diri kita sendiri.

Anda yang membaca tulisan ini, bacalah dengan hati, bukan dengan nalar. Karena seringkali nalar menjadi alat untuk mencari alasan yang tepat secara logis bagi tindakan-tindakan yang melanggar kemanusiaan kita, begitu uraian Karen Armstrong dalam bukunya Compassion. Hilangkan semua kepentingan politik, teologis, debat kusir yang berkepanjangan, dan pada akhirnya, tanyakan dan refleksikan dalam hati masing-masing.

Saya bukanlah pakar politik atau komunikasi politik. Bukan juga ahli dalam bidang hukum atau resolusi konflik. Tetapi, saya, sebagai orang biasa, mencoba membaca fenomena lapor-melapor saat ini, sebagai salah satu autokritik diri pribadi dalam berpikir dan bertindak.

Satu hal mendasar yang menjadi titik balik pelaporan Ahok dan Rizieq Shihab adalah ucapannya yang dianggap menyakiti keyakinan orang lain. Benarlah pepatah Arab yang mengatakan bahwa ‘salamatul insan fi hifdz al-lisan’, menjaga lisan merupakan kunci keselamatan bagi manusia.

Oleh karena itu, dapatlah kita memetik hikmah dari aksi lapor-melapor ini, bahwa sebagaimana kita tidak mau disakiti oleh ucapan Ahok atau Rizieq Shihab, begitupula seharusnya kita memperlakukan orang lain.

Mari kita melihat ke dalam diri kita sendiri, pikirkan hal-hal apa yang membuat kita tersakiti, maka tolaklah hal tersebut untuk menimbulkan rasa sakit itu pada orang lain. Begitu kurang lebih salah satu kaidah emas berbelas kasih menurut Karen Armstrong.

Dan pada akhirnya, ketika kita mau dimaafkan oleh orang lain atas kesalahan-kesalahan yang kita perbuat. Maka lakukanlah hal tersebut kepada orang yang menyakiti kita. Dengan demikian, lingkaran setan permusuhan dapat terputus. Yakinlah, jika fenomena balas-membalas ini terus bergulir, tanpa adanya kemauan untuk menerima yang lain, maka sampai lebaran kuda pun tak akan selesai.

Oleh karena itu, melalui kasus ini, kita belajar bahwa sebagaimana kita tidak mau disakiti, maka jangan menyakiti. Sebagaimana agama kita tidak mau dihina, maka jangan menghina. Sebagaimana kita mau dimaafkan, maka maafkanlah orang lain.

Cukuplah sampai season ini saja, kita sesama manusia, sesama umat beragama, satu nusa dan satu bangsa, dengan bangganya saling menghina dan menebarkan kebencian. Jangan biarkan sinetron pertikaian ini terus berlanjut melahirkan babak-babak baru permusuhan. Mari, kita buat cerita baru, belajar dari masa lalu, menciptakan kehidupan yang harmoni di tengah kemajemukan.   

Dan akhirnya, budaya untuk mau berdialog dengan yang lain secara konstruktif menjadi kunci untuk saling memahami dan menghargai. Oh, ku rindu damai.

  • view 189