5P Baper bagi Mahasiswa Akhir

Rahmatullah al-Barawi
Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Januari 2017
5P Baper bagi Mahasiswa Akhir

Berbicara tentang mahasiswa, maka tentu juga menyinggung sikap idealisme sebagai seorang pemuda. Sikap inilah yang melahirkan jiwa kritis dan ilmiah di kalangan mahasiswa. Mahasiswa, maha dan siswa, seolah-olah ia merupakan ‘mahanya siswa’, tingkatan tertinggi dari jenjang pendidikan sebagai seorang siswa. Ilmunya sudah banyak diperoleh sejak dari bangku TK hingga SMA.

Meski sudah menguasai ilmu, teori, dan metode dalam memahami kehidupan dan realitas sosial. Nyatanya, mahasiswa juga tak bisa lepas dari permasalahan. Terlebih bagi mahasiswa akhir, banyak hal-hal sensitif dan baper (bawa perasaan) ketika diperbincangkan.

Pertama, persahabatan. Masih ingatkah kita masa-masa awal masuk perkuliahan. Menjalani serangkaian seremonial formal kampus seperti ospek dan makrab. Pada saat itu, masih terlihat rasa-rasa canggung dalam bergaul. Karena persahabatan itu adalah proses alami yang dijalani, bukan ritual formal yang dilakoni.

Proses perkuliahan membentuk interaksi alami sehingga melahirkan benih-benih persahabatan. Masa-masa awal, terasa persahabatan yang kaku dan bahasa yang masih ‘menjaga jarak’. Seiring waktu, persahabatan pun menjadi kian akrab dan terlepas dari jubah kekakuan. Bahasa ‘bully’ dan ‘umpatan’ tak lagi tabu, bukan untuk menghina dalam bahasa, tetapi bahagia dalam rasa. Begitu kata salah seorang teman.

Persahabatan, merupakan kado terindah di bangku perkuliahan. Segala kesulitan dan permasalahan kita, dibantu dengan kehadiran seorang sahabat. Karenanya, tak heran, sahabat merupakan hal yang baper diperbincangkan oleh mahasiswa akhir. Terlebih, jika persahabatan itu, berubah menjadi cinta. Ciyee.

Kedua, penelitian. Yapz, sebagai salah satu tanggung jawab akademik seorang mahasiswa, maka bukti seorang mahasiswa dikatakan lulus adalah dengan membuat sebuah penelitian (skripsi) sesuai dengan keahliannya masing-masing.

Setidaknya kebaperan ini muncul ketika sahabat baik kita sudah mendahului dalam penyusunan skripsi. Atau, ada tuntutan dari orang-orang terdekat untuk segera menyelesaikan studinya. Alhasil, berbicara tentang skripsi menjadi ajang baper bagi banyak mahasiswa akhir. Terlebih, bagi mahasiswa yang kebanyakan ‘ditolak’ judulnya oleh dosen pembimbing atau mereka yang memiliki banyak kesibukan lain di luar kampus. ‘Ala kulli hal, ‘skripsi pasti berlalu’.

Ketiga, perpisahan. Namanya juga mahasiswa akhir, sidang skripsi, wisuda, berpisah dengan sahabat, kembali ke daerahnya masing-masing. Perpisahan itu sakit, tetapi karenanya juga kita bisa merasakan nikmatnya pertemuan dan persahabatan.

Ketika perpisahan itu sudah di pelupuk mata, barulah kita menyadari betapa banyak kenangan dan memori indah yang kita lalui bersama. Tak ayal, perpisahan melahirkan duka mendalam. Tetapi, perpisahan ini bukanlah perpisahan yang abadi, meski fisik jauh di sana, kita memandang langit yang sama, jauh di mata namun dekat di hati (jangan dibaca sambil nyanyi ya..). Apalagi teknologi saat ini sangat canggih, maka manfaatkanlah teknologi itu untuk saling bercengkrama dan bertegur sapa. Karenanya, jangan mau dikendalikan oleh suasana, tetapi, kitalah yang mengendalikan suasana.

Keempat, pekerjaan. Ini menjadi ‘momok’ sekaligus tantangan bagi para mahasiswa yang akan segera bergelar sarjana. Terlebih, bagi sarjana-sarjana yang ‘kurang’ bonafit dan tidak banyak dilirik oleh pasar. Mau jadi apa kita setelah lulus?. Karenanya banyak mahasiswa yang memilih menunda kelulusannya, setidaknya dengan demikian, ia bisa menunda gelar penganggurannya lebih lama.

Kebaperan itu semakin akut, ketika melihat lapangan pekerjaan yang minim, persaingan yang ketat, tuntutan dari keluarga, serta ekspektasi masyarakat yang mengharap lebih dari seorang sarjana. Padahal, saat ini, pekerjaan seseorang tidak selalu sejalan dengan gelar akademiknya. Sebab, yang dituntut adalah aspek keterampilan (skill), bukan semata aspek kecerdasan kognitif. So, jurusan apapun kita, memiliki peluang yang sama untuk bisa berkiprah di masyarakat sesuai dengan keterampilan yang kita miliki.

Kelima, pernikahan. Ini baper tertinggi dari seorang mahasiswa tingkat akhir. Biasanya, dilema yang dihadapi adalah pilihan antara menikah atau melanjutkan studi. Siapa coba yang tidak mau menikah?. Semua orang umumnya menginginkan janji suci tersebut. Tetapi, ketika pertanyaannya siapkah untuk menikah?. Maka, pertimbangannya akan sangat banyak, sebanyak cintaku kepadamu. Iya, kamu yang lagi baca ini. Ciyee. Tuh kan, baper. Dan pada akhirnya, kita akan memilih untuk menghindari perbincangan tentang pernikahan, sampai ada kepastian untuk bisa meng-halal-kannya.

Bagiku, sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir, hasil gemilang bukanlah sebuah target. Tetapi, aku menikmati proses selama di perkuliahan. Banyak hal yang ku peroleh, bukan sekadar ilmu pengetahuan di ruang kelas, tetapi, juga ilmu kehidupan yang kupelajari bersama teman-teman kampus.

Aku belajar obrolan-obrolan yang terlintas di warung kopi, dan pada akhirnya aku belajar bahwa kehidupan ini adalah realitas dari secangkir kopi, yang seringkali pahit, tetapi layak untuk dinikmati.

Aku juga belajar dari permainan. Bersama teman, aku mengenal Uno dan Poker, keduanya bukan sekadar hiburan semata. Tetapi, ada taktik dan strategi yang harus dilakukan untuk menang, persis seperti kehidupan yang kita jalani.

Aku belajar dari curhatan-curhatan hati seorang teman yang merasa tersakiti, ter-tikungi, ter-zholimi, atau yang merasa bahagia dan senang hati. Dan pada akhirnya aku mengerti bahwa hati manusia itu dinamis, karenanya aku harus belajar peka untuk memahami hati orang lain.

Aku belajar dari rekreasi dan piknik ke tempat-tempat wisata. Boleh jadi tempat wisatanya sederhana, tidak terlalu ‘wah’, dan tidak juga mahal. Tetapi, lagi-lagi aku tahu, bahwa kebahagiaan itu sederhana, tak perlu sesuatu yang mewah, cukup bersama orang yang terkasih.

Karenanya, dengan proses-proses alamiah tersebut, aku yakin, tanpa mengharapkan hasil yang gemilang, sunnatullah adalah suatu kepastian. Hasil tak akan mengkhianati proses. Proses pembelajaranku selama menjadi mahasiswa, dengan segala suka, duka, dan kebaperannya, menjadi ‘cambuk’ untuk lebih mendewasakanku dalam berpikir dan bertindak. Baperlah, tetapi, jangan larut dalam kebaperan. Baperlah, karena dengannya, engkau akan lebih dewasa.

  • view 255