Menakar Kebenaran Tafsir ala Ibn Taimiyah

Rahmatullah al-Barawi
Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Agama
dipublikasikan 14 Januari 2017
Menakar Kebenaran Tafsir ala Ibn Taimiyah

Judul                           : Muqaddimah fi Ushul al-Tafsir

Penulis                        : Ibn Taimiyah

Editor (Muhaqqiq)    : Dr. Adnan Zarzur

Kitab Muqaddimah fi Ushul al-Tafsir merupakan salah satu dari sekian banyak kitab yang menggunakan istilah ‘muqaddimah’ dalam judulnya. Misalnya Kitab Muqaddimah Ibn Khaldun, Muqaddimah Abi Hafsh al-Bukhari, Muqaddimah Abi al-Laitsi, Muqaddimah al-Ajurumiyah, dll. Dari sekian banyak kitab tersebut, dapat dikatakan yang populer hingga saat ini dan banyak dikaji adalah kitab Muqaddimah Ibn Khaldun dan Muqaddimah fi Ushul al-Tafsir Ibn Taimiyah (selanjutnya disebut Muqaddimah Ibn Taimiyah).

Salah satu alasan kepopuleran kitab Muqaddimah Ibn Taimiyah adalah ketokohan dari Ibn Taimiyah itu sendiri. Beliau dikenal dengan sebutan Syaikh al-Islam dan disebut sebagai mujaddid (pembaharu) di era modern. Selain itu, kitab ini banyak dijadikan rujukan oleh ulama-ulama setelahnya, misalnya Ibn Katsir yang sekaligus murid dari Ibn Taimiyah, al-Zarkasyi, al-Suyuthi, dan al-Qasimi. Karenanya, kitab ini, meskipun tipis memiliki posisi yang cukup penting dalam studi al-Qur`an.

Sebenarnya, pemberian nama kitab ini bukan atas inisiatif dari Ibn Taimiyah sendiri, melainkan dari al-Qadhi al-Hanbali, Muhammad Jamil al-Syathi. Informasi ini dapat diperolah dari Syarh Muqaddimah fi Ushul al-Tafsir karya Sulaiman bin Nashir al-Thayyar. Lantas, apa yang melatarbelakangi penulisan kitab ini?. Alasan utama penulisan kitab ini adalah untuk menjawab permintaan dari murid-murid beliau sebagaimana yang disebutkan dalam Muqaddimah kitab:

فقد سألني بعض الإخوان أن أكتب له مقدمة تتضمّن قواعد كلية تعين على فهم القرأن, ومعرفة تفسيره ومعانيه, والتمييز – في منقول ذلك ومعقوله – بين الحق وأنواع الأباطيل, والتنبيه على الدليل الفاصل بين الأقاويل.

Oleh karena itu, berkaca pada judul dari kitab ini, maka sesungguhnya penjelasan yang ada dalam kitab ini tidak berbicara seluruh aspek – al-dunya wa ma fiha – Ulumul Qur`an dan Tafsir. Ibn Taimiyah hanya menampilkan prinsip-prinsip umum yang harus dipegang oleh para penafsir dan pengkaji al-Qur`an, sehingga dapat memahami makna al-Qur`an secara benar dan dapat membedakan penafsiran yang benar dan salah. Inilah yang menjadi poin utama kitab ini, yaitu bagaimana sebenarnya barometer dalam memahami al-Qur`an yang tepat.

Berangkat dari poin tersebut, ada lima aspek yang dibahas dalam kitab ini, yaitu penjelasan Rasul Saw terkait makna dan lafaz al-Qur`an kepada sahabat, perbedaan variatif dan kontradiktif dalam tafsir generasi salaf (sahabat dan tabi’in), sebab-sebab terjadinya perbedaan dari aspek riwayat dan penalaran, metode tafsir yang terbaik, dan penjelasan tentang tafsir dengan menggunakan akal (al-ra’yi).

Jika melihat sistematika pembahasan kitab tersebut, penting dicatat bahwa sejak awal Ibn Taimiyah menegaskan Nabi Saw telah menjelaskan makna dan lafaz al-Qur`an. Asumsi ini akan melahirkan kesimpulan bahwa metode terbaik dalam tafsir al-Qur`an adalah tafsir dari Nabi Saw (al-tafsir al-manqul aw al-riwayah). Dengan kata lain, Ibn Taimiyah hendak mengatakan bahwa memahami al-Qur`an secara benar adalah dengan mengambil rujukan dari Nabi Saw dan generasi awal (salaf al-shalih). Inilah barometer tafsir al-Qur`an menurut Ibn Taimiyah.

Tetapi, perlu ditekankan juga bahwa Ibn Taimiyah tidak menutup mata terhadap keragaman tafsir. Beliau membagi keragaman tafsir ke dalam dua kategori, yaitu ikhtilaf tanawwu’ dan ikhtilaf tadhadh. Menurut beliau, keragaman tafsir generasi salaf itu masuk dalam kategori ikhtilaf tanawwu’, yaitu substansinya sama, hanya cara menjelaskannya yang berbeda. Sebenarnya, klasifikasi ini menjadi celah bagi Ibn Taimiyah untuk mengkritik tafsir-tafsir lain yang beragam dalam konteks ikhtilaf tadhadh (kontradiktif). Beberapa golongan yang di kritik secara langsung oleh Ibn Taimiyah adalah Mu’tazilah dan Syiah.

Kritik Ibn Taimiyah terhadap beberapa tafsir tersebut merupakan hal yang wajar, sebab tafsir merupakan produk pemahaman manusia yang dapat salah. Dalam konteks ini, Ibn Taimiyah tidak terjebak dalam taqdis al-tafsir (sakralitas tafsir). Tetapi, dalam konteks penafsiran generasi salaf, beliau cenderung taqdis al-tafsir. Bahkan mengatakan bahwa penafsiran generasi salaf merupakan salah satu penafsiran yang terbaik.

Di sisi lain, Ibn Taimiyah menekankan pentingnya pemahaman sejarah/konteks di samping pemahaman bahasa Arab. Bahkan, beliau mengkritik dua golongan yang dianggap keliru dalam memahami al-Qur`an. Golongan pertama, memahami satu makna berdasarkan pemahamannya terhadap makna tersebut sebelumnya. Sedangkan golongan kedua, memahami satu lafaz murni dengan menggunakan pendekatan bahasa Arab semata. Keduanya menurut Ibn Taimiyah belum tuntas dalam memahami al-Qur`an. Sebab, konteks turunnya al-Qur`an, mukhatab, mutakallim, dan hal-hal yang berkaitan dengan kesejarahan juga harus diperhatikan. Ini menjadi barometer lain yang perlu ditekankan dalam memahami al-Qur`an.

Beliau memberikan beberapa contoh penafsiran yang keliru, misalnya dari golongan Syiah yang ekstrim, ada yang menafsirkan bahwa Surah al-Lahab itu diturunkan untuk Abu Bakar dan Umar. Sedangkan dari pendukung Sunni menghadirkan penafsiran Surah al-Tin ayat 1-4 dengan sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Menurut Ibn Taimiyah, kedua golongan tersebut keliru dalam menafsirkan al-Qur`an, sebab, konteks penurunan ayat tersebut tidak berbicara tentang hal itu. Di samping itu, faktanya juga tidak demikian, tidak mungkin Allah Swt melaknat Abu Bakar dan Umar. Istilah ini menurut Ibn Taimiyah khata’ fi al-dalil wa al-madlul.

Barometer kedua ini yang seringkali ‘terlupakan’ oleh sebagian gerakan yang sering mengutip pendapat-pendapat Ibn Taimiyah. Gerakan-gerakan ini biasanya hanya berpedoman pada barometer pertama, yaitu tafsir yang terbaik adalah tafsir Nabi Saw dan tafsir generasi salaf al-shalih dengan jargon utamanya ‘Kembali kepada al-Qur`an dan Sunnah’. Tetapi, tidak melihat barometer yang kedua, yaitu konteks historis dari ayat tersebut diturunkan.

Jika menelisik lebih dalam, kenapa penafsiran Nabi Saw dan generasi salaf merupakan penafsiran yang terbaik. Salah satu jawabannya adalah karena merekalah sebagai pelaku dan saksi sejarah yang melihat konteks turunnya al-Qur`an. Sehingga dapat disimpulkan bahwa barometer utama dalam memahami al-Qur`an adalah dengan melihat konteks sejarahnya.

Meski demikian, dalam beberapa hal, konteks sejarah ala Ibn Taimiyah juga perlu dikoreksi kembali. Misalnya, dalam kitab Iqtida al-Shirat al-Mustaqim, beliau menyebutkan bahwa ras Arab (jins al-‘arab) adalah lebih baik daripada ras non-Arab (jins al-‘ajam). Sikap ini tentu lahir dari pemahaman sejarah bahwa Islam lahir dan berkembang di Arab. Hal ini melahirkan sikap yang diskriminatif, misalnya tidak setuju dengan kepemimpinan non-Arab terhadap orang Arab dalam pemerintahan, menetapkan pakaian Arab untuk seluruh umat Muslim, menilai busana non-Arab sebagai makruh, dll. Karenanya, menurut Jasser Auda, sikap tersebut justru menciderai maqashid dari kesetaraan ras (equality of races) yang terdapat dalam sejumlah ayat al-Qur`an dan riwayat hadis.

Untuk itu, kesadaran sejarah harus dihubungkan dengan usaha untuk menggali makna-makna yang tersirat. Sehingga usaha tersebut melahirkan penafsiran yang tidak literalis, tetapi, juga tidak terlepas dari konteks ayat tersebut. Semangat inilah yang banyak dimunculkan oleh kalangan modernis dan reformis. Oleh karena itu, sebenarnya ada kesinambungan tradisi antara Ibn Taimiyah dengan pemikir-pemikir modern saat ini. Shifting paradigm, adanya persamaan dan perbedaan, merupakan keharusan ilmiah dan alamiah dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

‘Ala kulli hal, kitab ini penting dan layak untuk dibaca bagi siapa pun yang hendak mendalami tafsir al-Qur`an. Sebelum melangkah dan menyelami kedalaman ilmu tafsir, perlu membaca kitab ‘pengantar’ dari Ibn Taimiyah ini. Bagi golongan yang selama ini ‘anti’ dengan Ibn Taimiyah, ada satu pesan ‘If you judge a book by it’s cover, you might miss out on an amazing story’. Wallahu A'lam bish Showwab.

  • view 118