Intisari Pengajian Kitab al-Fauz al-Kabir (2)

Rahmatullah al-Barawi
Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Project
dipublikasikan 29 Desember 2016
al-Fauz al-Kabir

al-Fauz al-Kabir


Tulisan ini merupakan resume dan refleksi penulis dari kajian kitab al-Fauz al-Kabir yang dilakukan setiap hari Senin.

Kategori Spiritual

455 Hak Cipta Terlindungi
Intisari Pengajian Kitab al-Fauz al-Kabir (2)

Setelah sebelumnya membahas tentang 5 tema pokok yang ada dalam al-Quran, al-Dihlawi memulai pembahasannya dengan mengajak pembaca memahami tema tentang jadal/perdebatan.

Mengapa ayat-ayat bernuansa jadal itu muncul? Tentu tidak bisa dilepaskan dari situasi historis pada masa Nabi saat itu dimana berkembang pemahaman-pemahaman yang keliru (bathil). Uniknya, al-Dihlawi memetakan empat golongan yang dikritik oleh al-Quran, yaitu Musyrikun, Yahudi, Nasrani, dan Munafik. Pertanyaan kemudian muncul, kenapa hanya empat itu saja, padahal ada golongan lain yang disebut dalam al-Quran, seperti Shabiin dan Majusi. Tentu hal ini memerlukan kajian yang lebih mendalam.

Selanjutnya, ada dua cara yang digunakan oleh al-Quran untuk mendebat, pertama dengan menyebutkan aqidah yang bathil dengan teks yang jelas, kedua, menjelaskan keraguan atau kelemahan argumen, serta menyebutkan jawaban/solusi berdasarkan dalil-dalil burhani dan khithabi. Lebih lanjut, dapat diteliti pula apakah sama cara al-Quran untuk mengkritik keempat golongan tersebut? Jika berbeda, seperti apa perbedaannya, dan mengapa berbeda (Silahkan dikaji bagi yang berminat).

Kenapa Musyrikun dikritik oleh al-Quran? Pesan utama menurut hemat saya yang ingin disampaikan oleh al-Dihlawi adalah karena mereka telah melenceng dari ajaran Millah Ibrahim. Disini kita sebenarnya dapat melihat bahwa ada satu kesatuan tradisi dan ibadah yang sudah mengakar sejak Nabi Ibrahim. Karenanya, tidak heran jika banyak kajian dan buku yang menulis titik temu agama-agama Millah Ibrahim.

Al-Dihlawi juga menyebutkan beberapa ajaran dan tradisi yang menyejarah sejak masa Nabi Ibrahim. Misalnya melaksanakan ibadah haji, khitan, shalat, berpuasa, bersedekah, menyambung silaturrahim, dll. Di samping itu, prilaku seperti membunuh, mencuri, berzina, dan riba merupakan perbuatan yang terlarang sejak dulu. Sampai sekarang pun, tak ada agama yang melegalkan hal tersebut. Inilah nilai-nilai persamaan (kalimatun sawa) yang dimiliki oleh agama-agama Ibrahim (Abraham Religions).

Refleksi penulis, ilmu jadal ini menjadi hal yang menarik sekaligus dilematis. Di satu sisi, jadal dapat digunakan secara destruktif sehingga menjadi legitimasi untuk menyerang pemeluk agama lain. Di sisi lain, jadal yang dibangun secara konstruktif dapat menjadi jembatan untuk lahirnya dialog antar agama.

Bukankah al-Quran sendiri memberikan tawaran untuk ber-jadal tetapi dengan cara yang ahsan (terbaik, bukan sekadar baik). Ini menyiratkan bahwa jadal yang tepat adalah jadal yang konstruktif.

Why not? bahwa dalam dialog antar agama, jangan hanya mencari nilai-nilai persamaannya saja, tetapi, kita juga harus berani untuk saling mendialogkan perbedaan, bukan untuk menghakimi, men-judge, mencari benar atau salah seperti debat-debat kusir yang tiada akhirnya. Tetapi untuk saling mengenal satu sama lain (li ta'arafuu). Dengan demikian, harmony in diversity dapat terwujud. Wallahu A'lam bish Showwab.

  • view 222