Aku, Buku, dan Kebaperanku

Rahmatullah al-Barawi
Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Desember 2016
Aku, Buku, dan Kebaperanku

Beberapa hari yang lalu, Penerbit Kompas mengadakan event Buku Murah dan Cuci Gudang Akhir Tahun di Bentara Budaya Yogyakarta. Tidak tanggung-tanggung, seluruh buku dijual seharga 10.000 dan beberapa buku baru dibandrol dengan diskon 50%. Tentunya event ini menjadi surga pengetahuan bagi sebagian besar mahasiswa Yogyakarta.

Tak terkecuali diriku ini, yang membeli tidak kurang 40 buku dengan total pengeluaran 495 ribu. Eits, buku-buku sebanyak itu bukan untuk tujuan komersil, dijual kembali. Tidak, buku itu untuk konsumsi pribadiku. Anehkah? Sebagian teman mungkin melihatnya terlalu berlebihan, membeli buku sampai hampir setengah juta. Tetapi, disinilah perspektif itu bermain dan perasaan itu tak bisa dibohongi.

Seorang penikmat buku, akan baper melihat banyaknya buku-buku berkualitas yang di-‘leceh’kan dengan harga murah. Sehingga ada keinginan untuk menyelamatkannya dengan cara membelinya.

Bagi pecinta buku, mengeluarkan uang untuk membeli buku lebih utama dibanding membeli makanan. Sebab, baginya makanannya adalah pengetahuan. Yah, ketika kita berbicara cinta, memang sulit untuk dinalar. Sama saja dengan sikap seorang yang sedang kasmaran, ia rela melakukan apapun yang diminta oleh sang kekasih.

Selain itu, bagi penikmat buku, ada keyakinan bahwa buku merupakan investasi masa depan. Beberapa diskusi dengan teman yang juga suka membaca buku, bahkan mengatakan, besok anak kita akan mengetahui seberapa besar perjuangan ayahnya dulu dalam mencari buku. Dan harapannya, sang anak bisa juga mengikuti sang ayah dalam mencintai ilmu pengetahuan.

Terlebih, budaya literasi dan gerakan membaca buku saat ini perlu lebih digiatkan lagi. Membaca berita dan informasi yang berseliweran di sosial media tentu berbeda kualitasnya dengan membaca buku yang sudah teruji dan sesuai dengan kaidah-kaidah kepenulisan. Terlebih, seringkali informasi yang tersebar di media bersifat anonim. Sedangkan informasi yang diperoleh dari buku merupakan informasi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Satu hal lagi, beberapa orang mengatakan kalau membeli buku itu harus dibaca. Bagiku, asal ada buku yang menarik, sesuai minatku, dan ada budget untuk membelinya, maka akan ku beli terlebih dahulu. Urusan selesai membaca itu nomor dua, yang penting punya dulu. Dalam beberapa kasus, buku-buku yang pada awalnya ku beli hanya sekadarnya saja, ternyata di masa depan mempunyai peranan penting dalam menjawab beberapa persoalan yang ku hadapi.

Karenanya, sebenarnya tak ada ruginya untuk membeli buku. Semua akan terbaca pada waktunya dan semua akan nikmat pada masanya. Sekali lagi, ini hanya tulisan ringkas dari seorang penikmat buku, yang boleh jadi tak masuk akal bagi sebagian orang. Kembali lagi pada aturan klasik: 'Cinta itu tak ada logika.'

  • view 202