Menjadi Muslim: Menjadi Agen Perdamaian

Rahmatullah al-Barawi
Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Agama
dipublikasikan 28 Desember 2016
Menjadi Muslim: Menjadi Agen Perdamaian

“Kau tahu mengapa orang-orang menyukai kekerasan, Hugh? Karena rasanya menyenangkan...” satu penggalan percakapan Alan Turing dalam film Imitation Game mungkin dapat memberikan gambaran kepada kita, mengapa kekerasan terus terjadi. Seringkali dalam kehidupan sehari-hari, kita merasa senang ketika melihat teman kita dikerjain, di-bully, atau ditindas. Sebab, ada kesenangan tersendiri di dalamnya. Mungkin itulah yang dulu dirasakan oleh Hitler, Musollini, dan kawan-kawan yang tercatat dalam sejarah peradaban manusia.

Sepenggal percakapan dalam film Imitation Game tersebut kiranya dapat menjadi refleksi bagi realitas keberagamaan di Indonesia dewasa ini. Tidak jarang, dengan dalih agama, segelintir orang melakukan aksi kekerasan dan teror. Yah, kembali lagi, dengan kekerasan ada kesenangan tersendiri di dalamnya, minimal kesenangan karena berhasil menjalankan dogma yang diyakininya. Dengan demikian, ketika kita masih senang dengan aksi kekerasan, atau minimal mendukung orang yang melakukan aksi kekerasan dengan dalih apapun, maka kita sama dengan mindset Alan Turing, melihat kekerasan sebagai solusi dan penyelesaian konflik yang menyenangkan.

Di sisi lain, Nabi Saw memberikan isyarat tanda seorang muslim adalah ketika orang lain merasa aman dan nyaman (salima) berada di dekatnya. Kita pun sering memulai sebuah percakapan atau pertemuan dengan ungkapan salam, Assalamu’alaikum. Ungkapan tersebut sudah lazim digunakan secara bebas di Indonesia sehingga seringkali melupakan pesan dasar dari kalimat tersebut. Sejatinya substansi dari salam adalah mengharap dan mendoakan agar orang lain juga berada dalam kedamaian dan ketentraman.

Lantas pertanyaannya, dimana posisi Islam?. Jawabannya kembali kepada setiap Muslim. Apakah ia mau membawa pemahaman Islamnya ke posisi kekerasan, ataukah kedamaian?. Meski substansi Islam sejatinya adalah damai, tetapi aktualisasi dari pemahaman tersebut berbeda-beda. Inilah makna dari ungkapan bahwa ajaran Islam yang luhur itu terhalang oleh perilaku Muslim.

Ada hal yang menarik dari tafsir Ibn ‘Asyur dalam memahami QS. Al-Baqarah ayat 256 yang secara umum berisi penolakan pemaksaan dalam beragama. Beliau mengatakan Laa taj’al al-din makruhan, bukan sekadar tidak ada pemaksaan, tetapi juga orang Islam sendiri jangan membuat citra negatif sehingga menjadikan agama Islam itu dibenci oleh orang banyak. Ini yang sering dilupakan oleh kita, bagaimana menampilkan citra Islam yang positif, rahmatan lil ‘alamin.

Seringkali kita menghujat dan mengecam sekelompok orang yang mengatakan Islam itu suka kekerasan. Padahal, kita sendiri juga masih sering melakukan aksi kekerasan, atau minimal senang terhadap pelaku kekerasan. Jika memang hendak mengatakan bahwa Islam itu damai, Islam itu menyejukkan, maka tampilkanlah citra sebagai seorang Muslim yang menebarkan kedamaian. Jangan salahkan orang lain, ketika kita sendiri belum bisa mengoreksi diri.

Oleh karena itu, Islam dan Muslim adalah dua hal yang berbeda, tetapi sekaligus tidak dapat dipisahkan. Ajaran Islam yang ada di Indonesia saat ini merupakan cerminan dari perilaku Muslim. Siapkah kita menjadi Muslim sekaligus menjadi agen perdamaian?.

  • view 249