Men-Telolet-kan Hati dan Pikiran

Rahmatullah al-Barawi
Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Renungan
dipublikasikan 26 Desember 2016
Men-Telolet-kan Hati dan Pikiran

Fenomena telolet memang patut diacungkan jempol. Bukan hanya menyita seantero Indonesia, bahkan seluruh dunia memandang unik fenomena tersebut. Beberapa tokoh dan artis dunia pun turut bersuara di akun media sosialnya. Banggakah kita dengan prestasi ini?.

Di sis lain, ini menunjukkan kreativitas orang Indonesia dalam mengemas sesuatu yang biasa-biasa saja, tetapi, bisa menjadi viral di media. Hampir semua orang, mulai dari anak kecil hingga orang tua ikut meramaikan dunianya dengan ber-telolet ria. Salah satu contohnya adalah celotehan seperti: “Ayah kamu sopir bis ya.?, Koq tahu?, Iya, karena kamu sudah men-telolet-kan hatiku.” Sesimpel itu orang Indonesia sudah bahagia. Tak perlu jauh-jauh mengelilingi benua Eropa atau Amerika, cukup berdiri di pinggir jalan, menunggu bis lewat, dan klakson ‘telolet’ dibunyikan.

Sesimpel itukah untuk bisa bahagia? Atau jangan-jangan fenomena ini menjadi bukti bahwa sebenarnya orang Indonesia pada umumnya tidak sedang berbahagia dengan ‘telolet’. Tetapi, fenomena ini hanya digunakan sebagai pelarian bagi orang-orang yang bingung mencari kebahagiaannya.

Mari kita kembali ke asal-muasal telolet ini muncul. Alkisah, fenomena ini berawal dari beberapa anak kecil di pinggir jalan pantura yang sering meminta supir bis untuk membunyikan klakson. Pertanyaan kemudian muncul, mengapa sang anak tersebut harus mencari kebahagiaan di pinggir jalan? Tak adakah kebahagiaan diperoleh di rumahnya, atau orang tuanya sibuk bekerja sehingga mereka bebas berkeliaran kemana saja?.

Mungkin saja asumsi ini keliru, sebab, perlu diadakan penelitian lebih lanjut. Tetapi, setidaknya Ini menjadi ajang bagi orang tua untuk merenung, seberapa banyak waktu kita untuk mendampingi anak-anak di rumah. Jangan sampai arus modernisasi sudah ikut merampas waktu anak-anak kita untuk bisa saling bercengkrama dan berkomunikasi mendengarkan celotehan sang buah hati.

Kembali lagi, tentu kita tidak ingin fenomena ini hanya digunakan sebagai pelarian anak-anak untuk mencari kebahagiaan yang tidak didapatkan di rumah. Begitupula bagi beberapa orang dewasa yang rela berdiri di pinggir jalan menanti bis untuk meminta ‘telolet’. Jangan sampai ini hanya rutinitas untuk mengisi waktu luang karena tidak ada pekerjaan yang dilakukan.

Karenanya, boleh jadi ungkapan bahagia itu sederhana perlu dimaknai kembali. Apakah itu memang kebahagiaan sejati atau hanya kebahagiaan sesaat?. Yah, sesekali bolehlah kita merasa bahagia mendengar telolet, tetapi, ketika kebahagiaan kita itu hanya dapat tercapai ketika mendengar suara telolet, sehingga rela berdiri berjam-jam dipinggir jalan menanti, that’s a problem. Tentu banyak hal-hal lain yang lebih positif yang dapat kita lakukan.

Selain itu, fenomena lain yang menarik dikaji adalah mengukur kecerdasan dan kekritisan kita dalam membaca dan menyaring berita. Seringkali kita dengan mudahnya terpengaruh dengan berita-berita hoax bernada konspirasi, seperti kata om telolet om yang berasal dari agama tertentu dan sebagai orang yang beragama, maka kita jangan menyebarkan atau menggunakan istilah tersebut. Berita-berita semacam ini banyak diamini bahkan dibagikan oleh orang-orang yang ‘berpikir pendek’.

Sebenarnya berita telolet semacam itu hanya satu dari sekian banyak berita-berita hoax yang dengan mudah di share tanpa berpikir terlebih dahulu. Misalnya berita cocokologi (seperti menghubungkan satu angka dengan fenomena tertentu), berita fitnah dan adu domba, dll. Ini menandakan bahwa kita belum siap untuk ber-sosial media secara bijak dan dewasa. Pendidikan media literasi masih harus dan perlu digalakkan.

Bagaimana seorang netizen memilah dan menyeleksi berita benar dan berita hoax, mengklarifikasi suatu berita yang belum jelas kebenarannya, dan menalar kira-kira berita ini valid atau tidak secara akal sehat. Tentu kita semua harus belajar lebih banyak lagi dalam rangka bersosial media secara bijak dan dewasa.

Dari fenomena ini, kita belajar dua hal, pertama, kembali merenung dan bertanya pada diri, apa sebenarnya hakikat kebahagiaan itu, benarkah kebahagiaan kita hanya diukur oleh sebatas telolet?. Begitupula bagi orang tua, mari bertanya sudah bahagiakah anak kita tinggal di rumah atau justru kita tak pernah berpikir anak kita bahagia atau tidak, yang penting nafkah lahirnya tercukupi.

Kedua, kita juga belajar untuk dapat lebih cerdas dan kritis dalam ber-sosial media. Telolet hanya sekadar telolet, tetapi, sikap tidak kritis kita bisa menjadi senjata bagi orang lain untuk memperalat kita dalam menyebarkan berita-berita hoax.

Akhirnya, Tuhan tak pernah sia-sia dalam menciptakan segala sesuatu. Telolet hadir, tentu memberikan hiburan ringan di tengah ketegangan situasi politik bangsa saat ini. Dan kehadirannya pun, menjadi kritik kepada diri kita sendiri untuk mengolah hati dan akal kita sehingga menjadi insan-insan yang berkualitas dan bermartabat. Terima kasih Telolet.

  • view 265