‘Full House: Antara Asa dan Realita’

Rahmatullah al-Barawi
Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Desember 2016
‘Full House: Antara Asa dan Realita’

Sebenarnya sudah sejak 2014 yang lalu saya menonton drama Full House yang merupakan serial drama Thailand. Drama ini merupakan hasil adopsi dari drama korea yang sempat booming di awal abad 21, tentunya dengan beberapa sentuhan khas ala Thailand sehingga film ini tetap memiliki kekhasannya, minimal bahasanya Thailand.

Entah mengapa, belum lama ini ketika membuka file film yang tersimpan rapi di harddisk, membuatku ingin kembali menontonnya. Efek liburan dan tak banyak aktivitas yang dikerjakan membuatku semakin mantap untuk kembali me-refresh ingatanku yang sudah memudar tentang film ini.  

Ada satu kalimat yang mengesankan berbunyi ‘ada begitu banyak kesempatan dalam hidup kita, yang kita lupakan di masa depan karena sederhana dan kita pikir tidak penting’. Kalimat tersebut mengisyaratkan bahwa jangan menganggap remeh sekecil apapun peluang yang ada di depan mata, karena bisa jadi, peluang itulah yang membawa kita kepada kesuksesan.

Drama ini mengajarkan kepada kita untuk menatap masa depan dengan sikap optimis, asa dan harapan harus ada untuk menumbuhkan sikap dan tekad dalam bertindak. Kita belajar bahwa apapun yang terjadi di masa depan, haruslah diusahakan, sesederhana apapun itu. Dalam hal ini yang digambarkan adalah usaha untuk meraih cinta yang didambakan. Yapz, cinta merupakan satu asa yang tak pernah kunjung selesai diperbincangkan.

Harapan itu lahir dari perasaan seseorang yang membutuhkan. Ketika kita lapar, maka kita akan berharap untuk makan. Ketika haus, kita akan berharap untuk minum. Kita tidak akan berharap untuk makan, kalau kita tidak lapar. Sesederhana itukah harapan? Tentu tidak. Sebab, pada realitasnya, banyak harapan yang pupus sebatas harapan, tak dapat dijadikan sebagai realita. Why?

Karena semua yang didambakan belum tentu sesuai dengan kenyataan, kita lapar, harapannya makan, tetapi apalah daya, rupiah tak memadai untuk membeli sesuap nasi. Kita mencintai seseorang, harapannya kita bisa bersamanya, tetapi, apalah kuasa, dia memilih yang lain. That’s a problem.

Full house juga mengajak kepada penontonnya, bahwa segenting apapun permasalahan yang dihadapi, maka kembalilah ke rumah kita dan intropeksi terhadap apa-apa yang telah kita perbuat. Inilah fungsi dari masa lalu, sebagai bahan pembelajaran bagi kita untuk menyongsong masa depan, bukan sebaliknya membuat kita semakin terpuruk menatap masa depan. Rumah dalam drama tersebut memiliki kisah yang penuh dengan suka dan duka cita yang dialami oleh penghuninya sehingga rumah tersebut memberikan kesan dan kenangan yang sangat dalam.

Rumah dalam film tersebut dapat disimbolkan sebagai quality time kita. Coba bayangkan dan hitung, seberapa banyak waktu yang kita miliki untuk sekadar merenung dan berkontemplasi terhadap hal-hal yang telah kita lalui. Jangan-jangan, waktu kita habis untuk bekerja, hangout, jalan-jalan, atau bahkan menyelami dunia maya berjam-jam lamanya.

Inilah yang harus kita lakukan. Bukan menyalahkan pilihan atau waktu, tetapi, mengoreksi diri dan belajar dari pengalaman masa lalu. Seringkali kita menyalahkan orang lain, menyalahkan waktu, menyalahkan moment, menyalahkan apapun. Sadar bung, jangan selalu bangga dengan pelarian, menyalahkan yang lain merupakan bentuk pelarian kita, karena kita tidak mampu atau enggan menerima diri sendiri.

Mari kembali ke rumah kita, rumah yang menyediakan masa-masa suka dan duka. Terlebih, tahun baru sudah di depan mata, quality time menyambut tahun baru menjadi refleksi untuk menjawab, mau dibawa kemana tahun 2017 mendatang?.

Drama ini mengajarkan dua hal, jadilah orang yang memiliki sikap optimis dalam menatap masa depan, sekaligus menjadi pribadi yang mawas diri agar kesalahan di masa lalu tidak terulang lagi. Ingatlah bahwa kitalah yang menorehkan sejarah dalam kehidupan kita, sehingga gambaran apapun yang akan tertulis dalam tinta sejarah itu adalah bergantung terhadap komitmen kita sendiri.

Terakhir, kita hidup di dunia ini tidaklah sendirian (bahkan bagi yang mengaku jomblo akut sekalipun), tetapi bersama dengan orang banyak yang mencintai kita. So, jangan takut terhadap segala permasalahan yang dihadapi, yakinlah bahwa banyak orang-orang di belakang kita yang akan mendukung dan men-support kita untuk tetap maju dan berkarya. Dan bagi yang belum nonton dramanya, silahkan nonton. Peringatan keras bagi penderita baper akut, jangan coba-coba menonton, nanti baper-nya kumat. Tapi, bagi yang nekad, silahkan saja.

  • view 295