Banggalah Memakai 'Bungkus'?: Refleksi Pergantian Tahun

Rahmatullah al-Barawi
Karya Rahmatullah al-Barawi Kategori Renungan
dipublikasikan 25 Desember 2016
Banggalah Memakai 'Bungkus'?: Refleksi Pergantian Tahun

Akhir-akhir ini, populasi jomblo di Indonesia semakin meningkat. Bukan karena gagal-nya mencari pasangan, sebab, beberapa orang yang memutuskan jomblo ternyata berangkat dari pengalaman pahit, diputuskan atau ditinggalkan begitu saja. Orang-orang mulai meragukan eksistensi dari kasih sayang itu sendiri.

Benarkah kasih sayang itu ada?. Apakah kasih sayang itu ketika tanggal muda, tetapi benci di tanggal tua. Kasih sayang itu ketika ditraktir makan, tetapi acuh ketika bayar sendiri-sendiri. Kasih sayang itu ketika yang terucap gombal rayuan, tetapi marah saat kata apa adanya yang dilontarkan.

Itu baru perasaan personal, belum masalah nasioanal. Semakin banyak orang yang apatis terhadap kebijakan pemerintah. Ada atau tidaknya kebijakan, sama saja, menguntungkan yang berkuasa, menyakitkan yang papa. Mengayomi golongan, membasmi yang tak sepaham. Elit politik bak aktor drama, berperan sesuai kepentingan. Keadilan katanya terus diperjuangkan, tetapi realitasnya masih jauh dari harapan.

Belum lagi para pemuka agama. Saling berebut kebenaran, menyikut lawan dengan dalil keagamaan. Pemuka agama laksana ‘juru bicara’ Tuhan yang harus selalu ditaati dan tak boleh dikritisi. Hanya ada satu makna, hanya ada satu kebenaran, yaitu fatwa ulama. Dimensi keragaman dalil dan tafsir seakan tak layak lagi dperbincangkan ketika fatwa telah berbicara.

Lantas jika sudah demikian, bisakah kita menyebut negara Indonesia dengan sebutan gudangnya permasalahan?. Jawablah dalam hati masing-masing seraya menjadi refleksi melihat masalah di sekitar kita. Pikiran ini kembali ke catatan sejarah masa lalu, sesuai dengan narasi-narasi keagamaan dari kitab suci. Andai, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad diizinkan untuk hidup kembali di abad-21, apakah yang terjadi.

Ibrahim akan menyuruh kita semua untuk berfikir dan merenung. Lihatlah bulan dan bintang, orang sudah tahu bentuk bulan, cara kerjanya, material-materialnya, dan bahkan sudah menginjakkan kaki ke bulan. Lihatlah matahari, orang sudah tahu berapa tingkat kepanasan matahari. Tetapi satu yang luput dari orang saat ini, siapa yang menciptakan dan mengatur semua itu. Orang saat ini sibuk dengan bungkusnya, sibuk dengan pernak-pernik luarnya, dan melupakan esensinya.

Ibrahim kala itu, belum sempat lagi untuk berpikir berapa luas bulan, berapa diameter matahari, tetapi, ia belajar bahwa bulan dan matahari itu ada yang mengatur. Berasal dari perenungannyalah, akhirnya ia menemukan realitas ketuhanan. Kemudian dari Ibrahimlah, lahir agama-agama Ibrahim (Millah Ibrahim/Abraham Religions), Yahudi, Nasrani, dan Islam.

Jika Musa hidup saat ini, maka tentu ia akan mengalahkan penyihir-penyihir yang ada saat ini. Bukan hanya penyihir yang bisa mengubah uang menjadi setangkai bunga, tetapi juga penyihir-penyihir yang menyedot pundi-pundi uang dari kantong-kantong ekonomi masyarakat yang ‘tersihir’.

Orang saat ini banyak disihir oleh kemilaunya nama suatu merk, berlomba-lomba mengganti handphone, bermewah-mewahan dalam berpakaian, dan segala aksesoris lainnya, karena semua itu simbol dari kemapanan, katanya. Inilah sihir di zaman modern, sekadar ‘bungkus’, tetapi dihargai dan dibanggakan. Sembari tersihir dengan bungkus, para ‘penyihir’ menjadi semakin rakus.

Sekiranya Isa hidup kembali sekarang, maka tentu ia akan mengajak kita untuk selalu berbagi, bukan hanya sekadar berbagi pakaian layak pakai saja. Orang saat ini, rasanya tak ada lagi yang hanya punya dua lembar pakaian, setidaknya ada berlusin-lusin pakaian di lemari. Jangan sibukkan diri kita hanya dengan berbagi ‘bungkus’nya saja.

Berbagi tidak hanya aku memberi materi, tetapi, aku juga bisa menerima kepedihanmu, menerima kesengsaraanmu, dan pada akhirnya turut respect dan berempati untuk bisa hidup dan jalan bersama tanpa ada sekat dan jurang pemisah. Empati, menjadi salah satu kaidah emas menuju hidup berbelas kasih ala Karen Armstrong.

Isa pun akan memerintahkan kepada manusia untuk selalu menghakimi diri sendiri dan tidak men-judge orang lain. Betapa tidak? narasi-narasi kebencian di media sosial dewasa ini sudah menjadi hal yang ‘lumrah’. Cacian dan makian sudah menjadi bahasa ibu, bahkan bagi sebagian pemuka agama. Melihat dinamika saat ini, mungkin Isa akan kembali menangis sembari berkata: ‘Siapa di antara kalian yang tidak berdosa, hendaklah ia yang mencaci maki dan menghina orang lain’.

Seumpama Muhammad hadir di tengah kita saat ini. Maka kembali, yang akan diubah oleh ia adalah akhlak umat beragama. Dulu, orang tak berakhlak, karena agama memang belum mapan. Sekarang, ketika agama telah mencapai kemapanannya, dimana-mana orang menyebut nama Tuhannya. Tetapi, justru yang hilang dari kita adalah akhlak, kata Prof. Quraish Shihab. Jangan anggap engkau orang beragama, jika hanya mementingkan ‘bungkus’ agama.

Tangisan di akhir hayat beliau, ketika memekikkan ucapan ‘Ummati..ummati..ummati’ mungkin akan terucap lagi. Aina ummati..aina ummati.. Dimana ummatku, dimana ummatku. Mereka mengatakan pengikut Muhammad, tetapi, prilakunya tak ber-Muhammad.

Oh, Tuhan, andai Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad hadir kembali, mungkin harapan menuju perubahan dan bangkit dari keterpurukan bisa menjadi kenyataan. Selama ini, harapan itu hanya omong kosong semata.

Tiba-tiba, aku bangun, bangun dari tidur yang panjang. Ternyata itu semua hanya mimpi, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad tak datang kembali di era modern. Tetapi, aku tersadar. Sosok Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad dapat dihidupkan kembali ke dalam diri masing-masing insani yang mengaku beragama.

Inilah refleksi kita, refleksi akhir tahun ini, jangan bangga dengan perayaan ‘bungkus’ semata, menyalakan kembang api, dan sejumlah seremonial tahun baruan lainnya. Sadarlah, bangunlah dari sihir dan mimpi duniawi, masalah-masalah kebangsaan yang menumpuk, bukan lagi tugas Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad. Tetapi, itu adalah tugas kita, sebagai umat beragama, yang meyakini dan meneladani tokoh-tokoh tersebut. Dan harapan untuk bisa maju itu ada dalam tiga kata: dimulai dari SAYA.

  • view 178