Kelemahan dan Batu Apung Abu-Abu

Rahmatul Husni
Karya Rahmatul Husni Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Februari 2016
Kelemahan dan Batu Apung Abu-Abu

Akak teringat dulu ketika masih kecil diajak berenang oleh Papa ke Danau Singkarak. Mereka naik "kincia-kincia", semacam sepeda air. Akak dan Adik, Papa yang pegang kemudi. Akak waktu itu sangat penakut sekali jika melihat air dalam jumlah besar karena seminggu sebelumnya tenggelam di sungai. Tapi karena ada Papa, takut nya Akak tahan-tahan. Awalnya Akak santai saja, ada Papa. Ketika kincir makin melaju ketengah Danau hingga orang-orang di dermaga nampak sebesar kelingking, Akak mulai tegang. Behubung waktu itu? hobi nonton film gurita raksasa, hiu, dan buaya pemakan manusia, mulailah terbayang aneh-aneh.

Akak pun tak tahan lagi.

"Pa?. Ayo kita balik" suara Akak gemetar menahan tangis.

"Hm?"

"Akak mau balik saja. Akak Taa.. kuut..."

Tiba-tiba Papa menghentikan kincir. Adik sih diam saja. Waktu itu dia masih kelas 3 SD dan Akak kelas 5 SD.

Riak-riak danau terasa makin menyeramkan. Akak tak tahu kedalamannya berapa meter tapi Akak merasa dibawah sana adalah jurang dan mereka berada diatas bukit! (Dampak terlalu hobi membaca Lima Sekawan~Enid Blyton)

Yang ada hanya ganggang.

Biru dalam.

Biru menenggelamkan.

Biru menakutkan!

"Akak jaga adik, Papa turun sebentar. Ingat, kalau banyak bergerak kincirnya akan terbalik!"

Akak yang sudah takut, mulai cemas tak karuan. Tapi juga tak mau terlihat penakut. Akak diam saja.

Dengan ngeri Akak lihat Papa mencebur ke danau.

Kincir pun mengapung-apung tanpa pengemudi.

???????

Detik demi detik berlalu

Mereka, Akak dan Adik, bernyanyi-nyanyi pelan.

Waktu ku kecil hidupku//amatlah senang//senang dipangku - dipangku dipeluknya

serta dicium dicium dimanjakan//namanya kesayangan?.

????????????????

?

Lagu sudah selesai dinyanyikan.

Duuuh, Papa kemana????..

Lama sekali, Papa tak muncul-muncul!

Akak serasa mau pipis! Adik mulai rewel. "Papa tadi mana kak?

Akak diam saja dalam diam.

Papa dimakan hiu??!!??!!"

Mereka, Akak dan Adik saling tatap, berpegangan, dan menggigil ketakutan.

Angin berhembus membuat kincir jadi semakin bergoyang.

Seperti diperintah satu suara, mereka pun mulai mewek dan berteriak-teriak kencang.

"Papaaaaaa?..paapaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa?. papaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!"

?

Tiba-tiba, dari samping kincir air berkecipak.

"Akak kenapa teriak-teriak? Adik kenapa menangis?"

"Kami takut!"

"huhuhuhu.. Adik takut papa mati, Papa dimakan hiu..huhu!"

"Sssshhh?? sstt.. Sini Papa bilang satu rahasia supaya tidak takut."

?mereka, Akak dan Adik langsung terdiam.

Papa berkata dengan suara bergema seperti sinterklas dan gaya lucu.

"Huwahahahahaha. Anak-anak Papa yang baik, dengarlah, Papa ada nasehat! Jika takut jangan katakan, jika dikatakan jangan takut! Ha ha ha. Nah! Begitu! Tersenyum lebih baik daripada menangisi hal tak penting. Anak Papa pintar.? Lihat Papa dapat apa!"

Papa kembali naik ke sepeda kincir dan duduk ditengah. Akak dan Adik melongok. Rupa-rupanya batu kecil seperti telur puyuh dan berwarna abu-abu. Papa kembali mengemudikan kincir. Sesampainya di tepi, Papa menggosok-gosokkan batu tadi ke batu besar lalu ditekan ke siku Akak. Akak meringis. Adik tertawa terbahak-bahak.

"apa yang Akak rasakan?"

"Panas.. hhhh"

"Akak tahu kenapa terasa panas di siku?"

"Karena digosok-gosok terus ke batu besar"

Papa tersenyum.

"Pegang ini. Kalau Akak merasa takut, merasa punya masalah, gosok-gosokkan saja batunya."

"Dan Akak tidak akan merasa takut lagi?"

"Hm ... sebenarnya bukan batunya yang membuat Akak tak takut, tapi ketika Akak punya pegangan, takut akan hilang."

"Batu ini dijadikan pegangan?"

"Bukan, sayang, batu ini hanya pegangan di tangan, Allah lah yang menciptakannya. Nah, mulai hujan. Nanti dirumah Papa lanjutkan tentang Allah ya ... "

?

Akak mengangguk meski penasaran. Menggamit tangan Adik, memegangnya dengan kuat. Sebab, Adik sering terjatuh bila tidak dipegang.

  • view 151