INDONESIA, SEPAK BOLA, DAN DRAMA YANG TAK PERNAH USAI

Rahmat Suardi
Karya Rahmat Suardi Kategori Bola
dipublikasikan 07 November 2017
INDONESIA, SEPAK BOLA, DAN DRAMA YANG TAK PERNAH USAI

Liga Indonesia atau musim ini dikenal sebagai Liga 1 Go-Jek Traveloka telah berada di ujung musim. Bukan sesuatu yang asing memang jika nama liga bisa berubah-ubah. Ini disesuaikan dengan sponsor utama yang menjadi penyokong. Kemenangan Bali United tadi malam melawan PSM Makassar di stadion Andi Matalatta menjadi sebuah momentum untuk mengkudeta Bhayangkara FC dari pucuk klasmen. Sementara Bhayangkara FC masih menyisahkan 2 laga sisa.

Hingga menit ke-94 papan skor masih terlihat sama kuat, 0-0. Namun serangan yang dibangun PSM di menit-menit krusial tersebut gagal sesaat sebelum memasuki area kotak penalti milik Bali United. Serangan balik terjadi. Secepat kilat bola telah berada di bawah penguasaan kaki Sylvano Comvalius. Di sinilah dimulainya drama kekecewaan bagi PSM dan segenap elemen yang mendukungnya. Menyusur dari sisi kiri pertahanan PSM, top scorer Liga 1 itu memberikan umpan menyusur ke dalam kota penalti yang pada saat bersamaan di sana berdiri bebas sang sosok protagonis, Stefano Lilipaly, yang menyambar bola dengan mudah. Golllll. Drama selesai. PSM harus menyudahi musim ini dengan memupus harapan juara.

Ciri khas supporter Indonesia memang tak pernah rela menerima kekalahan. Terlepas kemenangan tim lawan didapatkan dengan cara bagaimana. Hal seperti ini yang masih menjauhkan kualitas sepak bola kita bisa bersaing seminimalnya pada regional Asean. Selepas pertandingan semalam terjadi huru-hara yang tidak pantas dipertontonkan pada publik. Sampai-sampai para pemain Bali United dan official harus dibawa keluar stadion dengan pengawalan ketat aparat.

Kita meski berkaca terlebih dahulu sebelum mengirim tuduhan ke mana-mana sebagai kambing hitam keributan. Suporter hingga pihak pengelola Liga mesti mengevaluasi diri masing-masing. Sudah dewasakah kita dalam mengadakan kompetisi dan mendukung tim kesayangan. Jika masih memelihara sifat anak kecil di dalam diri yang mudah tersulut perasaan amarah, maka belum layaklah kita berada di dalam pusaran kompetisi sebesar Liga 1 ini.

Terlepas siapa yang akan menjadi juara Liga 1 musim ini, maka tim juara akan mewakili Indonesia di Liga Champions Asia. Meski harus memulainya dari babak playoff. Sementara peringkat dua dan tiga akan berlaga di pentas AFC. Satu kasta di bawah Liga Champions Asia.

Menjadi juara Liga 1 atau peringkat 2 dan 3 bukanlah sebuah jaminan bisa tampil begitu saja di pentas Asia. Sebuah klub harus lolos dalam verifikasi lisensi klub professional AFC dengan tiga level aspek yang harus dipenuhi. Sejauh ini yang memenuhi syarat hanya ada 2 tim saja, Persib Bandung dan Arema FC. Kedua tim tersebut di musim ini lebih banyak berjuang di papan tengah. Namun bukan sesuatu yang mustahil jika keduanya bisa mewakili Indonesia di pentas Asia jika 3 tim teratas gagal lolos studi kelayakan.

Jika menilik kedalaman skuad, ini hasil sudut pandang saya saja jadi sifatnya subjektif, maka bagi saya yang paling layak tampil mewakili nama Indonesia adalah PSM Makassar dan Bali United. Tempat ketiga mungkin saya akan menyebut tim Persipura atau Persija sebagai wakil yang layak ikut. Indikatornya bukan dari komposisi pemain namun 100% dari sejarah klub yang telah malang melintang di dunia sepak bola Indonesia.

PSM adalah sejarah panjang persepakbolaan Indonesia. Sebagai klub tertua di Indonesia yang sudah berdiri sejak 2 November 1915 untuk musim ini dihuni pemain-pemain handal. Zukifly Syukur, Hamka Hamzah, Zulham Zamrun, Titus Bonai, hingga duet lini tengah terbaik musim ini; Marc Klok dan Wiljan Pluim. Deretan nama tersebut bisa menjadi garansi utama kenapa PSM sangat layak mengisi satu slot.

Bali United pun hampir dibilang serupa untuk musim. Tim yang bermarkas di stadion Kapten I Wayan Dipta ini juga dihuni pemain berkelas. Trio keturunan Belanda Irfan Bachdim, Sylvano Comvalius, dan Stefano Lilipaly adalah sebuah jaminan mutu layaknya Bali United tampil di daratan klub terbaik Asia.

Namun semua cacatan di atas hanya analisa kasar saya. Kembali lagi pada aturan yang sudah terstandarisasi oleh AFC tim mana sajakah yang layak tampil sebagai wakil Indonesia di kancah Internasional. Sebagai pendukung yang tidak berada di posisi garis keras, saya hanya bisa berharap kemajuan sepak bola negeri kita bisa segera tercapai. Paling tidak kita sudah berharap ribuan kali menuju perubahan itu. Terwujud atau tidaknya biar waktu yang membuktikan mujarabnya doa.

 (Sumber gambar: bola.rakyatku.com)

  • view 34