Menerjemahkan makna terindah nan santun dari sebuah keikhlasan

Rahmat Nurcahyo
Karya Rahmat Nurcahyo Kategori Inspiratif
dipublikasikan 22 November 2016
Menerjemahkan makna terindah nan santun dari sebuah keikhlasan

Bismillahirrahmanirrohim..

ikhlas adalah kata sederhana namun penuh makna, mudah di utarakan lewat lisan tapi sangat sulit tersampaikan di hati. Terganjal. Juga Kadang seakan jadi beban tersendiri, seperti obat yang harus wajib di minum tapi sangat pahit rasanya ketika mencoba meminumnya. Atau seperti ingatan yang kadang terbayang-bayang walau terus berupaya di hilangkan.. atau, atau lainnya.

Hmmm semua tergantung persepsi masing-masing, tergantung bagaimana diri kita menerjemahkannya.. gak ada di kamus, atau di ensiklopedia, atau di perpustakaan, atau bahkan arsip-arsip para ahli psikologi sekalipun.  Karena ikhlas tak jadi hanya sekedar kata bermakna, ia bukan sekedar cerita menyedihkan, ia juga bukan karangan fiksi para penyair. Tapi ia tumbuh seiring terbukanya hati, lapangnya rasa dalam dada, tak ada sakit, tak juga coba untuk menahannya. Karena semuanya di alirkan oleh air ketenangan jiwa yang santun. Seperti senyum kecil bocah-bocah lugu yang kelihatan amat bahagia itu, atau seperti tetesan air mata yang jatuh ke bumi menumbuhkan tunas-tunas hijau yang baru.   

ikhlas itu bukan soal perintah atau di perintah, bukan pula pertanyaan yang selalu ada jawabannya. Tapi ikhlas adalah kepolosan tingkah yang lahir dari hati kita tanpa perlu bertanya, haruskah, mengapa, kenapa, atau mencoba mencari-cari alasan yang seakan tak ada habisnya. Kita belajar untuk ikhlas bukan hanya bisa menerima semua kenyataan tapi juga bisa bijak terhadap semua kenyataan. Bukan berarti diam dan berharap keadaan akan jadi lebih baik. Tapi lakukan lah meski orang lain di sekeliling kita masa bodo, meski yang kita lakukan sederhana, meski tidak ada balasan yang akan kita terima, lakukan agar keadaan bisa jadi lebih baik. Karena ikhlas tak selalu harus di utarakan karena ia bukan kata benda atau kata sifat tapi ia adalah kata kerja, dan tak perlu lagi menunjukkannya lewat sekedar ucapan. Karena tanpa itu pun Allah tau apa yang kita lakukan.

Ikhlas memang tak selalu bisa di pelajari, tapi ia tak datang dengan sendirinya. Kadang butuh paksaan sedikit, paksaan untuk seraya berserah pada Allah atas semua yang terjadi. Seperti seteguk air. Mungkin sedikit, tapi ketika telah sampai di kerongkongan, blesss rasanya segar sekali. Dahaga yang panjang pun serasa menghilang. Tak ada Tanya bukan ketika itu, atau seperti gerimis kecil. Tak harus membanjiri bukan, tapi hilang semua debu-debu yang menyesakkan. Ikhlas itu sederhana, tak perlu harus berlimpah ruah tak perlu ribet dengan semua hal yang mengiringinya.

Mungkin bukan kitanya yang tidak bisa ikhlas, hanya saja pintu hati kita yang kurang terbuka, dan membiarkan semua yang kurang mengenakkan keluar dan berganti hal yang baru. Atau kita lupa membuka jendela di hati kita agar silih berganti rasa dunia ini tidak begitu menyesakkan. Allah tidaklah pernah menyiksa hambaNya dengan sesuatu yang Dia berikan pada hambaNya tersebut, tapi Allah punya cara terbaik mendewasakan kita dalam setiap keadaan apapun. Jangan buat hatimu penuh pertanyaan yang selalu kamu berharap jawaban atas itu, tapi buatlah pernyataan untuk hatimu, agar harapan itu jadi kesempatan baru untuk kamu melakukan sesuatu yang lebih baik. Memanusiakan diri, meski lewat hal sederhana dan meski harus kehilangan sebagian dari apa yang kita miliki.

  • view 305