Kita Belajar dari Sebuah per-(Tika&Cera)i-an

Rahma Pratiwi
Karya Rahma Pratiwi Kategori Psikologi
dipublikasikan 17 Juli 2017
Kita Belajar dari Sebuah per-(Tika&Cera)i-an

Bayi yang tinggal terpisah dengan ibunya, meski hanya satu malam, diketahui memiliki hubungan yang lebih renggang dibandingkan dengan bayi dan anak yang tinggal bersama ibunya. Hal ini biasanya terjadi pada anak yang orang tuanya hidup terpisah. Hasil ini ditemukan oleh peneliti di University of Virginia setelah menganalisis data dari ribuan anak yang lahir di Amerika pada tahun 1998 sampai 2000  (Merdeka.com)

Membaca artikel tsb, mengingatkan saya pada masa-masa dimana adik perempuan saya yang baru beberapa bulan lahir diharuskan untuk hidup tanpa pengawasan seorang ibu. Waktu itu, umur saya sekitar 6 tahun. Saya merasakan adanya dampak yang begitu besar dengan terjadinya permasalahan dalam kehidupan saya setelah itu, mengapa? Saya hanya dapat menerka-nerka bahwa kami sangat butuh perhatian dan kasih sayang khusus dari orang tua kepada anak yang diberikan pada umumnya. Hingga kini umur saya 20 tahun, saya rasa jarak atau kerenggangan masih akan tetap ada. Apakah ini keinginan saya? Tidak, tidak sama sekali.

Harapan semua orang adalah membina, memperoleh serta menikmati keharmonisan dalam hubungan suatu keluarga. Baik suami dengan istri dan sebaliknya, orang tua dengan anak dan sebaliknya.  Sejak kehadiran sosok perempuan atas dasar mencintai ayah saya dan ingin menjadi seorang ibu dari keempat anaknya, seakan kami memiliki harapan kembali untuk menjalani kehidupan yang utuh (lagi).

Awal-awal tahun, kami masih dalam proses adaptasi untuk saling menerima posisi. Andai  kala itu saya memiliki keberanian mengingatkan kepadanya bahwa “kedekatan fisik bagi anak usia dibawah 7 tahun adalah sesuatu yang memang diperlukan. Mereka belum bisa membayangkan sosok orang tua yang tidak ada di dekatnya.” Akan saya ungkapkan agar adik saya diberi kedekatan khusus. Bahkan, terkadang dengan orang tua tanpa sadar terlalu over estimate pada anak, padahal sebenarnya mereka juga masih butuh dimanjakan dan didengarkan, sehingga kurangnya komunikasi mendalam antara anak dan orang tua berdampak negatif pada perkembangan emosi anak.

"Keterampilan komunikasi anak menjadi kurang diasah sehingga anak lebih individualis. Mereka juga rentan jadi pemberontak, terutama pada anak yang bawaannya memang keras," (Kompas.com)

Untuk itu, obrolan mendalam antara orang tua dan anak sebenarnya membantu anak mengatur emosinya. Sedangkan anak-anak yang jarang diajak ngobrol dengan orang tuanya cenderung merasa "kosong" dalam jiwanya sehingga mereka akan mencari orang lain untuk mengisi kekosongan tersebut. Wajar, bukan?

Anak akan merasa sangat beruntung ketika mereka menemukan teman dekat yang dapat mengisi kekosongan mereka, berbagi cerita dan mendapat perhatian. Akan jauh lebih beruntung ketika teman dekat serta lingkungannya mengajak ia dan memberi pengaruh positif yang luar biasa. Namun, bagaimana jika sebaliknya?

Peran orang tua memang sangat berpengaruh besar terhadap anak. Tidak semua anak merasakan kenyamanan dalam sebuah keluarga, membuat saya berpikir bahwa apa yang saya rasakan selama hampir 20 tahun menjadikan pengalaman terpenting dan pembelajaran bagi saya. Sebab, dengan pernah menjalankan kehidupan layaknya anak-anak tanpa pengawasan serta kasih sayang full dari orang tua menyadarkan saya untuk menjadi pribadi yang dapat memberikan kasih sayang lebih dari apa yang ditanamkan oleh keluarga saya.

Harapan terbesar perempuan adalah menjadi seorang istri, menjadi seorang ibu yang mampu menghasilkan, mengasihi, mendidik anak yang patut dicintai dan dibanggakan. Walau sering lalai dan merasa lemah, saya memiliki harapan yang sangat besar agar melahirkan anak-anak yang tumbuh melalui rasa, sikap dan pikiran yang positif. Menanamkan kebaikan dari apa yang telah saya lalui selama sekian tahun. Menjauhkan dari apa yang buruk dari dalam diri saya. Sehingga, apa yang saya harapkan dan usahakan akan membuahkan anak-anak yang selalu merasa dekat dengan keluarga dengan pondasi yang kokoh pula nantinya.

Semoga yang membaca atau bahkan merasakan hal yang kurang lebih sama dengan pengalaman saya, membuat kita sama-sama belajar bahwa korban perpisahan orang tua tidak hanya mencetak generasi yang mandiri namun juga mampu memberikan energi yang positif yang saling mencintai dan mengasihi.

  • view 74