terorisme sebuah distorsi kepentingan

taufiq urrahman
Karya taufiq urrahman Kategori Agama
dipublikasikan 02 Mei 2017
terorisme sebuah distorsi kepentingan

teorisme muncul ketika sebuah dengungan Presiden Amerika George Walker Bush pasca bom world trade center .hal inilah yang menadai mulanya pemberitaan media tentang aksi kejahatan-kejahatan yang disinyalir sebagai tindakan terorisme . peranan media dalam memberikan pemberitaan kepada dunia untuk tetap waspada menghadapi terorisme dijadikan sebagai cara pemerintah amerika untuk menyerukan kepada masyarakat dunia menghadapi kejahatan terorisme.

banyak kejadian –kejadian yang diberitakan media tentang terorisme yang kini menjadi isu dunia . diberbagai pemberitaan media, potret media amerika banyak sekali menjelaskan ketidaksesuaian antara fakta dilapangan . banyak keanehan yang terjadi saat terjadi jatuhnya gedung wtc saat itu.itu. hal inilah yang menyebabkan bahwa seakan –akan pembicangan tentang terorisme sebenarnya merupakan distorsi kepentingan yang dibuat untuk mengejar sebuah kepentingan baik itu individu kelompok, maupun untuk mendepankan sebuah asas ideologi yang dianut .

Lalu mengapa demikian ? potret kasus terorisme tidak dapat dilepaskan dari peran media dalam menyampaikan realitas dalam membentuk opini public.media menjadi pintu gerbangdalam membuka dialektika serta diskursus public tentang apa itu terorisme dan islam .sinisme public terhadap islam menjadi contoh bagaiaman media sebagai agen yang mengkonstruksi realitas. Terlebih lagi saat kejadian bom bali memang merupakan sebuah kejahatan manusia yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun , namun identifikasi dan justifikasi islam sebagai agama –gudangnya terror juga tidak dapat dibenrkan dengan alasan apapun . bungkusan media yang memberikan hal-hal baru tentang pemberitaan kaitanyan dengan kasus terorisme seringkali memojokkan suatu paham ideology, agama seseorang . fenomena yang terjadi dimasyarakat dunia bahwa terorisme kemudian melahirkan sebuah konsep gerakan yang berpusat pada “islam “ . islam merupakan agama yang mayoritas terbesar di dunia saat ini  dan terus mengelami perkembangan .

Lahirnya terorisme sebenar terbentuk dari bagaimana memahami makna syahid didalam agama islam , prinsip mati syahid memiliki kebenaran universal berdasarkan instrument ketuhanan, kemanusiaan,keadilan ,dan persamaan,makna syahid telah terdistorsi berbelok menjadi klaim perjuangan untuk membela kepentingan komunal.

Sehubungan dengan adanya kelaim syahid komunal ini, telah memunculkan pemahaman anti etika universal, yang mengklaim kebenaran terbatas pada kepentingan yang dibangun secara komunal. Kerangka dasar pemikiran inilah yang menjadi fundasi terorisme .hal ini akan membentuk sikap dan perilaku sebagai teroris yang mengabaikan keselamatan dan kenyamanan di dunia. Mereka ini menggap ,bahwa penapsiran terhadap teks kewahyuaan sudah final sesuai dengan yang mereka pahami dan mereka yakini . misalnya ,dunia telah dipenuhi fitnah dan pertumpahan darah sehingga harus melakukan perlawanan yang diajarkan ideology komunal para teroris.

Dalam konteks yang tidak terkendalikan sikap pelaku terror ini akan berubah menjadi sikap anarkis,sadis ,dan fasis, sikap yang tidak terkendali ini akan memuncak lebih berbahaya , apabila didorong kehendak kuasa dan sikap kebencian kepada subjek atau komunitas social yang berbeda pandangan dan sikap keberagamaan yang diyakininya .jika negara, masyarakat ,dan umat beragama tidak membendung sumber gerakan terorisme, maka selamanya sikap dan perilaku teroris akan terus silih berganti mengisi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Anggapan terorisme muncul juga dikarenakan karena timbul sebuah gerakan-gerakan radikalisme .sepanjang yang buku bacaan dari referensi –referensi yang ada bahwa, kita menemukan radikalisme tertuju pada suatu ajaran agama. Apalagi ditujukan secara khusus kepada islam.akan tetapi kebanyakan definisi mengaitkan dengan politik.

Radikalisme dari Bahasa latin yang berarti “akar” adalah istilah yang digunakan pada akhir abad ke -18 untuk pendukung gerakan radikal.dalam sejarah ,gerakan yang dimulai di britania raya ini meminta system pemilihan secara radikal .gerakan ini awalnya menyatakan dirinya sebagai partai kiri yang menentang partai kanan jauh. Begitu “Radikalisme” historis mulai terserap dalam perkembangan liberalism politik pada abad 19. 

Secara psikologis orang yang bergabung dalam jaringan kelompok teroris bukanlah kelompok atau orang yang memiliki keperibadian anti sosial. Bukan juga kumpulan orang bodoh dengan tingkat intelijensia rendah. Bukan juga inadequate people, apalagi ada yang menganggap sebagai kumpulan orang gila. Mereka adalah orang-orang normal seperti halnya kita. Secara hukum mereka adalah bersalah dan melanggar hukum, di sisi mentalitas dan militansi mereka adalah orang-orang yang berpendirian teguh. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai idealisme sangat tinggi. Dan demi mempertahankan cita-cita tersebut mereka tidak takut kematian, sebab kematian adalah sebagai tujuan.

Pertanyaannya, mengapa mereka melakukan kekerasan, mengapa mereka menyerang negara?  Mengapa mereka mencederai bahkan membunuh orang lain?

Itulah letak persoalannya. Pembenaran versi mereka adalah idealisme. Idealisme  agama versi mereka. Mereka secara praktis ingin pengakuan, baik pengakuan masyarakat lokal, nasional bahkan masyarakat dunia. Mereka dengan bangga ingin memperlihatkan inilah perjuangan mereka. Dengan kekerasan mereka ingin agar pemerintah bereaksi dan membalas dengan reaksi yang sangat refresif dan meresahkan masyarakat. Dengan itu kemudian mereka akan mendapat dukungan sosiologis.

Perlu kita ketahui bahwa radikalisme untuk umat islam baru dikenal beberapa tahun belakangan ini .diawali sejak perang dingin antara dua negara adikuasa berahir .setelah kalahnya adikuasa Uni Soviet dalam melawan Afganistan .lalu negara –negara islam yang berada dalam cengkraman negara tersebut berusaha melepaskan diri. Kemudian berkembang lagi setelah kejadian 11 september 2001 di Amerika Serikat .

 

 

 

referensi 

 

Ubaidillah Achmad, 14 juli 2016 , https://www.arrahmah.co.id/2016/07/berani-dan-cerdas-memberantas-terorisme.html diakses pada 29 april 2017

Sofyan Saoti , dalam acara program TV Indonesia Lawyer Club, 15 November 2016 ,diakses pada https://www.youtube.com/watch?v=YAaf1wdNxGA tanggal 29 april 2017

https://damailahindonesiaku.com/memahami-radikalisasi-sebagai-proses-sosial-bagian-2.html diakses pada tanggal 30 april 2017

https://almanhaj.or.id/4120-radikalisme-sebab-dan-terapinya.html diakses pada tanggal 30 april 2017

 

  • view 41