POLITIK TERCERAHKAN SUDIRMAN SAID

rahim ahmad
Karya rahim ahmad Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 Agustus 2017
POLITIK TERCERAHKAN SUDIRMAN SAID

Politik kian hari kian kehilangan wibawa dan kehormatannya. Di tangan kaum elit, hampir politik dieksploitasi sebagai suatu cara untuk memperbesar kesempatan mencapai kekuasaan. Dan kekuasaan untuk sekedar dinikmati segelintir orang. Di tangan mereka, segelintir elit, politik menjadi sesuatu yang buruk. Hampir kita mustahil untuk mengatakan politik adalah instrumen yang bertujuan mulia. Sebabnya kerakusan pada kekuasaan dan mereka menamainya sebagai politik.

Bagi kalangan awam, istilah itu melekat begitu saja. Diperparah oleh cara elit bertindak dan berperilaku serta menunjukkan kepada publik. Jadi politik menjadi komoditas para elit untuk menumpuk segala kekayaan pribadi. Jika ada yang berpikir bahwa politik adalah cara mengabdi dan melayani rakyat, siap-siap itu dilecehkan atau ditertawakan oleh rakyat yang kian hari kian mengerti bahwa politik tak ubahnya dagelan saja.

Diantara politisi itu tentu saja tidak semuanya pesimis. Sebagian dari mereka masih berfikir jernih dan waras. Bila publik menilainya secara umum kebanyakan elit adalah tidak waras, kenyataannya selalu ada yang menyimpang dan yang menyimpang ini masih memikirkan politik secara seharusnya. Setidaknya, aspek-aspek ideal dari politik tidak harus dilucuti sepenuhnya sehingga digantikan oleh baju pragmatisme dalam politik.

Sudirman Said adalah salah satunya. Dia begitu konsisten menyuarakan politik yang mengabdi kepada rakyat. Tentu saja dia tidak hanya bicara. Dia memiliki komitmen moral. Dia merumuskan konsep, strategi, perencanaan dan memperkirakan hasil apa yang hendak dia capai dari apa yang diusahakannya. Pengabdiannya melalui pendirian Masyarakat Transparansi Indonesia dan IICG adalah satu bukti bahwa dia tidak sekedar berbicara sesuatu yang ideal yang sejalan dengan komitmen moral. Lebih dari itu, tindakan nyata yang sesuai dengan harapan moral dia lakukan. Mengabdi itu bertindak nyata.

Sumber dari tindakannya itu tidak lain dari komitmennya pada politik yang jujur, yang mengabdi dan mempertimbangkan suara rakyat. Dalam salah satu ungkapannya, dia mengatakan bahwa “...Politik dan demokrasi kita harus dikembalikan ke fungsi luhurnya: melayani rakyat. Bukan sarana menggarong uang rakyat (@sudirmansaid, 14 Maret 2017, 23:20 WIB).

Sudirman Said masih mempercayai bahwa politik memiliki fungsi luhur. Sebagaimana disebutkan di atas, politik itu melayani rakyat. Sebagai melayani rakyat, Sudirman menegaskan menyadari kembali dan menggugah nurani masing-masing diri elit politik. Mengapa melayani rakyat, inilah esensi daripada demokrasi. Sistem ini dirancang untuk menjadi medium bagi kesejahteraan rakyat. Jika ada suatu kondisi dimana para pejabat tidak peduli kepada rakyat, kepada kesejahteraannya, dan kedaulatan mereka tak lagi terdengar, maka demokrasi sebagai suatu sistem untuk itu, sepenuhnya kurang berarti.

Bagi Sudirman Said, politik seharusnya diisi oleh orang-orang terdidik dan tercerahkan. “...Sejarah awal politik Indonesia diisi kaum terdidik dan tercerahkan, yang masuk politik untuk membangun bangsanya” (@sudirmansaid, 14 Maret 2017, 23:21). Siapa orang-orang terdidik dan tercerahkan? Tentu saja Sudirman tidak asal merujuk kepada mereka yang memiliki kecerdasan, pengetahuan. Mereka yang terdidik dan tercerahkan adalah mereka yang memiliki pengetahuan dan juga kesadaran moral. Pengetahuan yang sesungguhnya tentu tidak bertentangan dengan tujuan moral. Pengetahuan dikembangkan untuk menolong lingkungan sekelilingnya. Pengetahuan adalah cara mengangkat manusia dari keterbelakangan. Maka bila ada pengetahuan yang semata-mata untuk mementingkan keuntungan pribadi dan bahkan tak peduli terhadap yang lain atau pengetahuan digunakan untuk sekedar memuaskan nafsu rakus kekuasaan, pengetahuan itu adalah pengetahuan jahiliyah. Sejarah bangsa ini tidak lahir dari kebusukan itu.

Sudirman menyadari kondisi atau kenyataan hari ini memang masih jauh dari harapan idealnya. Melalui sebuah pertanyaan yang sadar: “Mengapa hari ini politik menjadi “killing field”? Ladang pembantaian karakter terpuji, tempat dirancangnya kejahatan kolektif? (@sudirmansaid, 14 Maret 2017, 23:25). Pertanyaan yang menggelisahkan. Mengkhawatirkan. Tapi tentu saja tidak menutupnya sama sekali dari harapan-harapannya yang optimis.

Dia berfikir suasana ini bisa dibenahi. Politik perlahan diyakini bisa dibenahi. Dia mengatakan: “Harus ada upaya kolektif, mengembalikan politik pada relnya. Kader terbaik bangsa harus masuk politik untuk meluruskannya” (@sudirmansaid).

KETIKA SUDIRMAN SAID BERBICARA POLITIK KAUM TERDIDIK DAN TERCERAHKAN

Politik kian hari kian kehilangan wibawa dan kehormatannya. Di tangan kaum elit, hampir politik dieksploitasi sebagai suatu cara untuk memperbesar kesempatan mencapai kekuasaan. Dan kekuasaan untuk sekedar dinikmati segelintir orang. Di tangan mereka, segelintir elit, politik menjadi sesuatu yang buruk. Hampir kita mustahil untuk mengatakan politik adalah instrumen yang bertujuan mulia. Sebabnya kerakusan pada kekuasaan dan mereka menamainya sebagai politik.

Bagi kalangan awam, istilah itu melekat begitu saja. Diperparah oleh cara elit bertindak dan berperilaku serta menunjukkan kepada publik. Jadi politik menjadi komoditas para elit untuk menumpuk segala kekayaan pribadi. Jika ada yang berpikir bahwa politik adalah cara mengabdi dan melayani rakyat, siap-siap itu dilecehkan atau ditertawakan oleh rakyat yang kian hari kian mengerti bahwa politik tak ubahnya dagelan saja.

Diantara politisi itu tentu saja tidak semuanya pesimis. Sebagian dari mereka masih berfikir jernih dan waras. Bila publik menilainya secara umum kebanyakan elit adalah tidak waras, kenyataannya selalu ada yang menyimpang dan yang menyimpang ini masih memikirkan politik secara seharusnya. Setidaknya, aspek-aspek ideal dari politik tidak harus dilucuti sepenuhnya sehingga digantikan oleh baju pragmatisme dalam politik.

Sudirman Said adalah salah satunya. Dia begitu konsisten menyuarakan politik yang mengabdi kepada rakyat. Tentu saja dia tidak hanya bicara. Dia memiliki komitmen moral. Dia merumuskan konsep, strategi, perencanaan dan memperkirakan hasil apa yang hendak dia capai dari apa yang diusahakannya. Pengabdiannya melalui pendirian Masyarakat Transparansi Indonesia dan IICG adalah satu bukti bahwa dia tidak sekedar berbicara sesuatu yang ideal yang sejalan dengan komitmen moral. Lebih dari itu, tindakan nyata yang sesuai dengan harapan moral dia lakukan. Mengabdi itu bertindak nyata.

Sumber dari tindakannya itu tidak lain dari komitmennya pada politik yang jujur, yang mengabdi dan mempertimbangkan suara rakyat. Dalam salah satu ungkapannya, dia mengatakan bahwa “...Politik dan demokrasi kita harus dikembalikan ke fungsi luhurnya: melayani rakyat. Bukan sarana menggarong uang rakyat (@sudirmansaid, 14 Maret 2017, 23:20 WIB).

Sudirman Said masih mempercayai bahwa politik memiliki fungsi luhur. Sebagaimana disebutkan di atas, politik itu melayani rakyat. Sebagai melayani rakyat, Sudirman menegaskan menyadari kembali dan menggugah nurani masing-masing diri elit politik. Mengapa melayani rakyat, inilah esensi daripada demokrasi. Sistem ini dirancang untuk menjadi medium bagi kesejahteraan rakyat. Jika ada suatu kondisi dimana para pejabat tidak peduli kepada rakyat, kepada kesejahteraannya, dan kedaulatan mereka tak lagi terdengar, maka demokrasi sebagai suatu sistem untuk itu, sepenuhnya kurang berarti.

Bagi Sudirman Said, politik seharusnya diisi oleh orang-orang terdidik dan tercerahkan. “...Sejarah awal politik Indonesia diisi kaum terdidik dan tercerahkan, yang masuk politik untuk membangun bangsanya” (@sudirmansaid, 14 Maret 2017, 23:21). Siapa orang-orang terdidik dan tercerahkan? Tentu saja Sudirman tidak asal merujuk kepada mereka yang memiliki kecerdasan, pengetahuan. Mereka yang terdidik dan tercerahkan adalah mereka yang memiliki pengetahuan dan juga kesadaran moral. Pengetahuan yang sesungguhnya tentu tidak bertentangan dengan tujuan moral. Pengetahuan dikembangkan untuk menolong lingkungan sekelilingnya. Pengetahuan adalah cara mengangkat manusia dari keterbelakangan. Maka bila ada pengetahuan yang semata-mata untuk mementingkan keuntungan pribadi dan bahkan tak peduli terhadap yang lain atau pengetahuan digunakan untuk sekedar memuaskan nafsu rakus kekuasaan, pengetahuan itu adalah pengetahuan jahiliyah. Sejarah bangsa ini tidak lahir dari kebusukan itu.

Sudirman menyadari kondisi atau kenyataan hari ini memang masih jauh dari harapan idealnya. Melalui sebuah pertanyaan yang sadar: “Mengapa hari ini politik menjadi “killing field”? Ladang pembantaian karakter terpuji, tempat dirancangnya kejahatan kolektif? (@sudirmansaid, 14 Maret 2017, 23:25). Pertanyaan yang menggelisahkan. Mengkhawatirkan. Tapi tentu saja tidak menutupnya sama sekali dari harapan-harapannya yang optimis.

Dia berfikir suasana ini bisa dibenahi. Politik perlahan diyakini bisa dibenahi. Dia mengatakan: “Harus ada upaya kolektif, mengembalikan politik pada relnya. Kader terbaik bangsa harus masuk politik untuk meluruskannya” (@sudirmansaid).

  • view 55