Rana Mese

rafiyati ibrahim
Karya rafiyati ibrahim Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Januari 2018
Rana Mese

Rana Mese

 

(Di kampung teber manggarai timur hiduplah sepasang suami istri bernama kae anu dan ngkiong molas liho mereka tinggal dalamsebuah rumah yang diwariskan dari orang tua kae anu. Rumahnya sudah sangat tua dan banyak sekali tiang dan papannya yang sudah lapuk termakan usia.)

Kae Anu                      : Istriku, rumah ini sudah tidak layak lagi untuk dihuni alangkah lebih baik kalau kita membuat rumah yang baru lagi.

Ngkiong Molas liho    : Tetapi membuat rumah itu sangat sulit dan membutuhkan waktu yang sangat lama suamiku,lebih baik kita tinggal di pondok saja, kamu bahkan tidak mempunyai keahlian dalam membuat rumah.

Kae Anu                      : Kamu tenang saja meskipun saya tidak memiliki keahlian dalam membuat rumah tetapi saya berusaha mencobanya.

(Kae anu memutuskan untuk mencari pohon di jadikan balok dihuta, setelah menyiapkan bekal untuk seminggu. Berangkatlah Kae Anu kesebuah hutan yang didalamnya terdapat banyak sekali pohon pinis. Sekarang hutan tersebut telah menjadi sebuah kampung yang bernama kampung pinis. Disana Kae Anu mulai menebang kayu dan membuatnya menjadi balok. Suatu siang Kae Anu sedang menebang pohon dia melihat seekor mungkis sejenis tikus hutan, berlari kearahnya dan bersembunyi dibawah ranting pohon yang sudah dipotongnya. Tidak lama setelah itu dia melihat beberapa ekor musang datang dan mengendus-endus seolah-olah sedang mencari sesuatu, namun Kae Anu tidak memperdulikannya dan terus menebang pohon tersebut dan seketika ada empat orang berlari kearahnya, orang-orang itu sama sekali tidak dikenalinya.)

Mahluk Halus              : Maaf tuan apakah anda melihat ada babi hutan yang baru saja lewat disini?

Kae Anu                      : (Menggeleng-gelengkan kepalanya)

Mahluk Halus              : Tetapi tuan lihatlah, anjing-anjing kami mengendus-endus disekitar sini pasti babi hutan juga berada disekitar sini.

Kae Anu                      : Tuan saya tidak melihat babi hutan yang lewat disini tetapi saya hanya melihat tikus kecil ini.

Mahluk Halus              :Ya ampun tuan, ini babi hutan yang kami cari-cari dari tadi.

(Kae Anu semakin tercengang-cengang, tikus kecil ini mereka anggap babi hutan yang besar, benar-benar aneh gumannya dalam hati. Kemudian keempat mahluk halus itu mengangkat tikus kecil tersebut namun tiba-tiba mereka menurunkannya kembali, mereka berulang kali mengangkat tikus yang menurut mereka babi hutan yang besar itu namun lagi-lagi dilepasnya kembali. Kae Anu memandang mereka sambil terheran-heran, di angkatnya tikus itu dengan satu tangan lalu menyodorkan kepada mereka, keempat mahluk halus itu membelalakkan matanya ketika Kae Anu dengan entengnya mengangkat tikus kecil itu mereka sangat tercengang-cengang.)

Mahluk Halus              : Ya ampun kuat benar tuan ini hanya dengan satu tangan dia bisa mengangakat babi hutan yang sangat besar ini,  Apakah tuan mempunyai ilmu gaib?

(Kemudia Kae Anu menceritakan siapa dirinya yang sebenarnya kepada mereka dan apa tujuan dia datang kehutan itu, keempat mahluk tersebut berbalik sangat takut, engah oleh Kae Anu.)

Kae Anu                      : Tenanglah saya tidak akan mecelakai kalian saya akan menolong kalian untuk membawakan babi hutan ini ke kampung kalian.

Mahluk Halus              : Terima kasi atas budi baik tuan, tenanglah tuan tidak jauh dari sini ada jalan raya yang menuju kampung kami.

(Ternyata jalan raya yang mereka maksud adalah sungai, sekarang diberi nama air dingin, sesampainya dikampung mereka Kae Anu semakin tercengang-cengang ternyata kampung mereka adalah sebuah danau kecil yang bernama Rana Nekes dan yang lebih anehnya lagi, Rumah yang mereka tempati sepotong helung atau sejenis bambu kecil yang mengapung di atas danau. Keempat mahluk halus mengajak Kae Anu menuju rumah gendang, disana sudah menunggu tua-tua adat serta segenap warga kampung dan mereka menyambut Kae Anu dengan senang hati dan Kae Anu menolak untuk masuk, karena dia tahu bahwa rumah tersebut akan tenggelam apabila dia menginjaknya.)

Kae Anu                      : Biar saya tunggu diluar karena saya takut rumah ini akan tenggelam apabila kaki saya menyentuhnya.

Ketua Adat                 : Ah tuan ini aneh-aneh saja jangan begitu, mari silahkan masuk, rumah ini sangat kokoh.

(Meskipun Kae Anu hanya menyentuh sedikit dengan ibu jari, bulu atau helung tersebut, rumah para mahluk halus tersebut bergoncang sehingga membuat para warga didalamnya berteriak ketakutan. Akhirnya mereka membiarkan Kae Anu duduk dilusr, setelah berbincang-bincang cukup lama dengan ketua adat para mahluk tersebut, Kae Anu mengetahui bahwa didalam rumah adat tersebut ada pertemuan para warga, mereka berencana berperang dengan kampung tetangga yaitu Rana Hebok yang ingin menguasai wilaya mereka.)

Ketua Adat                 : Bantulah kami tuan, saya tidak ingin kampung ini menjadi budak-budak dari Rana Hebok.

Mahluk Halus              : Tolong selamatkan kami tuan

Kae Anu                      : Baiklah saya akan ikut berperang melawan mereka.

(Hari menjelang sore Kae Anu memohon pamit kepada para mahluk halus untuk kembali pulang kerumahnya yaitu diteber mereka memberikan Kae Anu danging tikus yang bagi mereka babi hutan, namun ditolak oleh Kae Anu akhirnya sebagai balas jasa mereka membawa balok-balok milik Kae Anu ke Teber. Hari berganti hari dan tibalah saatnya bagi Kae Anu untuk ikut berperang melawan Rana Hebok. Kae Anu menyiapkan peralatan perang seperti nggiling atau tameng, tombak, dan parang yang sudah diasa sehingga sangat tajam, setelah perlengkapan perang disiapkan berangkatlah Kae Anu ke Rana Nekes. Bunyi gong dan gendang dari Rana Hebok mulai terdengar dan pasukan perang sudah bersiap siaga menunggu bunyi gong dan gendang dari Rana Nekes sementara itu pasukan Rana Nekes yang jumlahnya sangat sedikit itu menunggu Kae Anu dengan perasaan cemas dan takut kalau Kae Anu sendiri tidak datang. Ketika Kae Anu tiba di Rana Nekes semua mahluk halus Rana Nekes melompat kegirangan, Kae Anu menyuruh mereka berkumpul tetapi mahluk-mahluk tersebut sangat heran tatkala Kae Anu tidak membawa perlengkapan perang seperti mereka punya.)

Mahluk Halus              : Dimana perlengkapan perangmu tuan?

Kae Anu                      : Pokoknya kalian tenang saja. Tunggu dulu! Biasanya kalau berperang kaum mahluk harus menggunakan apa saja sebagai alat perangnya?

Mahluk Halus              : Tombak dan parang?

Kae Anu                      : Biar aku saja yang berperang melawan mereka dan kalian sendiri harus pergi menjauh dari tempat ini.

Mahluk Halus              : Tetapi tuan jumlah mereka sangat banyak dan peralatan perang mereka sangat banyak

Kae Anu                      : Tenanglah kita pasti menang. Segera bunyikan gong dan gendang serta menjauh dari sini.

(Ketika gong dan gendang di bunyikan serentak pasukan Rana Hebok melemparkan ikan dan belut kearahnya, kae Anu dengan mudah memotong-motong belut dan ikan yang mereka lempar dan mengumpulkan satu tumpukan yang besar setelah ikan dan belut mereka lempar habis mahluk halus Rana Nekes bersorak kegirangan karena mereka telah menang perang tanpa ada satupun diantara mereka yang mati. Sesuai kesepakatan maka Rana Hebok harus tunduk kepada Rana Nekes dan pada hari itu juga air dari Rana Hebok berpindah ke Rana Nekes dan menjadi sebuah danau yang sangat besar dan luas)

Kae Anu                      : Karena wilayah kalian sudah semakin luas dan besar maka saya menamakan kampung kalian itu Rana Mese

(Mereka semua sangat senang dan setuju dengan nama yang diberikan oleh Kae Anu kepada kampung mereka sehingga sampai sekarang danau tersebut sering dikenal dengan danau Rana Mese.)

Raja Rana Mese          : Kami tidak bisa membalas budi baik tuan. Akan tetapi ijinkan kami membantu tuan untuk membangun kampung tuan menjadi lebih luas seperti kerajaan kami sekarang ini.

(Kae Anu menyetujui tawaran dari raja Rana Mese, kemudian raja Rana Mese memerintahkan semua rakyatnya untuk pergi ke Teber dan membangun compang serta menyusun pagar mrnggunakan batu-batu dari Wae Laku dan Wae Leras. Pagar batu tersebut hamper selesai dalam temp satu malam, ketika anjing peliharaan Kae Anu datang dari kebun dan menyalak dan menggonggong para mahluk tersebut, karena takut dengan anjing para mahluk tersebut berlari kembali ke Rana Hebok. Sampai sekarang pagar dari batu serta compang yang di bangun dari mahluk halus tersebut masih ada dipelataran rumah gendang desa Compang Teber Manggarai Timur.)

 

  • view 44