Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Sejarah 13 Desember 2017   10:42 WIB
Judul Cerpen Rafiyati : RANA MESE

RANA MESE
By: 

Di kampung Teber Manggarai Timur hiduplah sepasang suami istri bernama Kae Anu dan Ngkiong Molas Liho mereka tingal dalam sebuah rumah yang di wariskan dari orang tua kae Anu. Rumah tersebut suda sangat tua dan banyak sekali tiang dan papanya yang suda lapuk termakan usia.

Kae Anu berkata kepada istrinya.

“Istriku…rumah ini suda tidak layak lagi untuk di huni alangkah lebih baik kalau kita membuat rumah yang baru lagi,” kata Kae Anu kepada istrinya

 “Tetapi membuat rumah itu sangat sulit dan membutukan waktu yang sangat lama suamiku,lebih baik kita tingal di pondok saja,  kamu bahkan tidak mempunyai keahlian dalam membuat rumah,”  kata istrinya.

“Kamu tenang saja meskipun saya tidak memiliki keahlian dalam membuat rumah tetapi saya berusaha mencobanya.”

 Kae Anu memutuskan untuk mencari pohon di jadikan balok di hutan,setelah menyiapkan bekal untuk seminggu.  berangkatlah Kae Anu ke sebuah hutan yang di dalamnya banyak sekali terdapat pohon pinis, sekarang hutan tersebut telah menjadi sebuah kampung yang bernama kampung pinis, di sana Kae  Anu mulai menebang kayu dan membuatnya menjadi balok,  udah beberapa hari Kae Anu di hutan dan baloknya semakin banyak. Ngkiong Molas Liho istrinya sangat cemas dan takut kalau Kae Anu di serang oleh binatang  buas di hutan semoga tidak terjadi apa –apa dengan suamiku doanya dalam hati.

Suatu siang Kae Anu sedang menebang pohon dia meliahat seekor munggis sejenis tikus hutan, berlari kearahnya dan bersembunyi di bawa ranting pohon yang suda di potongnya. Tidaklama setelah itu dia melihat lagi beberapa ekor musang datang dan mengendus-endus seolah-oalah sedang mencari sesuatu, namun Kae Anu tidak mempedulikanya dan terus menebang pohon tersebut dan seketika ada empat orang yang secara tiba-tiba datang berlari kearahnya, orang-orang itu sama sekali tidak di kenalinya.

“Maaf Tuan, apakah anda melihat ada motang[1] yang baru saja lewat di sini,”  Kae Anu geleng-gelengkan kepalanya.

“Tetapi Tuan lihatlah,  anjing-anjing kami mengendus-enndus di sekitar sini pasti motangnya juga berada di sekitar tempat ini.” Ketika mereka menyebut kata anjing dan menunjukan ke arah beberapa ekor musang tersebut, tersadarlah Kae Anu bahwa ternyata orang-orang yang berada di hadapanya bukanlah manusia seperti dirinya tetapi mereka adalah Darat atau mahluk halus, dan musang-musang itu adalah anjing-anjing mereka.  Kae Anu menjadi sangat takut

“Tuan saya tidak melihat babi hutan yang lewat di sini tetapi saya hanya melihat tikus kecil ini,”  kata Kae Anu sambil memunggut tikus yang bersembunyi di balik ranting -ranting  pohon,  lalau memukulnya dengan sebilah kayu.

Mahluk tersebut sangat terperanjat dan berteriak kegirangan,

 “Ya ampun Tuan, ini babi hutan yang kami cari-cari dari tadi kata mereka sambil sorak kegirangan, lihatlah betapa besarnya babi hutan ini,” Kae Anu semakin tercengang-cengang. Tikus kecil ini mereka angap babi hutan yang besar, “Benar-benar aneh,” gumanya dalam hati.

Kemudian keempat mahluk halus itu mengangkat tikus keci tersebut namun tiba-tiba mereka menurunya kembali,” Aduh babi hutan ini sangat berat padahal kita ini berempat tetapi kita tidak mampu mengangkatnya kata salah seorang dari mereka sambil tersengal –sengal.”

 Mereka berulangkali mencoba mengangkat tikus yang menurut mereka babi hutan yang besar itu, namun lagi-lagi di lepaskanya kembali. Kae Anu memandang mereka sambil terheran-heran di angkatnya tikus itu dengan satu tangan lalau menyodorkan kepada mereka. Keempat mahluk halus itu membebelalakan matanya ketika Kae Anu dengan entengnya mengangkat tikus kecil itu, mereka sangat tercengang-cengang.

“Ya ampun kuat benar tuan ini hanya dengan satu tangan dia bisa mengangkat babi hutan yang sangat besar ini, kata mereka” seakan –akan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, “Apakah tuan mempunyai ilmu gaib?” Tanya mereka kepada Kae Anu.

Kemudian Kae Anu meceritakan siapa dirinya yang sebenarnya kepada mereka dan apa tujuan dia datang ke hutan itu ,Keempat darat tersebut berbalik sangat takut, engah oleh Kae Anu.

“Tenanglah saya tida akan mencelakai kalian saya akan menolong kalian untuk membawakan babi hutan ini ke kampung kalian,” ujarnya kepada mereka.

Keempat mahluk halus itu pun menyetujui tawaran dari Kae Anu, “Terimakasi atas budi baik Tuan,” kata mereka dengan penuh hormat dan menujukan jalan menuju kampung yang mereka tingal.

“Tenanglah Tuan tidak jau dari sini ada jalan raya yang menuju kampung kami” kata mereka.

Ternyata jalan raya yang mereka maksud adalah sunggai sekarang di beri nama Air  Dingin, sesampainya di kampung mereka Kae Anu semakin tercengang-cengan ternyata kampung mereka adalah sebuah danau kecil yang bernama Rana Nekes,dan yang lebih anehnya lagi,rumah yang mereka tempati  sepotong helung atau sejenis bambu kecil yang menggapung diatas danau. Disana banyak sekali helung yang mengapung dan semuanya rumah para warga mahluk halus Rana Nekes.

Kempat mahluk halus mengajak Kae Anu menuju rumah gendang. Disana suda menunggu tua-tua adat serta segenap warga kampung dan mereka menyambut Kae Anu dengan senang hati dan Kae Anu menolak untuk masuk karena dia tau bahwa rumah tersebut akan tengelam apabila dia menginjaknya.

“Biar saya tunggu diluar karena saya takut rumah ini akan tenggelam apabila kaki saya menyentunya,” katanya kepada mereka.

“Ah Tuan ini aneh–aneh saja jangan begitu  , mari silakan masuk, rumah ini sangat kokoh,” kata ketua adat.

Meskipun Kae Anu hanya menyentu sedikit dengan ibu jari, bulu atau helung tersebut, rumah para mahluk halus tersebut bergoncang sehinga membuat para warga di dalamnya berteriak ketakutan.  Akhirnya mereka membiarkan Kae Anu duduk di luar,setelah berbincang- bincang cukup lama dengan ketua adat para mahluk halus tersebut, Kae Anu mengetahui bahwa di dalam rumah adat tersebut ada pertemuan para warga mereka berencana berperang dengan kampung tetangga yaitu Rana Hebok yang ingin menguasai wilayah mereka.

“Bantulah kami tuan saya tidak ingin warga kampung ini menjadi budak-budak dari Rana Hebok,” pinta ketua adat kepada kae Anu, “Tolong selamatkan kami tuan,”  kata Mahluk halus kepada Kae Anu.

 

“Baiklah saya akan ikut berperang melawan mereka,” kata Kae Anu. Hari menjelang sore kae Anu memohon pamit kepda para mahluk halus untuk kembali pulang ke rumahnya yaitu di Teber. Mereka memberikan Kae Anu daging tikus yang bagi mereka babi hutan namun di tolak oleh kae Anu, akirnya sebagai balas jasa mereka membawa balok –balok milik kae Anu ke Teber. Anehnya balok besar yang menurut kae Anu sangat berat, tetapi bagi mereka sangatlah ringan bahkan masing –masing dari mereka membawa sepuluh balok di bahunya.

Hari berganti hari dan tibalah saatnya bagi Kae Anu untuk ikut berperang melawan rana Hebok Kae Anu menyiapkan peralatan perang seperti nggiling atu  tameng,Tombak, dan parang yang sudah di asa sehinga sangat tajam, setelah perlengkapan perang di siapkan berangkatlah Kae Anu ke Rana Nekes. Bunyi Gong dan Gendang dari Rana Hebok mulai terdengar dan pasukan perang suda bersiap siaga menunggu bunyi Gong dan Gendang dari Rana Nekes sementara itu pasukan Rana Nekes yang jumlahnya sangat sedikit itu menunggu kae Anu dengan perasan cemas dan takut kalau kae Anu sendiri tidak datang.

Ketika Kae Anu tiba di Rana Nekes semua Mahluk halus Rana Nekes melompat kegirangan, Kae Anu menyuruh mereka berkumpul tetapi darat-darat tersebut sangat heran tatkalah Kae Anu tidak membawa perlengkapan perang seperti mereka punya.

“Di mana perlengkapn perangmu Tuan?” Tanya seorang dari mereka.

“Pokonya kalian tenag saja, kae Anu sendiri sangat heran karena mahluk halus tersebut tak satupun yang membawa parang,  Atau tombak tetapi di tangan mereka masing-masing mengengam belut dan ikan.

“Tunggu dulu! Biasanya kalau berperang, kaum darat mengunakan apa sebagai alat perangnya?” tanya kae Anu kepada mereka.

“Tombak dan parang,” jawab  mereka serempak sambil mengangkat belut dan ikan. Mendengar hal tersebut mengertilah Kae Anu, belut dan ikan bagi mahluk halus adalah tombak dan parang.Kemudian berkatalah Kae Anu kepada mereka.

“Biar aku saja yang berperang melawan mereka dan kalian sendiri harus pergi menjauh dari tempat ini,”

“Tetapi Tuan jumlah mereka sangat banyak dan peralatan perang mereka sangat banyak kata mereka.”

“Tenanglah kita pasti menang kata Kae Anu, segera bunyikan gong dan gendang serta menjauh dari sini,”

 ketika gong dan gendang di bunyikan serentak pasukan Rana Hebok melemparkan belut dan ikan ke arahnya, Kae Anu dengan mudah  memotong –motong belut dan ikan yang mereka lempar dan mengumpulkan satu tumpukan besar, setelah ikan dan belut yang mereka lempar habis makhluk halus Rana Nekes bersorak kegirangan karena mereka telah menang perang tanpa ada satupun di antara mereka yang mati. Sesuai kesepakatan maka Rana Hebok harus tunduk kepada Rana Nekes dan pada hari itu juga air dari Rana Hebok berpindah ke Rana Nekes dan menjadi sebuah danau yang sangat besar dan luas.

“Karena wilayah kalian suda semakin luas dan besar maka saya menamakan kampung kalian itu ‘Rana Mese’ kata Kae Anu kepada mereka,”

mereka semua sangat senang dan setuju dengan nama yang di berikan oleh Kae Anu kepada kampung mereka sehinga sampai sekarang danau tersebut sering di kenal dengan danau Rana Mese.

“Kami tidak bisa membalas budi baik Tuan,” kata Raja Rana Mese kepada Kae Anu. Akan tetapi ijinkan kami membantu tuan untuk membangun kampung tuan menjadi lebih luas seperti kerajan kami sekarang ini.

Kae Anu menyetujui tawaran dari raja Rana Mese, kemudian raja Rana Mese memerintahkan semua rakiyatnya untuk pergi ke Teber dan membangun compang serta menyusun pagar mengunakan batu-batu dari Wae Laku dan Wae Leras.Pagar batu tersebut hampir selesai di buat dalam tempo satu malam. Ketika anjing peliharaan Kae Anu datang dari kebun dan menyalak serta menggongong para mahluk halus tersebut, karena takut dengan anjing, para mahluk halus tersebut berlari kembali ke Rana Hebok. sampai sekarang pagar dari batu serta Compang yang di bangun dari mahluk halus  tersebut masih ada di pelataran rumah gendang Desa Compang Teber Manggarai Timur.

 

[1] Motang: babi hutan

Karya : rafiyati ibrahim