maaf! dari si tolol ini

Rafi Mohamad
Karya Rafi Mohamad Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Maret 2016
maaf! dari si tolol ini

Ketika umurku beranjak dewasa, kurasakan ada yang berbeda dalam diri ini. Sekarang aku tak begitu tertarik dengan dunia yang padahal dulu selalu aku eluh-eluhkan. Dunia yang penuh gemerlap, dunia yang penuh kesempurnaan, dunia yang penuh keceriaan, dunia yang penuh aku ada karena suplai dari orangtua.

Ya, aku beranjak untuk memulai usaha sendiri, tak tahu apa yang akan aku usahakan, tetapi aku selalu bermimpi akan usahaku itu. Tak tahu kelak menjadi apa, tapi selalu berusaha untuk menjadi apa-apa yang terbaik.

Mungkin sekarang aku berada dalam dunia kebingungan, dimana semua hal yang aku peroleh secara Cuma-Cuma, telah kursaakan sia-sia. Aku hanya menikmati hidup dari keringat orang lain. Aku bersenang-senang diatas keringat orang lain. Ya, orang itu adalah kedua orangtuaku.

Mereka senantiasa menginfuskan uang untukku pakai dan habiskan di tempat yang jauh. Mereka mengirimkannya melalui bank. Mereka tak tahu apa yang kulakukan dengan uang mereka, dan kadang aku berusaha menipu mereka jika memiliki keinginan yang begitu sangat.

Entah dari mana ilmu itu datang, tetapi tipu muslihatku selalu berhasil untuk mengelabui mereka agar memberikan uang lebih kepadaku. Semakin berhasil tipu muslihatku, semakin gembira hati ini. Ah, dasar anak tak tahu diuntung!

Aku mulai tersadar kebejatanku ketika melihat temanku yang begitu asyik dengan pekerjaannya. Ia seperti tak pernah lelah bekerja walaupun dibelenggu dengan tugas kuliah. Lantas aku berusaha memasuki dunianya. Ku cuba melamar perkerjaan, awalnya aku hanya berpikir untuk menambah hasrat nafsuku semata, untuk memuaskan keinginanku yang segudang. Ya, tepat sekali setelah bekerja dan mendapatkan uang, lantas aku belikan sesuatu yang kuinginkan. Terus seperti itu, sampai akirnya aku sadar, bahwa keinginan tak akan pernah ada habisnya. Jika sudah terpenuhi keinginan yang satu, maka akan muncul keinginan yang kedua, tiga, empat dan seterusnya.

Semakin banyak keinginan itu muncul, semakin tak bisa aku memenuhinya. Dan semakin aku merasa putus asa, untuk mengejarnya. Namun dalam keputus asaan tersebut, kembali terlintas dipikiranku, bagaimana bisa temanku tetap konsisten dengan perkerjaanya bahkan tanpa menggannggu perkuliahannya.

Aku semakin marah! Kenapa dia sangat bodoh, kenapa dia tak meminta uang saja pada orang tuanya. Toh itu tugas mereka untuk menafkashi dia sebagai anak!

Karena kemarahanku tak terbendung lagi, akupun menanyakan kepadnya, ?hey kau, kenapa kau bekerja untuk memenuhi hidupmu? Kenapa tak minta saja kepada orangtuamu, sangat berat sekali kuliah sambil bekerja.?

Dia malah tersenyum kepadaku. Ah makin jengkel saja rasanya, dia memiliki orang tua macam apa, membiarkan anaknya bersusah payah mencari uang sendiri demi kehidupannya. ?Apanya yang lucu? Kau tak jawab pertanyaanku!? Imbuhku bernada keras.

Lalu temanku menjawab, ?aku tak mau menyusahkan orangtuaku, dia sudah bersusah payah membesarkanku, menghidupiku, memberiku pendidikan. Sekarang diusiaku yang beranjak dewasa ini aku malu tuk meminta-minta lagi dihadapan mereka. Memang ini berat bagiku, tapi dulu waktu mengawalinya. Sekarang aku sudah terbiasa dengan hal semacam ini. Dan aku menikmati kehidupan ini. Serta aku melakukan atas dasar kesadaranku sendiri sebagai anak yang banyak berutang pada orangtua.?

Mendengar perkataan dari temanku aku terdiam, dan semakin marah. Tetapi bukan kepada dia, melainkan kepada diriku sendiri. Aku marah kepada ketololanku yang menyia-nyiakan pengorbanan orangtuaku. Ah... ingin rasanya menjerit sekuat-kuatnya. Lantas ku tinggalkan dia tanpa kuucap sepatah katapun melainkan dengan air mata.