Diantara

Rafi Mohamad
Karya Rafi Mohamad Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 September 2016
Diantara

Ketika seseorang sedang berusaha untuk memantapkan tambatan hati, pasti akan banyak jalan yang akan menyesatkan, maksudnya pasti akan banyak rintangan untuk menuju hal yang diinginkan.

Sama seperti seorang dihadapannya ada dua nasi kotak yang dibeli dari warung yang sama dan isinya sama, namun dihantarkan oleh dua orang yang berbeda, dihantar oleh dua wanita cantik, yang sama-sama tersenyum saat akan memberikan dan menunggu untuk dimakan. Bagi manusia normal makan sekaligus kedua nasi kotak tersebut tidak akan habis, jika kita mengukur dari manusia pada umumnya. Yang mana kedua wanita cantik tersebut sama-sama berharap nasi yang mereka bawa yang akan dimakan. Jika kita mengukiur dari manusia pada umumnya pasti hanya sanggup untuk memakan salah satu dari nasi kotak yang diberikan kepadanya. Jika seperti itu, berarti lelaki yang menerima nasi kotak tersebut telah mengecewakan salah satu dari wanita cantik pemberi nasi kotak tersebut.

Lalu, sama halnya dengan seorang lelaki yang memiliki dua perhatian dari dua wanita yang berbeda. Ketika lelaki ini memeberikan perhatian yang sama kepada setiap wanita, belum tentu wanita tersebut akan membalas perhatian dengan frekuensi yang sama, mungkin ada salah satu yang lebih, dalam mengumpan balik perhatian yang mereka terima. Namun yang jadi masalah bukan umpan balik yang lebih besar yang menjadi pilihan seorang pria tersebut. Dia tidak berpikir siapa yang lebih besar dalam hal perhatian dengan dirinya, asalkan keduanya sama-sama merespon perhatian dari lelaki tersebut, itu sudah dianggap cukup, sudah dianggap sama frekuensinya. Karena lelaki tersebut menggunakan hatinya untuk melihat, menggunakan rasanya untuk menilai, menggunakan pikirannya untuk meraba.

Benar saja, akhirnya lelaki tersebut harus memustukan untuk memilih salah satu dari wanita tersebut, dan ia memilih wanita yang intensitas perhatiannya tidak lebih besar dari salah satu wanita pemberi harapan. Ada perasaan kecewa dalam hatinya ketika memutuskan untuk memilih salah satu dari dua wanita tersebut, dalam hatinya ia berkata,

“Jika dusuruh memilih, aku benar-benar tidak tahu siapa yang harus dipilih

Jika memang harus memilih, aku masih benar-benar tidak tahu siapa yang harus dipilih

Dan jika benar-benar diharuskan untuk memilih, aku akan memilih keduanya

Bukan karena aku bingung

Bukan karena aku takut

Bukan juga karena aku tak berpendirian

Karena aku tak mampu untuk memisahkan anak itik dari induknya”

  • view 152