Percaya

Rafi Mohamad
Karya Rafi Mohamad Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Mei 2016
Percaya

Sejak manusia fasih berbicara

Sejak itu pula manusia mengingkan segalanya

Selalu ada kepentingan dalam hubungan

Dunia ini memang penuh dengan misteri.

-Ibnu Khaldun-

Mentari makin meniggi. Teriknya kian memanggang hamparan tanah yang bertahun-tahun tandus, gersang dan kerontang. Seperti kemarau yang sangat merindukan guyuran hujan, agar indah nan sejuk dipandang mata. Dedaun pohon yang rindang hijau-ranau berevolusi menguning berangsur-angsur menggundul, rerantingpun permisi gugur berjatuh digusur angin yang berhembus, dan sengatan matahari yang mengganas telah menyempurnakan kerontokan. Panas siang itu membuatnya menggeliat-menggeliat di depan pagar rumah hingga benar-benar tidak berdaya keadaannya, tak punya kekuatan bertahan dari panas teriknya matahari. Lambat laun cacing itu tergeletak lemas.

Kadang aku berpikiran apakah keberadaanku seperti itu. yang tak berdaya karena dicap sebagai rakyat biasa yang tak punya kekuatan untuk melawan siklus hidup yang serba munafik ini. Apakah seperti ini yang Tuhan inginkan dari orang sepertiku. Tidak, pasti tak demikian. Namun, keadaan ini yang mendorong untuk berprasangka kepadanya.

Kenapa mereka yang kaya semakin kaya, yang miskin masih dengan kemiskinannya dan yang biasa-biasa saja tetap tak mampu keluar dari kungkumannya. Aku ingat pada waktu dulu masih di sekolah dasar, guruku selalu berkata bahwa semua manusia adalah sama dihadapan Tuhan. Sang maha adil, maha mencipta, maha mengetahui dan segala sifat yang dimilikiNya. Namun anehnya ciptaanMu tak bersifat seperti yang kau tunjukan, apa karena kita hanya ciptaan jadi tak bisa menyamai sifatmu. Aku rasa tak begitu.

Lalu kenapa ciptaanMu memetak-metak tingkat kedudukan sosial berdasakan hartanya, tahtanya, bahkan “wanita”nya. Sungguh kesombogan yang memuakkan! Mereka sendiri tak sadar bahwa yang mereka lakukan adalah kesalahan. Hanya karena kebiasaan turun temurun yang dilakukan kaum berkuasa, yang merasa memiliki hak atas dirinya dan orang lain yang tak berdaya. Atau yang dilakukan kaum berharta yang dipikirnya semua hal bisa berjalan dengan kehendaknya, asalkan ada uang sebagai penenang. Atau bahkan yang dilakukan orang-orang miskin yang tak tahu diri, para penjilat kaki si tuan harta dan tuan kuasa, untuk kepentingan dirinya sendiri.

Atau mungkin kita, orang-orang yang tahu namun memilih tak mau tahu dengan keadaan ini. Karena tak ada guna mempermasalahkan itu. lebih baik berpikir untuk bekerja, bekerja, bekerja agar menjadi orang kaya. Supaya kelak bisa membeli apa saja yang diinginkan. Iya apa saja, karena uang telah dianggap segalanya.

Sedangkan para rakyat jelata dicekoki dengan perayaan-perayaan yang sebenarnya adalah kedok bagi kaum ber-ada untuk menegaskan bahwa kalian tak pantas setara dengan aku yang mampu mengadakan acara paling megah. Sedangkan kalian hanya bisa menonton dan menikmati saja persediaan jamuan yang ditawarkan oleh si tuan kaya. Hmmm semuanya lupa. Lupa akan siapa dirinya, darimana mereka berada dan kemana setelah tiada.

Pastilah semua orang tak berprilaku demikian. Ada orang kaya yang dermawan. Ada penguasa yang amanah dang bertanggung jawab. Ada orang yang benar-banar miskin sehingga layak mendapatkan bantuan. Ada juga orang yang biasa-biasa saja namun memiliki gagasan-gagasan ide untuk mensejahterakan negri. Dan kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa berubah-ubah. Atau dengan kita mendekatkan diri kepada tuhan yang maha esa, senantiasa akan dijaga olehNya kebaikan dan diri kita menjaga agar tak melakukan hal-hal kebatilan.

Sebenarnya apalah maksud dari tulisan yang membingungkan ini. Namun hal yang ingin disampaikan saya (penulis) adalah menumbuhkan sikap saling menghargai antar manusia, antar agama, antar ras, antar ideologi dan apa saja yang menyangkut kesalaran hidup sejahtera.

Mungkin kalian akan mengatakan tak akan mungkin bisa terwujud hal semacam itu di negri ini, atau di muka bumi ini. Jika kita percaya akan tuhan kita, pastilah kita percaya atas firmanNya yang berbunyi, “kun fayakun”. Yang artinya “jadilah! Maka jadilah sesuatu itu”. (QS : Yasin: 82)

  • view 140