Ijinkan Aku Memulainya Dengan Cinta

Caesar Radisyah
Karya Caesar Radisyah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 02 September 2016
Ijinkan Aku Memulainya Dengan Cinta

Ijinkan, Aku Memulainya Dengan Cinta

 

Dadaku bergemuruh ketika aku mulai merangkai setiap kata dalam tulisanku ini. Itu semua karena aku ber-azzam pada diriku untuk memulai lembar demi lembar yang akan ku tuliskan nanti dengan sebuah cinta. Ya, “CINTA”. Maka ijinkan aku memulainya dengan cinta.

Namun ini bukan cinta antara dua sejoli yang sedang mabuk kepayang. Atau cinta antara sepasang insan yang telah dihalalkan dalam sebuah hubungan. Namun ini cinta antara aku dengannya, wanita pertama yang ku cintai dalam hidupku. Dia telah curahkan seluruh cintanya kepadaku sehingga cinta itulah yang membentuk diriku seperti sekarang ini.

Kenalkan, aku Radis. Mereka menyebut diriku sebagai “Pemimpin Pandawa” karena memang aku anak pertama dari lima bersaudara (yang semuanya adalah laki – laki). Semenjak 2012, aku memperkenalkan diriku sebagai Radis. Aku sengaja menambahkan huruf R di depan nama keciku untuk mengenangnya. Pernah suatu ketika, beberapa tahun menjelang kepergiannya, aku bertanya padanya apa arti namaku Dia menjawab, “Nama itu pemberian Mama dan Papa. Nama itu adalah gabungan dari nama Mama dan Papa. Tidak ada arti khusus karena itu adalah namamu, nama panggilanmu. Namun, saat kamu rangkai namamu menjadi satu, itu adalah sebuah doa yang Mama panjatkan untukmu. Mama ingin kamu menjadi seorang Raja yang bercahaya. Raja Radis yang bercahaya.”

Bila mengingat saat Mama mengucapkan itu dan ketika melihat cahaya matanya yang mengisyaratkan tentang keyakinan pada setiap doa yang dia panjatkan itu, hati ini bercampur aduk. Bahagia, semangat yang dibumbui dengan rindu dan kesedihan. Bahagia dan semangat karena aku yakin doanya tidak akan tertolak. Doanya akan selalu diijabah oleh Allah. Rindu sekaligus sedih karena mata itu tidak bisa aku lihat lagi. Dia sudah pergi menyisakan sebuah cinta di dunia ini untuk cinta yang lebih besar dari sekedar cintaku kepadanya. Dia menyambut panggilan cinta yang lebih besar yaitu cinta Rabbnya kepadanya.

Yang tersisa saat ini adalah cintanya yang tertinggal dan masih membekas di dalam hatiku. Dan cinta itulah yang akan mewarnai lembar – lembar tulisanku dalam bilik ini. Mari kita mulai!

Mama mengajarkan aku banyak hal. Pernah suatu ketika Mama berjualan es blewah dan es campur di depan rumah. Kebetulan tidak jauh dari situ ada sebuah kantor rokok dan juga sekolah. Ketika berjualan, Mama tidak asal berjualan. Aku tahu betul itu karena akulah asisten Mama saat itu. Mama selalu menyajikan segala sesuatunya dengan baik. Menjaga kebersihannya, memilih kualitas bahan yang terbaik. Bahkan hingga proses mencuci mangkuk dan gelas bekas es pun juga Mama perhatikan.

Dulu aku sempat bertanya padanya, “Ma, kenapa model jualan Mama seperti ini, gak kayak penjual lainnya. Kenapa bahan – bahan yang dipilih bagus. Memangnya Mama gak rugi?”

Aku pun kaget dengan jawaban Mama saat itu. “Kamu liat anak – anak sekolah itu? Mama kasihan sama mereka. Makanan dan minuman mereka gak terjamin. Daripada mereka jajan sembarangan, mending mereka jajan di sini. Dan kamu tahu le, Mama melakukan ini untuk anak – anak Mama kelak.”

Aku semakin bingung, apa hubungannya dengan kami? Dari segi bisnisnya? Atau bagaimana?

Sepertinya Mama melihat kebingunganku kala itu. Mama lalu melanjutkan, “Mama tau, anak – anak Mama kelak akan merantau. Dan bisa jadi di rantau sana gak ada yang memperhatikan. Nah, saat ini Mama memperhatikan anak – anaknya orang. Mama memperhatikan makan dan minum mereka. Meskipun mereka beli dari Mama. Tapi, Mama yakin, apa yang Mama lakukan sekarang ini akan dibalas kelak. Sehingga di rantau sana nanti, anak – anak Mama akan ada yang memperhatikan makan dan minumnya. Itu yang Mama harapkan.”

Mendengar itu semua aku menjadi bangga dengan Mamaku. Perlu diketahui, saat itu posisi kami sekeluarga sangat sulit. Untuk makan saja susah. Saat itu Papa baru resign dari pekerjaannya karena ia teguh pada pendiriannya. Papa bekerja sebagai supervisor sales di sebuah perusahaan makanan dan minuman yang juga berjualan minuman beralkohol. Papa ditarget untuk menjual minuman tersebut namun Papa menolak karena Rabbnya melarangnya. Ketika itu, Papa disuruh memilih agamanya atau pekerjaannya. Papa lebih memilih agamanya dan keluar dari tempat itu saat itu juga. Suatu saat akan aku ceritakan lebih lanjut kisah Papaku ini.

Meskipun kehidupan kami sulit, namun aku bangga kepada keduanya. Karena cinta keduanya baik pada anak – anaknya maupun agama yang dianutnya inilah yang bisa diambil pelajaran.

Dunia ini boleh memberikan begitu banyak kemerlap. Dunia ini boleh menampilkan banyak fatamorgana. Namun, hati yang mengenal Rabbnya itu, akan bisa membedakan mana cahaya yang sebenarnya dan mana mata air yang hakiki.

Aku begitu mencintai Mamaku. Mungkin Allah cemburu karena aku mencintai makhluknya. Pada 17 Januari 2012, Allah memanggilnya pulang. Ini adalah ujian terberar dalam hidupku. Selama 22 tahun hidupku, baru saat itulah aku merasa hampir kehilangan arah. Orang yang selama ini menjadi penyeimbang dalam kehidupan kami, pergi begitu mendadak. Itulah ketetapan Allah. Hati ini boleh saja sedih bahkan sampai tulisan ini aku buat, air mata itu masih menetes bahkan kesedihan ini mungkin tidak akan pernah hilang. Bagaimana tidak, 22 tahun mencintainya, 22 tahun hidup bersamanya dan 22 tahun itu bukan waktu yang singkat. Namun, biarkan kesedihan ini mewarnai anganku kala aku mengingatnya. Yang terpenting adalah aku tidak meluapkannya dengan mengutuk Tuhanku. Aku tidak meluapkannya dengan berlarut – larut menyesali waktu yang terbuang kala aku tidak bersamanya.

Untukmu yang membaca tulisan ini. Saat kau masih bisa melihat kedua orang tuamu, maka puas – puaskanlah melihatnya. Saat kau masih bisa memeluknya, menciumnya, makan bersama, berfoto bersamanya, puas – puaskanlah. Karena kenangan itu yang akan menjadi salah satu yang tersisa kala dia memenuhi panggilan Tuhannya. Semoga tulisan ini benar – benar memberikan cinta kepadamu serta mengubahmu menjadi lebih cinta pada mereka, kedua orang tuamu.

 “Ijinkan aku memulainya dengan cinta” (rds)

  • view 352