Penasaran dan Ingin Memeluknya

Radinal Ridwan
Karya Radinal Ridwan Kategori Renungan
dipublikasikan 08 Juni 2017
Penasaran dan Ingin Memeluknya

 

 

Terkadang aku terpikir tentang kekasih-Nya, penasaran yang terkumpul menjadi satu, ingin rasanya melihat dengan mata kepala sendiri, ingin rasanya mengundangnya ke rumah dan menikmati kare ayam buatan mama yang terenak. Terkadang rindu menyergap setiap tahiyat akhir pada sesosok, seseorang yang menjadi kekasih-Nya.

Bagaimana mungkin seseorang yang diakhir hayatnya, tidak mengkhawatirkan dirinya, tetapi mengingat orang lain, bukan cuma seseorang, tapi jumlah yang sangat banyak. Dialah kekasih-Nya, yang diakhir nafasnya, yang terdengar ialah suara yang melemah, "umatku" "umatku" "umatku" katanya pelan.

Bagaimana mungkin ketika manusia dibangkitkan dari kuburnya, semua manusia sibuk mengurusi dirinya sampai selesai dihisab, saat seseorang melupakan kekasih dan keluarganya, padahal mereka ada disampingnya, bahkan ada yang ditarik malaikat penyiksa, mereka tidak saling peduli, tetapi ada satu sosok, sibuknya luar biasa cuma satu orang, mondar-mandir, mondar-mandir memanggil kerumunan orang, seolah-olah kekasih yang lama tidak berjumpa, bahagia banget, dan berkata pada tiap orang "kau umatku?" , dan setelah semua umatnya terkumpul, bersujud lah iya sambil menangis, sangat lama, ya Rabbi, ya Rabbi dan menagih janji-Nya untuk memberi minum umatnya dari telaga Al-Kautsar, yang konon setelah diminum maka kita tidak akan haus selamanya, orang itu ada, dialah kekasih-Nya.

Bagaimana mungkin ketika Syurga Firdaus ditampakkan didepan matanya. Sosok itu tidak tersenyum, malah menoleh ke belakang padang mahsyar menyaksikan sosok manusia, mengkhawatirkan umatnya, saat dikatakan padanya, "inilah Surga firdaus untukmu kekasih-Nya", dan dijawab "dimana umatku ya Rabb ?", ada di padang mahsyar jawab-Nya, dia berlari lagi keluar dari Surga-Nya, untuk mencari umatnya, Padahal beliau bisa menikmati Surga-Nya, tetapi beliau dengan tenang menunggu kita semua di depan surga-Nya, bagaimana bisa ?, dengan khawatir ia bersujud sambil menangis lagi dengan waktu yang sangat lama, sampai diijinkan oleh-Nya menunggu depan jembatan Siratal Mustaqim, beliau sambil berdoa ditengah-tengah keributan umat manusia, Allahumma Sallim, Allahumma Sallim, Ya Allah selamatkanlah- selamatkanlah, ada yang menyeberang dengan cepat, sesuai amal, tetapi ada juga yang jatuh. Karena mengetahui ada yang jatuh, dan ada yang masuk ke dalam neraka, maka beliau bersujud lagi dalam waktu yang lama sambil menangis, sampai dikabulkan permohonannya menyelamatkan umat-Nya dari neraka yang ada imannya sekecil biji kurma, maka berlari lah lagi ke pada malaikat yang ada di neraka untuk ijin mengeluarkan mereka yang ada di neraka dan mempunyai iman sekecil biji kurma, setelah itu beliau bersujud lagi dalam waktu yang lama, sampai diijinkan mengeluarkan umatnya yang ada imannya sekecil biji jagung, maka berlari lah lagi ke pada malaikat yang ada di neraka untuk ijin mengeluarkan mereka yang ada di neraka dan mempunyai iman sekecil biji jagung, setelah itu beliau bersujud lagi dalam waktu yang lama sambil menangis, sampai diijinkan mengeluarkan umatnya di dalam neraka, yang dalam hidupnya imannya hanyalah mengucapkan Lailaha Illallah maka berlari lah lagi ke pada malaikat yang ada di neraka untuk ijin mengeluarkan mereka yang ada di neraka yang imannya hanyalah mengucapkan Lailaha Illallah , tubuh mereka semua hancur, karena dicuci dosanya di neraka, beliau menangis karena kasihan melihat mereka, dan dipeluknya satu persatu dan mengatakan masuklah ke dalam surga-Nya.

Adakah Orang tua kita seperti itu, keluarga kita ?

Kekasih kita ?

Sahabat kita ?

Entahlah rindu ini sudah terlalu membuncah, karena penasaran untuk melihat sosoknya, dan ingin memeluknya erat, sangat erat, Ya Rasul salam Alaika, Ya Habib salam Alaika.

Salam dari Umatmu,

Radinal Ridwan

Inspiring : Watching Video Ustad Tengku Hanan Attaki

  • view 98