Istri dari Masa Depan

Radinal Ridwan
Karya Radinal Ridwan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 April 2017
Istri dari Masa Depan

 

Saat itu Firdaus dan Chaerul tiba-tiba berada di depan rumah memanggilku dengan nada terburu-buru entah apa yang direncanakannya gumamku dalam hati. Firdaus berperawakan tinggi dan coklat, aktif berorganisasi pramuka saat SMA dulu, sedangkan Chaerul adalah sahabat saudara sekampung dan sebangku saat kelas 2 SMA dulu, sangat jago bela diri dan olahraga, kami sangat rajin berkumpul dulu kalau bukan di rumahku, rumah Firdaus atau yah di rumah Chaerul.

“Din Ayo ke rumahnya Cia deh” katanya.

“hmm sembarangji saya” jawabku sekenanya.

Chaerul hanya tersenyum kacci disampingku, maka kami bertiga memutuskan ke rumah teman kelas kami, itu adalah rumah teman cewek pertama yang kudatangi. Entahlah, mungkin karena tidak ada kerjaan jadi kuberlari kecil ke kamarku di lantai dua dan mengambil kunci motor.

“ma, pergima Assalamualaikum” pamitku saat membuka pintu rumah.

Saat itu saya masih belum pernah memikirkan lawan jenis, saya lebih tertarik mengisi hari-hariku dengan list game yang belum kutammati di Playstation, atau menonton film kartun di Minggu hari dari Pagi sampai siang. Seperti itulah saya mengisi hari-hariku yang berharga, sangat sederhana dan simple. Kami mulai melewati Jalan Pettarani menuju depan sekolah kami dan masuk menelusuri jalan dan lorong depan sekolah. Sebelum tiba di rumahnya kami membeli sebungkus gorengan, pisang moleng dan tahu isi merupakan pilihan tepat untuk menghangatkan perut.

Aku masih mengingatnya dengan jelas saat itu sampai saat ini, saat tiba di depan rumahnya, saat Firdaus memanggilnya untuk keluar, siluet wajah riang itu, senyumnya, dan ketawanya yang khas, entah kenapa saat itu tiba-tiba perasaan itu muncul, padahal saat itu kami sekelas tapi saya tidak pernah merasakan perasaan saat itu biasa-biasa saja jawabku dalam hati. Mungkin karena sibuk dan aktif berorganisasi di Palang Merah Remaja (PMR) jadi saya tidak akrab dan hapal dengan semua teman sekelas. Kelas hanya sarana untuk datang di pagi hari untuk belajar, siang hari dan sepulang sekolah aktif berorganisasi saya tidak bisa membenarkan rasa saat itu, terlalu singkat, terlalu kaku, terlalu aneh, karena saya pendiam saat itu saya hanya bisa menatap wajah mereka bertiga berbincang. Kata pertama yang keluar saat itu adalah.

“permisi dimana WCta?” saking kakunya jadi kebelet ke WC.

“eh ? “ ada di dalam masukki” jawabnya

Sedikit ku menatap wajahnya, mungkin diri ini paling tidak bisa menatap wajah wanita yang aku suka lebih dari 1 detik, sekilas saja sudah cukup membuatku malu, tapi dalam satu detik yang berharga itu ku sudah tersenyum dalam hati setidaknya berani mendongakkan wajah dan menatap matanya sudah lebih dari cukup pikirku merasa menang.

Saat mau pulang dan pamit tiba-tiba Firdaus mulai berkata sesuatu padaku, karena dibonceng saya hanya mendongakkan kepala kepadanya.

“Din bilangko mimpi indah nah kalau di gas mi motorka” tiba-tiba secara ajaib dan seperti tersihir saya hanya bisa mengangguk dan mengiyakan perkataannya.

“Cia, hmm mimpi indah nah” kataku kecut datar dan berusaha senyum tapi tidak bisa saat diatas motor.

“eh?” jawabnya merasa aneh

Firdaus dan Chaerul tertawa bersama, dan mulai cabut dari rumahnya malam itu, ku hanya tersenyum menatap langit malam entah kenapa bulan juga seperti ikut tertawa bersama Firdaus dan Chaerul. Beberapa hari sebelum hari naas itu Firdaus mengajakku ke tempat duduk paling belakang di kelas padahal saat itu guru di kelas kami sementara menjelaskan pelajaran.

“din, nulihat itu cewek duduk paling depan meja paling kanan” Firdaus memulai percakapan

“apa sih ? yang mana ?” jawabku sekenanya sambil mencuri pandang melihat Guru menjelaskan

itue, namanya cia” katanya, ku mulai melirik, biasa saja gumamku

“memang kenapa ? naksirko kah ?” kataku tersenyum jahil padanya

liatki nah sebentar itu balek kesini nalihatki” jawabnya tanpa mempedulikan pertanyaanku

Karena tidak terjadi apa-apa ku mulai memperhatikan Guru kembali menjelaskan, tidak ada perasaan apa-apa, tidak ada sesuatu yang special saat itu. Mungkin ini alasan kenapa Firdaus mengajakku ke rumah cia malam itu. Hanya untuk keisengan belaka pembenaranku dalam hati.

Seperti biasa ku memulai pagi hari, melangkahkan kaki menuju sekolah dengan menggunakan sarana angkutan Pete-Pete mobil berwarna merah plat kuning jurusan J 07 bertuliskan Unhas. Perasaan semalam telah hilang, mobil mulai bergerak dari jalan Pettarani menuju ke depan kantor Telkom Pettarani

“kiri pak’ kataku mulai turun dan memberikan kertas seribu rupiah, gerbang sekolah mulai terlihat. Aku melihat Pak Ridwan saat itu, senyumnya khas, wajah rentanya yang mulai menua kadang terlihat di sekolah, kadang aku berpikir beliau itu siapa ? petugas kebersihan atau penjaga sekolah? Beliau sering terlihat sampai malam hari di sekolah. Kadang aku sering mendengar cerita, kabar angin di sekolah dari anggota PMR dan Pramuka kalau beliau menjaga sekolah saat malam hari, terkadang beliau berkeliling mengetuk semua pintu kelas seperti memanggil semua penghuni kelas, kemudian menuju gerbang sekolah sebelah timur, membakar api unggun dan menaruh kursi di depannya sembari bercengkrama dengannya, itu terlihat ganjil di mata kami, beliau bercengkrama dengan siapa ? masih teka-teki hingga saat ini.

Aku masih melangkahkan kaki, menuju ke lantai dua, ke kelas 2 IPA 2, setiba di kelas seperti biasa belajar, kerja tugas, istirahat, dan main ke organisasi PMR sepulang sekolah. Setelah kejadian malam itu aku terkadang memberanikan diri melirik ke arah meja dimana dia duduk. Tapi seperti biasa tidak terjadi apa-apa, hanya perasaanku saja bercampur aduk dan aneh.

***

Februari, bulan paling membahagiakan bagi anak sekolah pada umumnya, kenapa ? mungkin karena saat itu muda dan mudi menunggu moment Valentine. Tapi saat itu saya hanya bengong menatap langit dari lantai tiga sekolah, melihat siswa berlarian di lapangan olahraga dari jauh, mereka terlihat kecil seperti semut, ku melihat PMR dari kejauhan sambil memicingkan mata, mencari organisatoris aktif PMR, Ilham dan Aziz menyenangkan berdiskusi dan bercerita bersama mereka berdua tetapi saat itu mereka tidak Nampak kesana, kadang juga hanya memejamkan mata sejenak, menikmati angin dari arah utara sekolah.

belikanga roti ama susu nah!” teriak Ismail tak jauh disampingku

Kebiasaan teman kelasku memang seperti ini ketika malas keluar dari kelas saat istirahat, biasanya mereka bermain bola, bulutangkis kertas, dan catur dam jika seperti ini, karena malas diperhatikan kalau ikut bermain, ku mulai mengintip ke dalam kelas memutar bola mata mencari sosok Iqah atau Ifah teman untuk bercerita tentang kartun di hari minggu, Iqah sosok yang unik dan berkacamata sedangkan Ifah sosok kalem dan tegas, kadang kami betiga mendiskusikan kenapa doraemon tempat bermainnya di gunung saat istirahat ? kan jauh dari sekolah, kadang juga kami protes kepada bagian penyiaran televisi karena memotong penyiaran kartun hanya untuk menampilkan sinetron tak bermutu, atau menebak bagaimana ending film kartun Inuyasha dan Samurai-X.

Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi, kami berhamburan, senyum sumrigah keluar dari kelas, tapi izzah menahanku, ada apa gerangan ? dia melihat harap cover binder bergambar Sai dari tokon Naruto Shippuden, itu adalah pemberian teman bermain, tetanggaku di kompleks IDI.

“Din, mintama ini cover bindermu nah ?” tanyanya penuh harap

“hmm itu ..” suasana jadi aneh mungkin karena tidak enak menolak permintaan seorang wanita, wanita ini memang aneh gumamku karena sangat gampang meminta.

“saya juga mau bagus kuliat” , tetiba Cia muncul dari samping karena penasaran.

“yang mana kamu pilih Din ? kau kasihka atau kasih Cia ?” Izzah mulai menyerang, argh ini pertanyaan lebih sulit daripada menjawab soal MID test, Ujian matematika oleh Pak Dedi. Suasana malah menjadi kacau, otakku berpikir keras bagaimana cara keluar dari persoalan minta dan meminta sesuatu ini, tidak enak menolak, tapi tidak enak juga memihak ke salah satunya. Akhirnya kutemukan jawaban pasrah ini, jalan tengah dari sum-sum dan cerebro di otakku.

“hmm maaf tapi cover itu tidak untuk diberikan ke orang lain hehe” ku berusaha senyum menghibur mereka berdua. Mereka hanya berkata “yah sudahlah” kemudian pergi, yah hanya jawaban itu tapi bagiku seperti lolos dari raja terakhir sebuah game. Setidaknya saya bisa mengambil hipotesis sementara, Cia menyukai kartun Naruto! Bisikku dalam hati sambil berjalan pulang dengan riang.

Sang Fajar terlihat mulai kelelahan di langit merah sore, berganti dengan langit hitam diikuti dengan adzan Magribh. Malam ini kami berkumpul di rumah Chaerul mengerjakan tugas membuat makalah. Setelah puas bercanda dengan mencalla teman-teman kelas Firdaus membuka percakapan.

“Din tidak mauko belikan Cia sesuatu? Beberapa hari lagi kan Valentine” tanyanya berhadapan, mungkin mereka sudah tau tingkah lakuku yang aneh setelah malam itu. Saat itu diri ini tidak tahu, apa itu valentine? , apakah itu nama seseorang atau event ? mereka berdua menjelaskan itu adalah hari special dengan memberi hadiah kepada orang lain yang disukai, wajahku hanya merah padam mendengar percakapan mereka. Tiba-tiba Chaerul angkat bicara.

belikanmi bunga mawar atau coklat” katanya memberikan masukan, kuakui Chaerul memang seorang pujangga sejati

“eh, eh, eeh ?” jawabku, karena bingung dan tiba-tiba seperti ini ku hanya terdiam tanpa kata. Dan merekapun tertawa terbahak-bahak mengerjaiku dengan jahil.

Esoknya kulihat tabunganku, cukup buat membeli sebuah hadiah, kubulatkan tekad dan niat, kupacu gas motor menuju Toko Bandai. Hmm mataku pusing memilih sebuah hadiah yang cocok untuk sosok Cia, dia gadis yang energik, mau bergaul dengan siapa saja, dan manis, kira-kira apa hadiah yang bagus untuk sosok seperti ini ku mulai bertopang dagu karena berpikir sambil berjalan malam itu dari toko ke toko lain. Ketika ku mulai berpikir kadang aku tidak memperdulikan sekitarku dan tanpa sadar diriku sudah berada di dalam toko lain, karena kaget ku mulai celingak-celinguk melihat sekitar dan akhirnya mataku tersenyum melihat bantal Naruto yang lucu. Sepertinya ini cocok mewakili dirinya dan diriku, ku mempercepat langkah ke kasir.

Tik tok jam sudah menunjukkan jam sepuluh malam, ku mulai goyah di kamar tidurku, kasih atau tidak yah ? pikirku merenung sambil karena tidak bisa tidur, kuputuskan ke kamar ibuku dan mencari parfumnya entah kenapa ide seperti ini tiba-tiba muncul di kepalaku, kusemprotkan beberapa kali dan kubungkus kado dengan rapi.

Besoknya seperti biasa ku mulai ke sekolah seperti tidak terjadi apa-apa, tas ku tersembul berisi sebuah kado bantal, ku berusaha tenang sampai bel jam pulang berbunyi, ku mulai menghapal kata-kata yang ingin kuucapkan saat memberikannya nanti, rasanya kepalaku seperti berputar-putar saat itu.

Ting ting bel berbunyi, aku mulai gugup dan panik, rasanya jantung ini ingin menyembul keluar saking takutnya akan berbicara dengan orang yang disukai, keringat dingin mulai muncul, saat seisi kelas mulai habis, Firdaus dan Chaerul berdiri di depan pintu menjalankan rencana, ditahannya Cia dan Muna, ku mulai menunggu di dalam kelas mematung, datar, tanpa ekspresi saat Cia mulai masuk dengan malu-malu kemudian semua hapalanku buyar dan hilang tanpa permisi

“ada apa ?” katanya malu-malu

“ehh anu, itu , ada hadiah dalam tas ku, katanya Firdaus dan Chaerul hari ini Valentine, hari untuk memberikan sesuatu kepada orang yang disukai, kuharap kalau kau mau aku akan memberikannya padamu” urutan kataku mulai aneh dan acak, kepalaku masih berputar-putar karena malu.

“tapi kalau kau tidak mau, tidak apa-apa hehe” sambungku dengan wajah tertunduk, dia hanya tersenyum menatapku dan mulai mendekat.

“memang ini apa ?” menunjuk ke kado pemberianku.

“sebuah bantal naruto untukmu, tapi kalau kamu tidak mau tidak apa-apa kok nanti saya simpan saja” jawabku gugup, saking pasrahnya ku sudah tau jawaban apa yang akan keluar, kepalaku yang berputar-putar kini mulai tenang, setidaknya diri ini sudah mengeluarkan apa yang ingin diucap batinku memberi semangat.

“hmm” jawabnya ragu, dia melihatku dengan menahan senyum dan menggigit bibir bawahnya, aku mulai bertambah ragu, sepertinya cinta pertamaku akan suram batinku, selesai sudah masa mudaku, diriku sudah pasrah.

“hmm oke aku terima” jawabnya kini jelas tp ada sedikit keraguan, ku mengangkat kepala, perut dan hatiku terasa senang seperti warna warni bercampur aduk.

“tapi kita keluar dari kelas dulu yuk disini rasanya aneh berdua” sambungnya

“aah, ituu, iya yah , yuk” jawabku mulai merasa aneh juga karena Cuma berdua.

Saat keluar dari kelas, ternyata teman-teman masih berkumpul, ada berteriak cie cie, suasana mulai heboh, ku melihat sekeliling mencari sosok Firdaus dan Chaerul karena malu dan senang. Tiba-tiba Ramadhani dan Fadhilah datang dan memberi selamat, mereka adalah teman kelasku saat kelas 1 SMA.

“selamat yah ketua kelas X-10” kata mereka sambil berlalu di hadapanku, ku hanya menjawab dengan tersenyum. Tiba-tiba Firdaus datang menemuiku, dia yang biasanya tersenyum jahil, mulai berkata sesuatu padaku, kelihatannya sangat serius tergambar dari raut wajahnya.

“Din satuji pesanku jangan kasi menangis Cia nah” katanya keren sambil berjalan pulang, entah kenapa dia menjadi keren saat itu, dan entah kenapa dia bisa membaca masa depan ku nanti.

Saat itu ku mulai berpikir ini adalah cinta Pertama ku, atau bisa jadi Cuma akan menjadi cinta Monyetku, saat itu saya belum tahu hukum pacaran dalam Agamaku , Islam, saat itu ku berpikir dan baru tahu, ketika memberikan sesuatu ke seseorang yang disukai maka kita akan disebut pacaran. Dan saat itu adalah moment yang mengubah diriku yang polos menjadi seseorang yang disebut “anak gaul” oleh sekitarku di umur seperti ini.

Saat itu kami jadi sering bercengkrama berdua sepulang sekolah, tidak tau kenapa gugupku hilang, yang ada rasa nyaman dekat dengannya, ku mulai aktif jalan jalan ke organisasi Pramuka hanya untuk bertemu dengannya, kami jarang SMS an mungkin karena malu satu sama lain, tetapi ketika bertemu, Cia akan banyak bercerita denganku mengenai apa yang dia lakukan dan rasakan ketika ada masalah atau tugas, ku mulai suka melihat siluet senyumnya dari samping, ternyata ini yang namanya virus merah jambu.

Dua minggu setelah itu, kami ditunjuk berpasangan oleh Senior di Pramuka untuk menjadi panitia Bazar, ini hal pertama bagiku menjadi panitia sebuah kegiatan selain di PMR, sebenarnya gara-gara Firdaus yang menjadi dalang dari semua ini, kami lalu membagi tugas, Cia mengecek lokasi dan ku mulai membuat desain kupon bazar, karena belum terlalu jago desain ku menemui Ancha tetanggaku untuk membuat kupon bazar, kami berdua menyelesaikannya sampai magrib, besoknya kuserahkan ke Cia, tapi sepertinya dia sudah membuat desain yang lain. Cia memang sangat jago menjadi panitia, batinku mulai berpikir merasa tidak berguna. Sepertinya dia bisa membaca raut wajahku yang cemas dan merasa belum membantu apa-apa. Dan mulai tersenyum dan berkata padaku

jemputka nah besok, tidak ada motorku belah, baru sama-samaki ke MP” katanya sebelum pulang, ku senang setidaknya bisa membantunya sedikit, ini sudah sangat berharga bila kami bersama, pikirku kembali bersemangat.

Besoknya ku mulai memakai baju terbaik, celana terbaik, dan siap menjemput dan mengantarnya ke MP untuk event Bazar Pramuka. Ini kali pertama kami berdua jalan bersama, biasanya hanya di sekolah saja, saat menjemputnya di depan rumahnya dia kelihatan lebih manis, memakai kudung dan baju hitam serasi, ku berusaha setenang mungkin membawa motor agar tidak kelihatan gugup. Setibanya di MP Cia mulai sibuk melayani event bazar, karena Cuma sendiri anak PMR jadi tidak ada teman yang bisa diajak bercerita, tiba-tiba Firdaus datang.

“Din, gawat sebentar datangki kakaknya Cia” dia mulai menerangkan kepadaku, sebenarnya kakaknya Cia senior di Pramuka dan melarang adiknya untuk berpacaran atau dekat dengan laki-laki. Begitu pula orang tua dan culture keluarganya. Diri ini mulai bingung akan berkata apa nanti, kalau memang akan seperti ini, ku mulai berpikir keras. Tidak mungkin saya akan berjanji melamarnya dan kami akan menikah, pikiranku sudah terlalu jauh menerawang ke depan, kami masih sekolah, masih anak SMA, pekerjaan belum ada, akan makan apa nanti anaknya orang ? pikirku saling jawab menjawab dalam hatiku, kepalaku kembali berputar-putar saat itu saya baru sadar, akan apa sebenarnya manfaat pacaran ? tidak ada sama sekali, bagaimana kamu akan bertanggung jawab nanti ? apakah kamu sudah siap dan mapan ? logika dan perasaan ku saling berbenturan kuat. Saya tidak ingin melihatnya sedih pikirku yang utama malam itu, ku sudah bertekad mengakhiri hal ini dengan mencari jalan tengah, mungkin ku harus mengakhiri hubungan ini,

dan bila kami berjodoh mungkin di masa depan nanti kami bisa saling bertemu, kuharap dia menjadi istriku di masa depan nanti,

doaku dalam hati ketika mengambil keputusan ini.

 

….

Beberapa hari kemudian, kata Muna sahabatnya, Cia jadi sering menangis karena keluarga nya tidak setuju bila Cia dekat dengan laki-laki, ku jadi makin membulatkan tekad, Firdaus pernah berkata padaku untuk berjanji tidak membuatnya menangis, mungkin ini jalan tengah yang terbaik sesuai perkataan Firdaus, ku mulai melihat langit lagi di lantai tiga sekolah, ku mulai tersenyum pada awan. Saat itu Cia lewat, senyumnya sedikit muncul.

“Cia aku mau bicara” kukumpulkan keberanian untuk menatap wajahnya

“kenapa ? oiya aku juga, ada hal yang ingin kusampaikan kepadamu” katanya sedikit murung, ku mulai menangkap dan mengira mungkin dia ingin mengucapkan kata perpisahan karena keluarganya. Sebelum dia berbicara ku mulai membuka mulut, rasanya berat sekali untuk berbicara saat itu entah kenapa. atau mungkin saja dia ingin curhat tentang keluarganya pikirku menyemangati diri, tapi isi hati dan mulutku sepertinya ingin melindunginya dari hal yang disebut pacaran

“mauki putus? “ tanyaku polos seolah-olah tidak tahu apa-apa

“eh” dia Cuma menjawab itu dan kembali tertunduk murung. Ku mulai tersenyum dan melapangkan dada, setidaknya saya ingin berusaha tidak membuatnya menangis, saya harus mengatakan ini. tapi entah kenapa diri ini menjadi egois dan pengecut, dan bertanya seolah-olah dialah yang ingin putus, dan semuanya terjadi begitu cepat.

“gak apa-apa kok kalau kamu mau putus” jawabku tanpa perasaan, ku mulai berbalik ke belakang karena malu melihatnya, malu karena ada yang mulai yang aneh dari mata ini.

“eh ? iya” jawabnya , Cuma “iya” jawabnya tanpa penjelasan, saat itu hatiku hancur, sayalah penyebab kejadian hari ini, tanpa meminta pendapatnya terlebih dahulu, tanpa mendengar penjelasannya, keegoisanku mulai membuat ku seperti, ku hanya berjalan membelakanginya saat itu, berjalan tertatih menuju Mesjid sekolah. Melepaskan semua isi hatiku pada yang menciptakanku dalam sujud, dan semuanya telah berubah saat itu.

 

  • view 56