KISAH IBU Penjual Nasi Kuning

Radinal Ridwan
Karya Radinal Ridwan Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 27 Juli 2016
KISAH IBU Penjual Nasi Kuning

 

Saat itu petang sangat melelahkan dan panas tentunya, aku celingak-celinguk mencari tempat makan atau penjual nasi kuning mobilan. Selang beberapa meter aku melihat penjual nasi kuning yang berada tepat di depan mesjid di jalan hertasning baru makassar. Tanpa basa basi lansung menuju ke tempat tersebut karena lapar yang sudah meradang di lambung ini. Kulihat wajah teduh seorang ibu paruh baya kira-kira umurnya sudah kepala empat, ku tersenyum dan dibalas senyum hangat oleh ibu tersebut.

“Bu nasi campurta satu pake ayam tdk pake telur” celotehku memesan dan dijawab dengan anggukan sopan oleh ibu tersebut. Ku sengaja tidak memesan nasi kuning karena selain ini untuk makan pagi, aku ingin mengurangi makan makanan berminyak tentunya. Panjang cerita ku mulai makan dengan lahapnya sambil memicingkan mata melirik ibu tersebut, ku melihat dia memegang tasbih dan sedang berdzikir. Dzikir pagi batinku berkata, sedikit berani ku membuka obrolan di pagi yang hangat itu. “Bu udah berapa lama jual nasi kuning di mobil ?” Tanyaku. Dijawab ibu itu “sudah lama menjual seperti ini nak udah beberapa tahun untuk membantu keluarga mencicil mobil yang saya gunakan untuk menjual nasi kuning ini”. “Oh” jawabku pendek, “bagus yah bu bisa jadi wirausahawan hehe” tawa ku kecil. Setelah obrolan kecil itu terjadilah percakapan yang menurutku bisa dijadikan pelajaran. Ringkasnya ibu tersebut seorang lulusan farmasi di kampus UMI dan dulunya kerja sebagai karyawati di tempat praktek dokter rumahan. Tetapi karena suatu hal kata ibu tersebut dengan disertai wajah yang lumayan serius. Ibu keluar dari pekerjaan tersebut beberapa tahun yang lalu karena ibu dilarang solat kelamaan di mesjid. “Wah complicated juga problemnya” bisik batinku. Ku melanjutkan mendengarkan cerita ibu tersebut dengan seksama.

Katanya dokter tersebut seorang non muslim tetapi sangat baik kepada ibu tersebut. “Hmm tapi kenapa yah ibu keluar?” tanyaku. “Nak itu dikarenakan ada pegawai yang mungkin tidak suka ketika ibu ke mesjid buat sholat tepat waktu. Mungkin karena ibu lama di mesjid. Ibu memang merasa bersalah tetapi terkadang ibu tidak dapat menolak membantu orang lain” Jawabnya hangat. “Maksud ibu ?” tanyaku. Ibu terkadang membantu jamaah di mesjid yang mengeluh tentang penyakit nya terkadang mereka konsultasi dengan ibu awalnya hanya beberapa orang tapi seiring waktu mulai banyak yang datang untuk berobat dan konsultasi mengenai penyakitnya begitupun di mesjid tempat praktek dokter rumahan tempat ibu bekerja dulu, teduhnya.

Ibu biasa bawa alat kesehatan seperti stetoskop dan obat. Itu ibu lakukan dengan niat yang baik hanya untuk membantu nak tanpa upah sedikitpun. “Batinku kagum dengan sosok ibu paruh baya ini” terus bu ? Tanyaku masih penasaran. Setelah kejadian lapor melapor ke dokter tempat ibu tersebut bekerja akhirnya dokter memberi masukan agar gak usah solat di mesjid bu. Di klinik ini aja. Bagai disambat petir ibu tersebut hanya tersenyum dan membulatkan tekad besoknya resign dari pekerjaan tersebut meski dokter tersebut meminta maaf mengenai perkataannya kemarin. “Sekarang ibu merasa lebih baik nak. Membantu suami yang kebetulan beli mobil eh ternyata merupakan jalan rejeki karena ibu dapat membuat usaha menjual makanan di pinggir jalan. Alhamdulillah pendapatannya lebih besar daripada jadi apoteker di klinik kemarin. Lokasinya depan mesjid sehingga dapat membantu jamaah yang ingin berobat konsultasi, curhat, belajar mengaji dan mengisi perut tentunya” tawa renyah ibu tersebut. Saya bisa solat tepat waktu. Jam kerja hanya pagi hari biasanya diatas jam 10 udah habis jualan ibu. Ketika puasa Sunnah kadang Ibu membuat usaha pembuatan kue di sore hari Alhamdulillah karena sudah dikenal dulu di tempat praktek lama dan lingkungan sekitar ibu menjual malah tambah berkah.

Fyi nasi kuning dan campur ibu itu, cuma sepuluh ribuan pas. Dengan krupuk, cacahan daging, perkedel, keripik kentang, dan sayur sudah mampu merebut hati warga sekitar yang berbondong bondong datang untuk membeli atau bungkus nasi berkah tersebut. Sekarang kata beliau dia punya waktu yang banyak buat keluarga. Cicilan mobil jalan dan udah mau lunas. Dan intinya bisa solat tepat waktu dan membantu warga sekitar. Hmmm mulia sekali hati ibu ini. Mungkin ini teguran kecil buat saya agar lebih aware terhadap solat yang tepat waktu. Jangan takut rejeki di kantor atau pemecatan. Rezeki Allah itu sangat berlimpah ketika kita bersyukur dan mau berusaha untuk berbagi dan memperbaiki diri.

 

Salam Hangat Penulis

Paladin

sumber blog pribadi : https://reidynalridwan.wordpress.com/2016/05/07/penjual-nasi-kuning/

  • view 466