Pernikahan (Yang) Professional

Rachmi Zen
Karya Rachmi Zen Kategori Lainnya
dipublikasikan 19 Februari 2016
Pernikahan (Yang) Professional

Jika dibaca dari judulnya mungkin ada sebagian pembaca yang bertanya-tanya, apa maksudnya?? Namun, sebelum saya membahas tentang judul tulisan ini, mari kita cari dulu arti sebenarnya dari dua kata tersebut, Pernikahan dan Profesional.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pernikahan adalah hal (perbuatan) nikah, nikah disini maksudnya ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan agama dan ajaran agama. ?Intinya, ada persyaratan hukum dan agama yang harus dilalui dan ditaati oleh kedua belah pihak yang ingin menikah. Dan tentunya, ada hal-hal yang tidak boleh dilanggar dalam ikatan sebuah pernikahan.

Sedangkan profesional, memiliki setidaknya tiga arti. ?Pertama, bersangkutan dengan profesi. ?Kedua, memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya, dan yang ketiga mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya (lawannya amatir). ?Saya tertarik dengan poin nomor 2.

Ibarat kata, jika ada seorang pekerja yang ingin dianggap profesional, maka saya yakin pekerja yang memiliki akal jiwa yang sehat, tentu saja akan belajar meningkatkan kemampuannya.?Kursus, pelatihan, workshop atau mungkin buku-buku yang berkaitan dengan pekerjaan yang sedang dijalani atau bahkan ingin menambah kemampuan baru. Dan bekerja dengan sebaik-baiknya sesuai dengan target yang sudah disepakati antara dia dan perusahaannya. Bukan begitu?

Nah, bagaimana dengan dua orang yang menikah agar bisa berlaku professional??Menurut saya, professional dalam pernikahan berarti mematuhi aturan yang sudah ada, kemudian tidak enggan untuk belajar meningkatkan "kemahiran" nya agar bisa saling membahagiakan dan berupaya untuk tidak ada yang saling merasa tersakiti. ?Bukankah bekerja juga demikian? ?Kita berupaya maksimal untuk memberikan hasil yang luar biasa untuk perusahaan, agar apa yang kita dapatkan sesuai dengan yang kita harapkan, seperti kenaikan gaji, jabatan, atau?reward?lainnya.

?Key Performance Indicator? menjadi seorang yang professional, menurut saya adalah berwujud kebahagiaan, kepuasan batin yang bisa dirasakan di dalam hati. Melihat bos senang dengan hasil kerja kita, maka hati pun senang dan kerja makin produktif. Mendapatkan senyum menawan dari istri karena dipuji masakannya maknyusss, maka hati suami pun riang sepanjang hari. Melihat anak yang tumbuh dan tak kekurangan kasih sayang, maka hati pun rasa bangga sudah menjadi orang tua yang baik untuk anak.

Namun sebaliknya, pernahkah kita, bertanya kembali kepada diri kita sendiri mengenai, seberapa professionalkah kita dalam kehidupan kita berkeluarga? ?Sudahkah kita memenuhi segala kewajiban yang sudah ada dalam kesepakatan? ?Pernahkah kita ingkar dengan janji-janji yang sudah kita ucapkan? ?Bersungguh-sungguhkah kita ingin membahagiakan keluarga? Sudahkah kita mengerjakan semua ?pekerjaan rumah tangga? yang diberikan sejak kita sah dalam akad nikah? Apa saja yang sudah kita lakukan untuk meyakinkan keluarga kita, jika kita benar-benar menyayangi mereka? Jika ada jawaban dari pertanyaan tersebut adalah tidak atau belum, saya kira kita perlu berpikir ulang dan sebaiknya menginstropeksi diri kita, tidak cuma 1 belah pihak, namun perlu keduanya. ?Bukankah menikah itu berdua?

Apakah begitu sulit kita menciptakan kebahagiaan bagi orang-orang yang kita sayangi? ?Sedangkan untuk perusahaan, yang notabene hanya persinggahan kita sesaat (karena kita tentu terbatas usia untuk terus bekerja), kita berjuang tanpa lelah untuk "membahagiakan" perusahaan kita. ?Bukan tak boleh, tapi apakah itu esensi hidup yang sebenarnya?

Pasangan, adalah orang lain tanpa hubungan darah yang kita pilih sendiri untuk kita jadikan teman hidup sampai tutup usia. ?Bagi yang sudah dikaruniai anak, maka keturunan itu adalah anugerah yang tak pernah bisa digantikan dengan apapun, termasuk uang berlimpah. ?Kehilangan masa kanak-kanak mereka, sama saja dengan kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup kita, yakni waktu. ?Karena waktu tidak bisa kita ulang kembali.Other things may change, but we start and end with family.

Tidak ada yang salah jika memiliki mimpi besar, bahkan mimpi mengubah dunia sekalipun. Meraih mimpi yang lebih besar dari mimpi membahagiakan keluarga, tapi ingat satu hal jika kita kembali ?pulang? nanti sebagai seorang karyawan, mungkin dalam hitungan hari posisi kita dengan mudah akan dicarikan penggantinya. ?Tapi keluarga, yang memiliki ikatan emosional paling dalam, mereka yang akan merasakan kehilangan yang amat sangat, dan yang pasti keluargalah yang akan mendoakan kita di ujung sajadahnya.

Jangan tunggu penyesalan itu datang, karena tak ada yang pernah menebak kapan berakhirnya waktu.

Jangan tunda memberikan kebahagian untuk keluarga, karena tak ada yang tahu sampai kapan mereka bertahan melawan kecewa.

Jangan lewatkan setiap masa untuk terus berjuang, karena seyogyanya bahagia yang nyata ada disana.

Bersama keluarga, menciptakan mimpi pernikahan (yang) professional.

  • view 149