Si Rangrang Merah Di Bawah Langit Papua

Rachmi Zen
Karya Rachmi Zen Kategori Inspiratif
dipublikasikan 21 Oktober 2016
Si Rangrang Merah Di Bawah Langit Papua

Pemandangan alam Tanah Papua

Jumat (14/10), Surat Perjalanan Dinas (SPD) itu resmi ada ditanganku.  Ini business trip kedua terjauhku setelah Milan.  Perasaan campur aduk mulai aku rasakan, lebay mungkin tapi ini bener-bener terjadi.  Ada kegaduhan dalam hati kecilku, antara super excited karena bisa melihat Indonesia di ujung pulau, tapi kepikiran juga dengan medan yang akan kami tempuh.  Karena tujuan perjalanan kami bukan Jayapura semata, tapi Yahukimo.  Pernah dengar? Hehe. 


Satu per satu perlengkapan selama di sana aku susun dalam koper kabinku.  Namun sebelum aku menutup koper mungil itu, entah mengapa hati rasanya tergerak untuk membawa baju merah ini.  Padahal aku tahu benar, baju ini agak kurang nyaman dipakai di cuaca panas dan mengingat apa tugasku nanti di Yahukimo yang membutuhkan ekstra tenaga untuk lari sana sini.  Tapi masih tetap aku bawa juga.  “Mungkin nanti aku akan butuh kamu,” pikirku saat itu.

Sabtu (15/10), pukul 23.20 WIB dengan menggunakan GA 656, kami ber 11 memulai perjalanan ini.  Tim internal bersama beberapa awak media yang bergabung bersama kami.  Perjalanan sekitar 5,5 jam menghantarkan kami menuju bumi Cendrawasih.  Dan karena sudah terlalu lelah ditambah lagi aku harus bisa menyetok tenaga untuk persiapan acara bersama RI 1 di Yahukimo, jadi pemandangan indah dari atas pesawat tidak terlalu kutangkap melalui pancra indra.  Aku terjaga disaat pesawat sudah hampir tiba di bandara Sentani.

Minggu (16/10), Bandara Sentani dan aku sudah bisa bilang “Torang sudah injak tanah Papua” hehe.  Pemandangan gunung dengan awan yang menutupi jadi objek mataku selama berada di Jayapura.  Dan hari ini aku diberi kesempatan untuk merasakan lagi Vitamin Sea.  Pantai.  Air yang masih bening bersih, dengan bibir pantai yang berkerikil (bukan pasir).  Kuhirup dalam-dalam angin semilir, kurasakan sinar mentari menyengat kuat menghantam kulit. Tapi kuindahkan saja, karena aku memang rindu suasana ini.  Aku juga sempat bertemu muka dengan para penduduk sini dan meminta ijin untuk mengabadikan momen langka ini.  Namun, jangan bayangkan mereka tanpa busana, di Jayapura ini sudah berbentuk kota cukup maju yang indikatornya ya sudah ada bioskop XXI, Jco, karaoke, dll.   
 

 

 

dengan tim media

 

mirip di Lombok, tapi ini Jayapura kakak

 

dengan penduduk setempat

 

anak-anak asli Papua

 Selanjutnya hari Mingguku ini dipenuhi dengan tatap muka bersama tim yang bertugas di Jayapura, terkait penjemputan PTM 1 bersama BUMN 1 dan rombongan.  Sekaligus menyiapkan keberangkatanku ke Yahukimo dengan menggunakan pesawat ATR.  Penerbanganku ke Yahukimo pukul 10.00 dengan pesawat komersil Trigana Air.  Rekan-rekan di Jayapura sudah mengingatkan untuk menyiapkan perlengkapan ekstra selama berada disana karena fasilitas tidak akan selengkap di Jayapura.  Tiba-tiba terbersit bayangan aku akan tidur di hotel berbintang-bintang alias tenda kemping haha.

Senin (17/10), hanya dengan 4 jam tidur aku memulai kembali aktivitas menuju bandara.  Menjemput rombongan dan lanjut terbang ke Yahukimo.  Setelah bertatap muka dengan BUMN 1, PTM 1 dan rombongan, mereka melanjutkan perjalanan sekitar 1,5 jam menuju pusat kota Jayapura dan aku bergeser ke ruang tunggu bandara untuk bersiap ke Yahukimo.

Pesawat AT Trigana berpenumpang sekitar 60 orang

 

Pemandangan pegununang di Papua.  Jalur darat terlihat berwarna coklat diantara tebing

Akhirnya, wujud Yahukimo tertangkap mata juga.  Bandara ini sudah jauh lebih baik dari distrik lainnya, runway sudah 1.650 m, tidak seperti di Kabupaten Puncak Ilaga yang kurang dari 1000 meter.  Pada saat pesawatku mendarat, berselang 3 menit pesawat yang membawa Panglima TNI touch down juga di Yahukimo.  Distrik ini akan dipenuhi orang-orang penting, karena besok RI 1 akan hadir di sini.  Aku lihat sekeliling, akhirnya aku menemukan penduduk asli yang menyambut kehadiran Panglima lengkap dengan “pakaian khas” nya (gak usah disebut yaa liat fotonya aja langsung hehe).

(sensor hehe) Aku dan penduduk Yahukimo yang berpakaian tradisional

 

Bandara Nop Goliat Dekai Yahukimo yang diresmikan Presiden RI

 
Setelah bertemu dengan tim internal kami di Yahukimo, aku berjalan menuju tenda acara yang memang sudah dipenuhi orang-orang untuk menyiapkan segala sesuatunya.  Salah satu orang yang aku kenali adalah protokol Presiden.  Tiba-tiba namaku dia teriakan dari microphone berbungkus merah itu

“Mimiiieee.” Logat Bataknya memanggil namaku menggema ditelingaku.

“Kenapa Bang?” setelah aku dekati.

“Jadi MC ya mie, please.”

Whaaaaaaaaaatttttttttttt !!!  Ntah kenapa aku langsung teringat baju merah yang aku bawa, apa ini pertanda feelingku waktu itu?

Setelah penjelasan panjang lebar dari Si Abang Batak ini, akhirnya dengan pertimbangan bahwa aku dan perusahaanku ikut andil dalam menyukseskan acara yang akan dihadiri RI 1, maka permohonan itu aku jawab dengan anggukan.

“Bismillah, siap Bang.” 

Ini debut pertamaku di dunia MC untuk acara Presiden RI.  Memang aku sudah sering didaulat acara perusahaan sekaliber menteri dan setara, tapi untuk kelas presiden, ini yang perdana dan di tanah Papua pula.  Ya Tuhan, langka sekali kesempatan yang Engkau berikan ini.

Selasa (18/10), tidurku cukup nyenyak di kamar hotel Sharron Inn yang kuanggap seperti kos-kosanku di Bandung.  Untuk sekelas Yahukimo, ini termasuk yang terbaik.  Dan Ibu Rini Soemarno pun seusai acara, berkenan mengunjungi hotel ini untuk beristirahat.  Bersih dan yaa layaknya kos-kosan hehe.  Ada kamar mandi di dalam serta angin sepoi-sepoi yang keluar dari kipas angin di langit-langit kamar.

 

Hotel Sharron Inn, tampak kamar dan pemilik hotel

Ibu Rini Soemarno (Menteri BUMN) berkunjung ke hotel, agar Dirut kami melihat kondisi tempat kami tidur di Yahukimo hehe

 
 Ada apa dengan Yahukimo?  Selama aku berinteraksi dengan para petugas pengamanan disana, ada fenomena menarik yang aku dapatkan.  “Kemarin itu mbak, baru pesawat presiden saja yang landing untuk uji landasan, pesawatnya aja lho ya, itu warga sini udah pada nangis, apalagi besok mbak.”  Ujarnya.  Betapa warga Papua begitu menunggu kehadiran presiden.

Yahukimo, salah satu distrik di Propinsi Papua ini, dipilih RI 1 untuk meluncurkan program Satu Harga Bahan Bakar Minyak di Papua, sekaligus meresmikan Bandara Nop Goliat Dekai.  Sebelumnya, warga Papua harus membeli BBM seharga 20 ribu per liter sampai 100 ribu per liternya.  Harga ini sangat dipengaruhi oleh jalur distribusi pulau Papua yang sangat sulit.  Bayangkan antar distrik saja kita harus menjangkaunya dengan pesawat kecil.  Kalaupun dibawa menggunakan kendaraan di jalur darat resiko yang ditempuh memang cukup besar.  Melalui program yang digelontorkan RI 1, Pertamina mulai melakukan kajian mendalam untuk mewujudkan Satu Harga BBM di Papua agar bisa sama dengan wilayah NKRI lainnya.  Alhasil, pesawat Air Tractor AT-802 kami impor melalui penugasan khusus ke Anak Perusahaan PT Pelita Air Service.  Pesawat ini yang nantinya akan membawa ribuan kilo liter BBM (premium, minyak tanah, dan solar) menghantarkan ke agen penyalur terdekat. Demi harga yang sama dengan daerah lainnya.

Papua menangis terharu.  Papua Satu Harga pagi itu diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Jokowi.  Dalam sambutannya beliau menyampaikan “Ini untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”  Haru biru itu kurasakan langsung, karena aku berdiri tegak dihadapan RI 1 dan ribuan mata rakyat Papua yang hadir.  Baju merah itu kupakai, suara khas itu kumandangkan, dan naskah pembawa acara itu aku pegang.  Aku, si anak daerah yang dulu kecil diolok-olok saat membawakan upacara di sekolah karena aku tak bisa menyebutkan huruf R dengan baik.  Hari ini dengan lancar dan sempurna berhasil menyelesaikan tugas sebagai Master of Ceremony (MC) untuk acara Kepresidenan Republik Indonesia di tanah Papua.

 

Bersama Bupati Yahukimo Bapak Abock Busup

 

Bersama tim Protokol Presiden dan Internal

 

Saat bertugas untuk Papua

 
 Terima kasih Papua, di bawah langitmu, si baju merah ini jadi saksi bahwa aku adalah bagian dari sejarahmu.  Papua, BBM Satu Harga.

 

 

Dilihat 132