#Mimpi Tentang Masa Depanmu

Rachmi Zen
Karya Rachmi Zen Kategori Renungan
dipublikasikan 15 Agustus 2016
#Mimpi Tentang Masa Depanmu

Mimpi ini sudah ada sejak dulu, sejak semua masih menjadi bayang-bayang semata.  Aku hanyalah perempuan biasa dengan mimpi luar biasa untuk penerusku nanti.  Kalimat ini selalu terngiang-ngiang tidak hanya di telingaku, tapi juga di hati ku.

"Menjadi sebaik-baik manusia dan bermanfaat untuk umat Muhammad."

Kuresapi dalam-dalam maknanya, seakan indah dunia jika kita bisa memberi manfaat untuk orang lain.  Mimpi ini, kupatrikan dalam hati untuk penerus jiwa dan ragaku, anakku.  Yang kini sudah tak lagi jadi bayang-bayang semata, penurusku telah berwujud nyata, seorang anak manusia berjenis kelamin laki-laki, tampan, mudah-mudahan cerdas lagi soleh.  Usianya sebentar lagi menginjak 2 tahun, mimpi itu memang masih jauh untuk diwujudkan, tapi aku telah bermimpi dari kemarin, agar ia tahu, ibunya punya doa luar biasa untuknya.

Anakku, yang insyaAllah akan jadi anak baik.  Aku belajar menjadi ibu yang punya banyak cerita dan pengalaman agar aku kelak akan punya bahan yang tak habis-habisnya yang bisa aku sampaikan kepadamu, tentang apapun di dunia ini.  Tentang bahagia, kesuksesan, tapi engkau harus juga bersiap dengan cerita luka dan kecewa yang nanti aku sampaikan.  Aku cuma ingin kelak, engkau akan jadi umat yang bijak ketika dihadapkan dengan apapun bentuk tantangan hidup yang akan engkau lewati.

Anakku, yang aku cintai.  Aku berusaha terus memperbaiki diri meski aku harus jatuh, tertusuk, kecewa dan menekan segala godaan tentang hidup.  Karena aku ingin, engkau kelak tumbuh jadi pria hebat yang tahu memilih dan memilah apa-apa yang baik untuk hidupmu nak, dan tentu saja baik-baik menurut penciptaMu.  Percayalah, tak ada yang lebih benar selain Dia.

Anakku, yang kelak akan jadi imam.  Ini mimpi besarku tentangmu nak, buyutmu adalah seorang Imam besar pada sebuah masjid besar.   Dan aku pun pernah bermimpi, engkau akan berdiri tegak di barisan paling depan memimpin sholat  pada sebuah masjid yang megah yang begitu banyak jamaahnya.  Maaf ya nak, ibumu yang hina ini punya mimpi seperti ini, mungkin berat tapi aku yakin engkau akan bisa tumbuh jadi anak soleh seperti mimpiku itu.  Walaupun nanti tak berbentuk masjid yang mana engkau akan jadi imamnya, setidaknya kelak engkau akan jadi imam untuk keluargamu.  Jadikan itu mimpi besarmu ya, nak.  Meng-imami perempuan yang engkau pilih dan engkau cintai, serta anak-anak yang akan meneruskan mimpi besar kita.

"Menjadi sebaik-baik manusia dan bermanfaat untuk umat Muhammad."

Anakku, yang akan menjadi penolongku kelak di akhirat.  Ibumu ini, hanyalah perempuan akhir jaman yang punya mimpi engkau akan jadi suami dan ayah yang luar biasa untuk keluargamu.  Ada dalam bayanganku setiap aku memimpikan masa depanmu, istrimu nanti akan begitu tulus mencintaiku sebagai ibunya, seperti ibu yang melahirkannya.  Aku membayangkan, engkau dan dia akan jadi keluarga hebat yang luar biasa dengan engkau sebagai nahkodanya, dan istrimu akan jadi pendampingmu yang tak pernah melupakan aku sebagai ibu kalian.  Aku pun nanti akan jadi orang pertama yang dicari disaat bahagia dan sedih kalian.   Aku merasakan pelukan yang sama eratnya denganmu, dari perempuan yang akan melahirkan cucu-cucu keturunanku kelak.  Membayangkannya saja, aku sudah bahagia nak.  Apalagi mimpi itu bisa engkau wujudkan kelak.  Karena aku ingin, engkau hidup bahagia bersama keluargamu, kokoh tak terpecahkan.

Anakku, yang kelak akan jadi pemimpin bijak.  Di luar sana, begitu banyak pemimpin yang tak mampu beri contoh baik untuk rakyatnya, tapi tak sedikit pula yang patut dijadikan idola.  Doaku, engkau lelaki hebat akan jadi pemimpin hebat, bijaksanalah pada lingkungan 360 derajatmu.  Belajar menghargai, belajar menerima, jaga lisanmu dan perbuatanmu, belajar tak menyakiti.

Anakku, yang insyaAllah cerdas.  Uang di dunia ini mungkin bisa membeli banyak hal, tapi rezeki bagiku tidak hanya dalam bentuk materi, nak.  Jadi, aku mohon dengan amat sangat, jangan pernah jadikan uang sebagai standar kesuksesan hidupmu.  Menjadi kaya tak pernah salah, tapi menjadi dermawan dan tak serakah adalah sebaik-baiknya perilaku untuk sesama kita.  Dan jangan ambil atau engkau langkahi hak orang lain.

Anakku, maafkan ibumu yang punya banyak mimpi untuk masa depanmu.  Tapi inilah aku, ibumu yang ingin suatu saat nanti ketika waktu kita habis di dunia, akan ada banyak orang yang menangisi kepergian kita, karena kita sudah

"Menjadi sebaik-baik manusia dan bermanfaat untuk umat Muhammad."

Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak yang soleh yang akan menjadi penentu surga dan nerakaku kelak, nak.  Dan engkau ada di barisan itu, untuk mendoakan aku, karena itu aku juga mengandalkanmu, nak.  Ingat ya nak, perkara soleh itu bukan hanya selalu berkaitan dengan Dia yang di atas, tapi juga cara engkau memperlakukan sekitarmu.  

Anakku, aku ibumu, menanti mimpi besar itu jadi nyata. 

Semoga.

  • view 321