“Membangun Sinergitas: Lawan dan Perangi Narkoba” (Karya Kader KMN : Rian Agung)

Rabel Foundation
Karya Rabel Foundation Kategori Budaya
dipublikasikan 08 Juni 2017
“Membangun Sinergitas: Lawan dan Perangi Narkoba” (Karya Kader KMN : Rian Agung)

 
Sejumlah persoalan yang akhir-akhir ini terus menghantui kehidupan berbangsa dan bernegara, tengah mengerucut pada suatu pertanyaan besar dan mendasar yang mengusik ketenangan kita sebagai anak-anak bangsa yakni ke mana dan mau jadi apa Bangsa kita yang tercinta ini di ke depannya? Setiap hari kita terus diterpa dan ditindas oleh sederetan persoalan mulai dari skala terkecil hingga skala besar yang menakutkan seperti masalah narkoba. Di mana-mana narkoba sudah barang tentu menjadi musuh bersama yang harus diperangi mengingat—dampaknya yang luar biasa menakutkan. Pecandu atau pemakai norkoba tidak saja harus mengalami kehilangan kreativitas dan potensi yang ada tetapi lebih dari itu mereka bisa kehilangan nyawa.
 
Untuk konteks Indonesia, “pasar” narkoba yang dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa atau extra ordinary crime adalah slogan sangat tepat sejauh dibaca dalam konteks Indonesia yang saat ini dalam kondisi darurat narkoba. Data tujuh bulan terakhir dari BNN dalam rentan waktu juni 2015 hingga januari 2016, menujukkan ada peningkatan angka penyebaran dan penggunaan narkoba di kalangan masyarakat yang sebagian besar melibatkan kawula muda. Dari 4,2 juta pada bulan juni 2015 bertambah menjadi 5,9 juta pada januari 2016. Sinkron dengan data yang dikeluarkan oleh Badan Narkotika Nasinal(BNN) di atas, Presiden Joko Widodo per januari 2015 lalu dalam rapat terbatas membahas masalah narkoba di kantor Kepresidenan mengingatkan bahwa Indonesia benar-benar darurat narkoba. “Kita harus sigap untuk bersama-sama memerangi narkoba yang merusak masa depan bangsa kita”, lanjut presiden Joko Widodo.
 
Indonesia darurat narkoba juga tersirat dari pernyataan Kepala Badan Narkotika Nasional, Budi Waseso, pada Okteber 2016 yang menerangkan ada sekitar 40 hingga 50 orang yang meninggal dunia setiap hari akibat penggunaan narkotika dan obat-obat terlarang. Terlepas dari sejumlah data yang dikeluarkan oleh BNN perihal Indonesia yang rawan narkoba, indikasi lain yang menegaskan keberadaan Indonesia sebagai salah satu pasar narkoba terbesar di dunia dapat diketahui dan dilacak dari tertangkap dan dieksekusi matinya banyak bandar narkoba yang beroprasi sekaligus sebagai pemasok narkotika dan obat-obat terlarang tersebut.
 
Sejumlah persoalan yang telah diuraikan diatas akan menjadi problema yang berkepanjangan ketika kita sebagai anak bangsa terus berdiam diri dan tidak berusaha menemukan jalan keluar untuk sebuah perubahan. Namun, sebelum sampai kesana, kita mesti terlebih dahulu mencari akar dari persoalan yang ada, baru kemudian merumuskan solusi untuk menanggulangi maraknya persoalan Narkoba yang diidap oleh masyarakat Indonesia. Sepintas melihat maraknya masalah narkoba yang ada, penulis coba melihat dan menganalisis penyebab sekaligus faktor laten yang dengan mudahnya memantik setiap orang terutama generasi muda terjerumus dalam dunia narkoba yang mematikan itu.
 
Faktor-faktor yang mempengaruhi rentannya Indonesia sebagai lahan subur transaksi narkoba
Berbicara tentang rentannya masyarakat Indonesia sebagai konsumen sekaligus pengedar narkoba mesti dilihat secara komprehesif ketimbang menyalahkan pihak-pihak tertentu sebagai corong dari persoalan yang memprihatinkan ini. Ada beberapa factor yang menurut penulis kelihatan “lengah’ sehingga dengan mudahnya kita menjadi “mangsa” dari operasionalisasi pasar narkoba ini.
 
Pertama: Pemerintah.
Untuk konteks Indonesia, penyebaran dan penggunaan narkoba yang terus meningkat dari tahun ketahun tidak terlepas dari posisi Indonesia sebagai mitra kerja negara lain dari bebagai aspek. baik sosial, ekonomi, maupun politik. Semua orang mengamini bahwa kerja sama antar negara penting untuk menunjang kemajuan sebuah negara dalam banyak aspek. Hanya dan melalui kerja sama antar negara kita bisa menikmati produk negara lain dan pada saat yang sama kita bisa menjual produk negara kita ke tempat yang lain. Proses transaksi barang dan jasa yang berlansung melalui proses kerja sama seperti ini pada akhirnya memacu pertumbuhan ekonomi masing-masing negara yang berimpilkasi lanjut pada kesejahteraan rakyat jamak. Pada konteks ini kita sepakat bahwa kerjasama antar negara adalah berkat bagi kita.
 
Lalu, bagaimana jika kerjasama tersebut justru di dalamnya terselubung dan tersembunyi kepentingan-kepentingan tertentu yang justru mengancam kesetabilan kehidupan kita sebagai sebuah negara seperti jual-beli narkoba? Banyak fakta menunjukan bahwa transaksi narkoba paling rentan dilakukan saat suatu negara termasuk Indonesia membuka lebar-lebar pintu kerja sama dengan negara lain tanpa diimbangi oleh peraturan yang ada untuk mengontrol sekaligus mengfilter setiap barang serta jasa yang masuk ke wilayah kita. Tertangkap dan tereksekusinya matinya sejumlah bandar norkaba negara asing di negara kita adalah titik simpul lengahnya pengawasan kita dalam menangkal hal-hal baru yang datang dari luar baik berupa barang dan jasa maupun subjek-subjek hukum tertentu. Kita apresiasi keseriusan Presiden Joko widodo menuntas setiap pengedar narkoba yang masuk ke Indonesia. Tetapi lebih penting dari itu adalah harus dipastikan keran yang membanjiri pengedaran narkoba masuk ke wilayah NKRI harus tertutup rapat.
 
Kedua: kemiskinan
Tidak bisa dinafikan persoalan kemiskinan adalah persoalan yang kompleks. Kemiskinan sering kali berbuntut pada terciptanya masalah baru yang “mengekorinya” seperti tindakan kriminal dan persolan sosial lainnya. Pecandu dan pengguna narkoba yang kian “membengkak”saat ini tidak terlepas dari persoalan kemiskinan yang terlebih dahulu menimpa dirinya. Dalam konteks ini ada dua poin penting yang menurut analisis penulis menjerumuskan seseorang yang secara ekonomi dikategorikan sebagai rakyat miskin mudah menjadi objek sekaligus subjek dari pasar narkoba yang semakin luas operasinalisasinya di Indonesia. Pertama, situasi kemiskinan yang bagi sebagian orang menjenuhkan lantaran harapan untuk hidup lebih baik serasa panggang jauh dari api, konsumsi narkoba menjadi obat penenang yang membuat hidup menjadi semakin bergairah dan sedikit melupakan situasi kemiskinan yang melilitinya. Kedua, dalam situasi yang sama (derita kemiskinan ) menjadi pengedar narkoba menjadi pilihan terakhir untuk memperbaiki taraf hidup yang lebih baik dari sebelumnya.
 
Ketiga: lingkungan
Ketika disandingkan dengan karakter seseorang, lingkungan menjadi kian “sexi”dan sensitif. Betapa tidak karakter seseorang ditengah masyarakat atau dimanapun dia berada selalu diasosiasikan dengan lingkungan tempat tinggalnya. Terkesan menggeneralisasi, tetapi kita tidak boleh menutup mata untuk satu dua fakta membenarkan hal tersebut. Lantas, jika lingkungan adalah sebuah kelompok sosial yang menjadi pusat pasaran narkoba tidak menutup kemungkinan warga kelompok sosial dari lingkungan tersebut menjadi pecandu atau pengguna narkoba. Demikianpun sebaliknya, lingkungan yang kondusif, dimana pola hidup sehat menjadi pilihan setiap anggota kelompok maka akan tergambar dengan sendirinya watak dan karakter dari orang yang tumbuh dan di besarkan dari lingkungan tersebut.
 
Keempat: keluarga
Potret kelurga seringkali menjadi barometer untuk mengafirmasi tindakan dan perilaku seseorang. Situasi dan suasana keluarga yang kondusif tentu berpengaruh pada output, dalam hal ini perilaku dan sikap anak. Demikianpun sebaliknya. Dalam konteks masalah narkoba, banyak kesaksian yang membenarkan bahwa suasana keluarga menjadi salah satu faktor utama yang membuat seseorang dengan mudah menikmati dunia narkoba. Sampai di sini kita ditantang, bagaimana penataan dan kontruksi kelurga kita masing-masing? Bagaimana fungsi dan peranan keluarga sebagai tempat pertama dan utama tersalurnya Pendidikan dalam banyak hal, ditentukan oleh imunitas anak dalam menangkal setiap hal-hal negatif yang ada di depanya termasuk trend umtuk menjadi pemakai norkoba.
 
Apa yang harus dilakukan?
Sebagaimana yang telah penulis kemukakan pada bagian awal tulisan ini bahwa menuding pihak tertentu sebagai sumber utama merajalelanya kasus narkoba di Indonesi tanpa komitmen bersama untuk memeranginya hanya akan memperdalam “lubang” persolan akut ini. Sekarang adalah saatnya kita bergandeng tangan, melepaskan ego masing-masing untuk melakukan tindakan preventif sekaligus kuratif sebagai upaya menuntaskan rantai panjang kasus narkoba ini. Benar bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab besar terhadap persolan bangsa, apalagi dalam konteks kasus narkoba yang telah dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa dalam sebuah negara; tetapi jangan lupa, peran pemerintah yang sentral dan strategis itu hanya akan berfaedah dalam bingkai kerja sama yang intens antara semua elemen bangsa.
 
Karena itu, penting untuk digarisbawahi bahwa kerja sama antara setiap elemen itu harus diusahakan seutuh mungkin sehingga sinkron dengan hasil yang ingin dicapai. Dalam konteks peran pemerintah misalnya, partisipasi setiap elemen itu harus tergambar dari responsif yang diberikan dalam setiap kebijakan yang “ditelurkan”. Jika kita apatis dan tidak menghargai setiap peraturan yang ada maka jangan heran jika setiap saat kita dikagetkan dengan isu narkoba yang menyerang hampir setiap elemen dan golongan masyarakat. Lebih pelik lagi, kasus narkoba ini didominasi oleh mereka yang tergolong dalam usia produktif, anak sekolah, dan mahasiswa yang adalah tonggak utama pembanggunan Bangsa. Maka jika kita apatis dan tidak peka, sama halnya kita membiarkan rumah bersama yang bernama Indonesia ini menjadi sarang narkoba.
 
Efektivitas kerja sama ini juga sangat dimungkinkan dengan keberanian dari setiap orang untuk mengkritisi setiap kebijakn dan peraturan yang serampangan dalam konteks menangkal peredaran dan penggunaan narkoba. Dalam konteks ini penulis merasa perlu memberikan keritikan terhadap aturan pengamanan arus masuknya hal-hal baru dari luar ke Indonesia. Pengaman yang ada hemat saya terkesan “lunak” dan politis. Indikasi dari kelunakan dan dipolitisasinya aturan yang ada terindikasi dari Kongkalikong yang melibatkan banyak pihak termasuk para penjabat di negeri ini. Di sini fenomena suap-menyuap rentan terjadi untuk meloloskan masuk dan keluarnya hal-hal baru yang tidak terlegitimasi.
 
Senada dengan itu penulis merekomendasikan, kebijakan Presiden Joko Widodo yang membebaskan visa terhadap sebagian WNA untuk datang ke Indonesia perlu ditinjau kembali dalam konteks pengedaran narkoba yang melibatkan banyak warga negara asing. Jika intensi pemerintaha adalah memantik kedatangan WNA untuk berkunjung ke Indonesia, tidakkah lebih baik dengan terus mempromosikan kekayaan-kekayaan yang ada di mata dunia, ketimbang dengan membebaskan visa?
Kembali ke soal sinergitas atau kerja sama dalam menanggulagi kasus narkoba yang terus menjelit kehidupan kita, faktor-faktor lain yang menjadi akar masalah dari persoalan ini, sebagaimana yang penulis uraikan sebelumnya seperti kemiskinan, lingkungan dan keluarga harus menjadi agenda utama pemerintah dengan semua yang berkepentingan untuk diatasi sedini mungkin. Dalam konteks kemiskinan pemerintah pertama-tama harus megusahakan kesejahteraan rakyatnya dengan menyedikan lapangan kerja, upah yang maksimal serta kesempatan yang luas untuk mengenyam pendidikan.
 
Dari rakyat sendiri harus ada keinginan dan daya juang yang besar untuk benar-benar lepas dari rantai kemiskinan. Fasilitas yang disediakan pemerintah harus benar-benar dioptimalisasikan untuk suatu keadaan yang lebih baik. Dalam bidang Pendidikan, pemerintah harus menggenjot biaya Pendidikan yang “melangit” bagi peserta didik; program-program Pendidikan tidak boleh melulu pada pertimbangan akademik semata; tetapi harus juga berorentasi pada pembentukan karakter seseorang yang imun terhadap hantaman badai zaman yang semakin mencekam ini termasuk narkoba. Jika kita sampai pada keadaan seperti ini tawaran untuk menikmati dan mengonsumsi narkoba dengan label kemiskinan bisa diminimalisir.
 
Lalu bagamaina upaya menciptakan lingkungan yang bebas narkoba? Menyedikan ruang terpadu ramah anak (Rpetra) yang menjadi salah satu program Gubernur DKI Jakarta, Ahok-Djarot untuk setiap Rt dan Rw adalah salah satu hal yang perlu diteladani oleh setiap pemimpin di Negeri ini. Melalui fasiliatsas seperti ini anak-anak dibiasakan untuk sedini mungkin mencintai dan belajar untuk hidup sehat. Lebih dari itu, faktor interen yaitu komitmen dan konsistensi dari anggota kelompok masyarakat tersebut untuk menciptakan sebuah iklim lingkungn yang sehat jauh lebih menentukan dari pada keterlibatan pihak lain dan pemerintah sendiri. Demikianpun dengan llingkungan keluarga. Keluarga sebagai entitas awal sebuah kehidupan, di mana setiap prinsip dan nilai-nilai kehidupan bersemai harus betul-betul menjadi wadah yang imun terhadap setiap badai persolan yang melunturkan peradapan kita termasuk narkoba.
 
Akhirnya, persoalan menuntaskan narkoba adalah persoalan partisipasi dan kerja sama. Pastikan setiap elemen merasa terpangil untuk memerangi hantaman narkoba yang mematikan ini ketimbang meleparkan tudingan ke pihak-pihak tertentu. Mari kita bergandeng tangan, satukan hati dan pikiran perangi narkoba. Tingkatkan kebiasaan untuk hidup sehat, gunakan prestasimu untuk membanggakan keluarga, lingkunagan dan negara dalam konteks yang lebih luas.

  • view 58